Dua Serangan Muncul, Pengamat: Bukti Kelompok Teroris Masih Eksis

Kelompok pengusung ideologi teror dinilai masih eksis di Indonesia, termasuk dengan menggunakan strategi lone wolf.

Ketua Setara Institute Hendardi (dok: Tribunnews)

MONITOR, Jakarta – Masyarakat Indonesia digemparkan dua serangan teror di gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri. Aparat menyatakan dua serangan ini dilakukan oleh pelaku terorisme lone wolf.

Diketahui, lone wolf merupakan strategi mutakhir di kalangan kelompok dan jaringan teroris yang tindakannya dapat dilakukan sendirian.

“Strategi tersebut memungkinkan siapa saja menjadi aktor teroris,” kata Hendardi, Ketua SETARA Institute, Jumat (2/4/2021).

Serangkaian teror yang terjadi di Makassar dan Jakarta ini, dikatakan Hendardi, menjadi bukti bahwa kelompok pengusung ideologi teror masih eksis di Indonesia, termasuk dengan menggunakan strategi lone wolf.

Ia mengungkapkan Jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) merupakan salah satu jaringan terorisme yang paling menonjol mengadopsi strategi lone wolf dalam menjalankan tindakan teror.

“JAD mengkapitalisasi pesatnya perkembangan teknologi informasi dan memanfaatkannya secara efektif untuk melakukan proses radikalisasi di ruang publik dengan menyasar kelompok-kelompok spesifik, yang memiliki potensi transformasi secara cepat untuk menjadi intoleran aktif, radikal, lalu jihadis dan melakukan amaliyah teror,” terang Hendardi.

Hendardi menambahkan eksistensi kelompok teroris ini terjadi karena mengendurnya kepekaan dan melemahnya partisipasi masyarakat. Di sisi lain, berkembang upaya untuk mendelegitimasi tindakan polisional oleh institusi-institusi keamanan negara dalam menangani terorisme.

“Hal itu mendorong masyarakat menjadi permisif, karena berkembang persepsi bahwa terorisme adalah konspirasi atau rekayasa pihak-pihak tertentu,” kata Hendardi.