Sinergi Pemerintah dan Lembaga Zakat Selamatkan Bangsa dari TBC

Sejumlah pakar kesehatan memaparkan upaya penanggulangan TB di rangkai dalam webinar TB Day, Jakarta (Rabu, 31/03) 

MONITOR, Jakarta – Pada 2020 Dompet Dhuafa menginisiasi program Kawasan Sehat yang bertujuan untuk  menciptakan kawasan yang memiliki indikator-indikator kesehatan tertentu yang  dicapai melalui kegiatan pemberdayaan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia,  pengelolaan sumber daya lokal dan kemitraan.

Pos Sehat dibentuk sebagai pusat  pengembangan Program Kesehatan Kawasan minimal setingkat RW. Salah satu  indikatornya adalah Pengelolaan pasien Tuberkulosis (TBC) pendampingan pengobatan penderita TBC sampai sembuh yang berbasis masyarakat. 

Langkah upaya upaya mendukung program eliminasi TB di Indonesia, Dompet Dhuafa melalui LKC Dompet Dhuafa telah melakukan program penanggulangan penyakit TBC sejak tahun 2004-2020 bermitra dengan kementerian kesehatan, Aisyiah, LKNU dan mitra  Dompet Dhuafa lainnya, fokus program pada pemberdayaan masyarakat berupa TBC komunitas dengan kegiatan berupa pelatihan dan pemberdayaan kader TBC, kontak investigasi, active case finding dan membentuk pusat informasi TBC masyarakat yang  berada di Pos Sehat dan Desa/kelurahan di wilayah program TBC serta konfirmasi  diagnostik, edukasi dan pelatihan PMO serta pemantauan pengobatan sampai sembuh dilayanan satelit kesehatan Dompet Dhuafa.

Menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, selaku Direktur P2PMI, Kementerian Kesehatan RI dalam acara webinar TB Day pada Rabu (31/03/2021) mengatakan, terdapat enam langkah upaya strategi penanggulangan TBC 2020-2024, dimulai dari penguatan pemimpin program pada tingkat pusat, provinsi dan kabupaten maupun kota, peningkatan akses pelayanan Tuberkulosis yang bermutu dan berpihak pada pasien, lalu peningkatan upaya promosi, pencegahan, pemberian obatan pencegahan dan pengedalian infeksi, pada strategi keempat pemanfaatan hasil riset dan teknologi skrining, diagnosis dan tata laksana Tuberkulosis, sementara pada strategi kelima peningkatan peran serta komunitas, mitra dan sektor lainnya, dan pada strategi keenam penguatan manajemen program melalui penguatan sistem kesehatan.

Namun dari semua strategi dan upaya dalam penanggulangan TB di Indonesia.

“Terdapat tantangan dan hambatan yang ditemui terutama di lapangan, mulai dari terhambatnya kegiatan Investigasi Kontak (IK) , beban ganda petugas TB dengan Covid-19, keterbatasan fasilitas kesehatan yang melayani TB RO hingga stigma masyrakat tentang TB RO,” tambah dr. Siti Nadia Tarmizi.

Direktur P2PML kemenkes  juga menyampaikan apresiasi atas peran dan kontribusi Dompet Dhuafa sejak 2004 sampai saat ini dengan kemitraan strategis dan program dukungan kesehatan dan non kesehatan yg mendukung upaya eliminasi TBC 2030. 

Tuberkulosis dengan Covid-19 mempunyai perbedaan yang sangat tipis, hal ini dipaparkan oleh DR. Dr. Anna Rozaliyani, M. Biomed, Sp. P(K) selaku perwakilan Persatuan Dokter Paru Indonesia.

“Bahwa masyarakat harus mengenali perbedaan gejala TB dan Covid-19, terutama pada sakit kepala bila dalam TBC tidak ada namun pada Covid-19 sering dikeluhkan, batuk pada TBC batuk kronik dapat berlangsung lebih dari 2 minggu sementara pada Covid-19 batuk tiba-tiba dan kering, namun akan berdahak bila pada kasus yang berat, nyeri tenggorokan tidak ditemukan pada TBC namun sering terlapor pada kasus Covid-19, berat badan, keringat malam hingga nafsu makan menurun ini sering ditemui pada kasus TBC akan tetapi tidak pada kasus Covid-19, sementara sesak nafas pada kasus TBC ada namun konstan akan tetapi pada kasus Covid-19 sesak akan memburuk pada hitungan hari,” ungkapnya.

“Masyarakat umum harus menjadi garda terdepan dalam penanggulangan TB selanjutnya terdapat peran tokoh masyarakat, mitra kesmas hingga fasiltas pelayanan kesehatan, puskesman dan klinik sementara pada benteng terakhir terdapat Rumah sakit baik non rujukan maupun rujukan,” tambah DR. Dr. Anna Rozaliyani, M. Biomed, Sp. P(K).

Sementara di sisi lain dr. Yeni Purnamasari, MKM selaku GM Divisi Kesehatan Dompet Dhuafa, mengatakan, “Dengan melihat dari kasus TB yang terjadi di Indonesia, ternyata mempunyai dampak sosial-ekonomi yang dapat di timbulkan oleh pasien yang mengidap penyakit TBC antara lain biaya yang dikeluarkan baik untuk transportasi menuju pengobatan hingga biaya tambahan selama pengobatan, hilangnya produktifitas pada usia produktif dikarenakan sakit serta pre mature death”. 

“Berbagai tantangan dalam penanggulangan TB di masyarakat yang ditemui dilapangan adalah terbatasnya dukungan keberhasilan pengobatan diantaranya akses transportasi, kebutuhan hidup, rumah singgah, atau tempat selama pengobatan, di sisi lain masih terdapat stigma negatif di masyarakat, dukungan psikososial dan ekonomi terbatas, tidak ada program pemberdayaan pasca pengobatan hingga perlu penguatan advokasi akses UHC dan pengambil kebijakan”

“Hal tersebut menjadi dasar perencanaan program berkesinambungan dikawasan sehat oleh Dompet Dhuafa dengan output program kawasan bebas TBC di 12 Wilayah LKC dompet Dhuafa di 12 Provinsi di Indonesia. Capaian tersebut dimulai dengan aktivasi edukasi dan pelatihan kader, temuan dan investigasi kasus dan follow up kasus TB di wilayah kawasan bekerjasama dengan puskesmas. Juga sudah dimulai dukungan nutrisi berupa paket gizi bagi 121 pasien TBC SO (sensitif Obat) dan RO (Resisten Obat) di wilayah kawasan sehat LKC Dompet Dhuafa”

Sementara di lokasi lain, tepatnya di Sulawesi Selatan, Asdin perwakilan Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Sulsel menyampaikan aktivitas kegiatan yg dilakukan di kawasan sehat.

“Kami hari ini bersama puskesmas dan DDV Sulsel meninjau salah satu pasien TB di RW 02, Keluarahan Pandang, Panakkukang, Sulawesi Selatan, selain kegiatan kujungan ketuk pintu, kami juga mengedukasi kepada pasien TB. Serta pemberian asupan gizi kepada pasien TB, ini merupakan bentuk dukungan dan pendampingan selama satu tahun kedepan.  

Zulfiani perwakilan keluarga pasien TB, mengucapkan “terima kasih Dompet Dhuafa dalam membantu dan memperhatikan kami semoga sehat semua”.

Upaya ini perlu terus dilanjutkan dengan peran dan kolaborasi semua pihak secara berkesinambungan dan dampak pandemi covid 19 tidak menghambat upaya penanggulangan TBC di Indonesia. Karena setiap detik berharga. Selamatkan Bangsa dari Tuberkulosis.