Bom Makassar, Negara Dinilai Kecolongan Tak Pakai Sistem Deteksi Dini

Ilustrasi penjagaan aparat setelah kejadian bom bunuh diri di Makassar/ dok: kabar24

MONITOR, Jakarta – Pengamat terorisme dari UIN Jakarta, Robi Sugara, menilai aksi teror yang terjadi di gereja Katedral Makassar merupakan bukti lemahnya penanganan terhadap bibit-bibit terorisme di Tanah Air.

Dalam penanganan aksi teror, Robi menyatakan seharusnya negara memanfaatkan sistem deteksi dini agar tidak kecolongan atas aksi-aksi para teroris.

“(Negara) kecolongan karena sistem penanganannya tidak menggunakan sistem deteksi dini,” kata Robi Sugara saat dihubungi MONITOR, Senin (29/3/2021).

Sementara itu, Robi mencontohkan banyak para pelaku teror mengontrak rumah di daerah tersebut. Namun hal tersebut tidak terdeteksi oleh Badan Intelijen Negara.

“Jadi sistem pencegahannya tidak sampai kesana, padahal ini tidak terjadi,” kata Dosen Hubungan Internasional UIN Jakarta ini.

Sebagaimana diketahui, salah seorang terduga aksi bom bunuh diri di depan halaman gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/3/2021) lalu, telah menulis surat wasiat kepada orang tuanya sebelum melakukan aksi.

Mereka ditengarai pasangan suami istri yang baru beberapa bulan menikah, dan suaminya yang berinisial L telah menulis surat wasiat kepada orang tuanya.