Evaluasi Pembelajaran Daring Selama Pandemi

Oleh: Hj. Helda Rahmawati, S.Sos. S.Pdi

Adanya wabah pandemi Covid-19 telah memaksa siswa dan guru lebih mengakrabi teknologi. Sebab, pembelajaran jarak jauh (PJJ) saat ini menjadi opsi terbaik. PJJ dipilih karena pembelajaran harus tetap berjalan, sedangkan upaya menekan penyebaran virus
Covid-19 juga harus dilakukan. Namun pada prosesnya, PJJ belum semuanya sesuai dengan yang diharapkan.

Belum sesuai dengan konsep kelas virtual sebagaimana idealnya sekolah daring. Ada guru yang masih sebatas memberikan tugas kepada anak didik lewat WhatsApp. Komunikasi pun hanya berjalan sepihak.Artinya, tidak ada komunikasi secara langsung antara siswa dan guru. Padahal itu penting dalam proses pembelajaran. Meski tidak berada di lokasi yang sama, mestinya dalam pembelajaran daring guru bisa membimbing siswa secara langsung. Pembelajaran daring tentu memerlukan pemanfaatan teknologi informasi yang masif.

Pembelajaran yang mulanya meminoritaskan peran teknologi dan mengandalkan tatap muka di kelas harus diubah secara drastis dengan mempercepat atau mengakselerasi pendidikan 4.0. Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia,metode pembelajaran daring ini mengganti segala bentuk kegiatan akademik di sekolah yang bersifat tatap muka dengan pembelajaran virtual. Untuk mendukung berbagai aktivitas pembelajaran daring banyak dinas pendidikan dan sekolah yang pada akhirnya secara khusus menyiapkan portal Learning Management System (LMS) dan sumber belajar digital.

Makin maraknya konsep kelas belajar virtual ditengah pandemi Covid-19 maka apa dampak nyata pembelajaran daring yang sesungguhnya terjadi.?

Perubahan Rasional

Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) faktanya telah membuat siswa untuk terbiasa menunda menyelesaikan setiap pekerjaan. Banyak para siswa yang akhirnya sering mengalami tertinggal tugas, tidak mengikuti pelajaran menyimak. Hal ini pun turut mempengaruhi kesinambungan pola pikir setiap siswa terhadap setiap materi pelajaran. Jangankan memahami tematik besar dari bab per bab isi buku pelajaran, terkadang siswa juga lupa materi pelajaran terdahulu yang diajarkan oleh guru satu hari sebelumnya.

Mengevaluasi pengembangan sistem PJJ yang dikembangkan selama masa pandemi Covid-19 maka secara rasional dapat terjelaskan jika ada banyak pekerjaan rumah yang nantinya harus dikejar oleh setiap guru andai pelaksanaan tatap muka sekolah kembali dilaksanakan. Secara implementasi ada perubahan emosi rasional yang secara alami telah mengubah watak psikologis banyak siswa yang mengalami ketergantungan pendidikan virtual.

Sesuai dengan sinyal dari Menteri Pendidikan Republik Indonesia bahwa sekolah bisa tatap muka jika program vaksin untuk guru sukses, maka semua sekolah tentunya akan bersiap-siap dalam melaksanakan proses pembelajaran secara langsung. Terlepas dari
seperti apa model pembelajaran tatap muka yang akan dilakukan, semua elemen guru di Indonesia dapat dipastikan akan siap menerima pelaksanaan proses belajar mengajar secara langsung. Lantas bagaimana dengan siswa.?

Muncul kekhawatiran besar jika para siswa pada akhirnya akan tergagap saat masuk sekolah. Bukan hanya dalam hal akademik, namun juga dalam hal perilaku, seperti daya konsentrasi, minat belajar, kedisiplinan, kemandirian, dan kepatuhan terhadap proses belajar mengajar. Karena penggunaan gawai dengan durasi yang panjang dalam keseharian anak membuat anak kurang terstimulasi panca inderanya. Hal ini bagaimanapun cukup menghambat tumbuh kembang siswa, baik aspek motorik, bahasa, sosial, dan emosi. Ketergantungan terhadap media pembelajaran gawai akan membuat merasakan kehilangan sumber belajar terbaiknya.

Pasca-PJJ, diharapkan setiap sekolah dapat bersikap sabar memulihkan kesehatan mental anak dan tidak terburu-buru untuk mengejar pencapaian akademik. Bukan hanya berdampak pada kesehatan, tapi kepada aspek finansial dan juga pada kondisi psikologis siswa , termasuk orang tua yang pada akhirnya merasa berat untuk meninggalkan anaknya untuk dapat secara normal mengikuti proses pembelajaran tatap muka secara langsung.

Sebagai langkah antisipasi kakunya proses belajar dan mengajar tatap muka secara langsung pihak pimpinan sekolah memberikan edukasi kepada guru, sekaligus memberikan ketenangan kepada mereka bahwa sebelum sekolah memicu pencapaian akademik, penting sekali untuk memulihkan kesehatan mental siswa lebih dahulu. Karena kesehatan mental ini pada dasarnya akan mempengaruhi keterampilan belajar siswa. Semakin ada energi positif dalam diri anak, maka siswa akan semakin terampil belajar.

Karenanya hal penting jika dalam tugas guru pasca-PJJ ini lebih ke memulihkan kesehatan mental anak, maka sebagai pimpinan sekolah kita perlu memperhatikan kondisi emosi yang terbangun pasca PJJ. Komunikasi publik yang efektif dan akurat sejak awal
sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan berbagai kalangan terhadap kapasitas pemerintah menangani pandemi Covid-19. Hal ini merupakan salah satu aspek manajemen respons pandemi. Aspek lainnya berupa mobilisasi sumber daya dalam penanganan Covid-19, sistem sumber daya kesehatan, dan sumber daya lainnya untuk menangani dampak pandemi perlu untuk dikembangkan secara lengkap dan tersistem.

Persiapan Matang
Salahsatu elemen yang sepertinya masih kurang dipersiapkan selama pandemi Covid-19 adalah soal kelengkapan ketersediaan APD (alat pelindung diri) dan peralatan kesehatan serta pendistribusian merata ke seluruh wilayah Indonesia. Di awal pandemi,
kekurangan logistik ini menjadi hal yang mengemuka dan menimbulkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan penanganan Covid-19 oleh pemerintah, namun dalam perkembangan hal ini sudah mulai teratasi. Serta kelembagaan manajemen
krisis yang solid menyebabkan kegagapan di awal pandemi.

Untuk penguatan respons, aspek yang diperhatikan mencakup; pertama, sistem dan kelembagaan krisis yang responsif. Sistem koordinasi dan kolaborasi antara kewenangan antar-instansi dan antar-pemerintahan, serta keterlibatan lembaga masyarakat. ketiga, kepemimpinan krisis efektif. Pandemi Covid-19 menjadi ujian bagi sistem dan kelembagaan manajemen krisis tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh penjuru dunia.

Kajian awal atas sistem respons klinis di berbagai negara menunjukkan kegagapan menghadapi Covid-19 di Indonesia, situasi ak kalah berbeda; respons pemerintah menunjukkan ketidakpastian untuk menetapkan langkah kebijakan untuk merespons merebaknya pandemi, karena masih terbatasnya pengetahuan tentang Covid-19.

Mengingat kasus Covid-19 masih belum tuntas setelah lebih dari satu tahun, kajian atas bagaimana sistem respons krisis bekerja menjadi sangat penting guna perkembangan kelembagaan yang lebih adaptif dan efektif. Penanganan Covid juga membutuhkan sumber daya kesehatan yang besar, melihat virus ini cepat menyebar dan menular. Khususnya bagi para tenaga kesehatan (nakes), jika tidak tersedia APD yang memadai mereka akan sangat rawan terpapar dan bahkan mengalami fatalitas akibat penularan. Tercatat, ribuan nakes tertular dan bahkan meninggal dunia akibat Covid-19. Selain APD, sumber daya kesehatan
juga mencakup ruang perawatan dan obat-obatan.

Mengantisipasi adanya kegagapan dan kelambatan respons terutama di awal masa pandemi, maka pemerintah baik pusat dan daerah harus menerapkan karakter institutional learning untuk mengelola manajemen respons pandemi di Indonesia utamanya dalam proses belajar mengajar. Mengingat dinamika pandemi masih berlangsung sampai saat ini, maka berbagai kelemahan mendasar dalam aspek-aspek manajemen respons dan persiapan harus menjadi hal yang diperhitungkan secara matang demi tercapainya pelaksanaan proses belajar mengajar yang baik dan sehat.

Penulis adalah Guru PNS MAN 1 Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan