Pribadi Puasa, Pribadi Peka

Direktur Eksekutif Trilogia Institute / Anggota MUI 2015-2020, Muh Fitrah Yunus.

Oleh: Muhammad Fitrah Yunus*

Jika seksama kita memahami puasa yang sedang kita jalankan saat ini, maka yang kita temui adalah kehati-hatian, kekhawatiran apakah puasa yang kita jalankan diterima atau tidak oleh sang Khalik. Apakah kita hanya menghabiskan waktu dan energi berpuasa, namun tak meraih apa-apa sedikitpun.

Dalam hadits yang diriwayatkan At-Thabrani , “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga”. Hadits ini memberikan peringatan bahwa banyak sekali orang yang tidak mengenal maupun memahami substansi puasa.

Puasa, terlebih di bulan Ramadhan, hanya menjadi rutinitas tahunan yang dijalankan umat muslim dunia pada umumnya, dan sebagai umat muslim harus ikut berpuasa tanpa memahami, sesungguhnya, apa sebenarnya substansi puasa, apa sebenarnya pengaruh puasa dalam diri dan untuk orang lain.

Realitas kekinian tak dapat memungkiri hal itu, bahwa memahami puasa sebagai jalan kontrol atas segala hal negatif yang didorong dari nafsu manusia adalah sebuah tantangan bagi setiap individu yang disebut orang muslim yang beriman. Jika hanya mendapat lapar dan dahaga saja, maka sama halnya dengan kesia-siaan.

Substansi Puasa
Dari asal katanya saja, shaum, puasa memiliki makna menahan diri. Yaitu menahan diri dari nafsu bilogis seperti makan, minum dan seksual, yang merupakan level terendah dari puasa. Level tertingginya, yaitu menahan segala nafsu negatif, tindakan negatif yang merugikan orang banyak, bahkan untuk dirinya sendiri.
Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa puasa bukanlah sekedar hanya menahan diri dari makan dan minum sejak terbit matahari sampai terbenam, tapi tujuannya jauh dari itu.

Tujuannya adalah mendidik jiwa, membiasakan manusia mengalahkan hawa nafsu dan mengendalikan kecenderungan- kecenderungannya, supaya menjadi manusia yang kuat, yang sanggup mengatasi perasaan-perasaan hati yang sering mendorong berbuat salah, menghadapi segala sesuatu dengan sabar.

Artinya, bahwa segala potensi-potensi keburukan yang datangnya dari dalam diri manusia (nafsu), akan dapat dibentengi dengan aktivitas puasa. Bahkan potensi kotornya hati dalam membicarakan orang lain, baik ghibah mapun fitnah juga dapat dibentengi dengan sebetul-betulnya, sekhusyuk-sekhusyuknya puasa.

Kepekaan Sosial
Puasa itu memupuk, yaitu memupuk kesadaran bahwa manusia itu memiliki iman. Semakin imannya itu kuat semakin kuat pula kesadarannya atas realitas sosial.
Puasa tidak hanya mendorong hubungan manusia dengan Tuhannya (vertical), namun juga hubungannya dengan sesame manusia. Sehingga, puasa itu juga memupuk kepekaan manusia atas segala masalah sosial yang terjadi.

Misalnya saja kemiskinan, dalam puasa kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan kaum dhuafa di negeri ini. Hal itu membangun kesadaran dan kepekaan bahwa sebagai sesama manusia, kita harus ikut membantu, meringankan beban mereka. Itulah mengapa ada kewajiban zakat di penghujung bulan Ramadhan yang wajib dipenuhi umat muslim yang berpuasa.

Namun tidak hanya sampai di situ, nilai membantu di sini bukan hanya membantu di bulan Ramadhan saja, tapi jiwa sosial maupun kepekaan sosial itu harus terus dipupuk agar terus tumbuh di hari-hari manusia sebagai makhluk sosial. Kepekaan sosial juga bukan hanya dinilai sebagai memberi bantuan, tapi ada nilai adab, etika, kesantunan di dalamnya.

Dalam kehidupan bermasyarakat tentu sebagai orang yang memiliki iman juga semestinya memiliki adab, etika, sopan santun yang dikedepankan sesama manusia. Realitas sosial saat ini bisa dikatakan masih tuna adab, tuna etika, tuna kesantunan, yang semestinya di bulan Ramadhan ini menjadi titik kembali agar nilai-nilai itu diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan, “Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan harta berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sunggu bohong bila mengaku memiliki iman yang sempurna”

Penyampaian di atas tentu menjadi kritik yang tajam bagi setiap umat muslim yang kepekaan sosialnya sangat kurang. Tidak sedikit manusia yang mengatakan dirinya beriman, namun apatis, acuh, dengan realitas sosial yang serba minus, apalagi di tengah kondisi pandemi saat ini.

Misalnya shalat. Tidak ada yang tahu tujuan shalat secara spesifik, terutama alasan mengapa jumlah raka’at shalat dibatasi dan tidak boleh ditambah dan dikurangi. Akan tetapi, tujuan umum shalat masih dapat dirasionalkan dan dipahami melalui penjelasan al-Qur’an dan hadis. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS: Al-‘Ankabut: 45).

Itu artinya, shalat memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan sosial. Seseorang mampu mencegah dirinya dalam perbuatan tercela, perbuatan yang mungkar. Ustad Adi Hidayat mengingatkan bahwa jika seseorang shalatnya benar, maka benar pula semua kehidupannya. Artinya, jika ada seseorang yang melaksanakan shalat tapi masih bermaksiat, melakukan hal-hal yang tercela, maka sesungguhnya ada yang salah dengan shalatnya. Semoga puasa jadikan kita pribadi yang peka.

*Penulis merupakan Direktur Eksekutif Trilogia Institute