Kamis, 29 Juli, 2021

Sumringah Warga Pelosok NTT Nikmati Akses Listrik

MONITOR, Adonara – Masyarakat pelosok daerah kini sangat menikmati hadirnya listrik di tempat tinggal mereka. Sebut saja Siti Aminah Muhammad (37 tahun), perempuan paruh baya ini tinggal di desa Lamahala Jaya, Adonara Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengaku senang karena keberadaan listrik sangat membantu sendi-sendi kehidupan masyarakat di daerahnya.

Saat malam tiba, Aminah mengaku tak ada lagi warga yang ketakutan menghadapi gelap gulitanya kondisi desa mereka. Anak-anak kecil masih senang beraktivitas ketika malam hari. Warga pun masih asyik bercengkarama menghabiskan malam bersama tetangganya.

“Pemanfaatan listrik di desa Lamahala sangat membantu, karena sebagai alat penerang saat malam tiba,” tutur Aminah ketika diwawancara MONITOR, melalui perangkat videocall Whatsapp, Minggu 28 Februari 2021.

Kegiatan masyarakat setempat juga terbantu berkat aliran listrik di kawasan tempat tinggal mereka. Tak hanya mendukung aktivitas perkantoran saja, Aminah mengakui listrik sangat diandalkan warga untuk menopang dan menunjang perekonomian mereka. Bagi perempuan berparas manis ini, ketersediaan listrik menjadi ‘jantung’ bagi segala lini kehidupan warga Lamahala.

- Advertisement -

Listrik juga sangat membantu menunjang aktivitas belajar anak-anak di masa pandemi ini. Mengingat, kata Aminah, anak-anak di desanya masih mengikuti kebijakan pembelajaran jarak jauh atau PJJ. Para siswa maupun guru mengandalkan internet dan listrik untuk menunjang proses belajar mengajar selama masa pandemi Covid-19.

Lagi-lagi, Aminah bersyukur berkat adanya listrik di desanya, warga bisa mudah menjalankan runitinas dan menikmati akses listrik dengan sebaik-baiknya.

“Apalagi di era pandemi Covid-19, anak-anak dituntut untuk belajar via internet. Bukan hanya anak-anak sih, tapi juga buruh pendidikan dan pekerja lainnya juga demikian,” terang Aminah.

Hal yang sama juga dirasakan Fahmi Lamarobak (32 tahun), warga desa Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia mengaku bersyukur tempat tinggalnya sudah lama mendapatkan akses listrik.

Fahmi merasa keberadaan listrik di desanya sangat menunjang infrastruktur penerangan. Hampir semua barang-barang elektronik yang digunakan warga mengandalkan listrik. Jika listrik padam, tentu semua aktivitas akan terkendala.

“Manfaat lainnya ya tentu listrik sebagai sumber energi, banyak barang-barang yang kami gunakan itu menggunakan arus listrik seperti mesin cuci, mesin air, sound system, alat perlengkapan tukang yang menggunakan listrik semacam sekap listrik, bor listrik,” tutur Fahmi.

Listrik ‘Denyut Nadi’ Kehidupan

Pengakuan sekaligus potret kehidupan Siti Aminah dan Fahmi diatas, menunjukkan betapa pentingnya keberadaan listrik bagi kehidupan masyarakat. Kebutuhan listrik memegang peranan sangat vital bagi mereka untuk menggerakkan roda aktivitasnya.

Tak hanya masyarakat perkotaan saja yang membutuhkannya, masyarakat di desa bahkan di pelosok desa terpencil juga mulai sadar bahwa kebutuhan listrik sangat penting bagi mereka.

Cadangan energi listrik yang cukup mulai dari kawasan kota hingga pelosok desa akan sangat mendukung pertumbuhan industri, baik skala makro maupun mikro terutama di daerah-daerah. Ketersediaan listrik ini juga sangat mendukung kawasan ekonomi khusus, pariwisata, sentra perikanan dan lain sebagainya.

Sebagai BUMN yang mengurusi semua aspek kelistrikan di Indonesia, Perusahaan Listrik Negara atau PT PLN (Persero) berusaha hadir dan menjawab tantangan diatas dengan memberikan aliran listrik kepada desa-desa di wilayah terpencil.

Ini dibuktikan dengan hadirnya program pemasangan listrik baru yang mengaliri sebanyak 111 desa di wilayah timur, tepatnya provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di tahun 2020. Tak tanggung-tanggung, jumlah ini diklaim setara untuk menghidupi sebanyak 82.484 kepala keluarga (KK).

Dari pihak PLN, yang diwakili oleh General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT Agustinus Jatmiko menuturkan, upaya pemasangan baru ini diawali dengan membangun 664 kilometer sirkuit (kms) jaringan tegangan menengah (JTM), kemudian sebanyak 738 KMS jaringan tegangan rendah (JTR), serta 209 unit gardu. Walhasil, total listrik yang dapat disalurkan melalui jaringan ini sekitar 10.450 kilovolt Ampere (kVA).

Kerja keras PLN tentu harus diapresiasi, terlebih upaya yang mereka lakukan dalam rangka mempercepat peningkatan rasio elektrifikasi. Tak ayal, maka dalam lima tahun terakhir, PLN menyebut rasio elektrifikasi di provinsi NTT meningkat sebanyak 33,69 persen. Dari sebelumnya 52,47 persen, kini sudah mencapai 86,16 persen.

Komitmen PLN Terangi Nusantara

Masih teringat jelas saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, bersama Direktur Utama PT PLN (Persero), Zulkifli Zaini, meresmikan sejumlah proyek ketenagalistrikan nasional pada Kamis, 16 Juli 2020 lalu. Ikhtiar itu tentu tidak main-main atau asal-asalan.

Demi meningkatkan akses masyarakat terhadap energi listrik, pemerintah bahkan mati-matian bertekad memperluas rasio elektrifikasi hingga 100 persen pada 2020 dalam rangka mewujudkan energi berkeadilan di seluruh wilayah Indonesia, terutama menerangi wilayah terdepan, terluar dan tertinggal.

Dalam ekspektasi saya, proyek yang mencakup peningkatan akses dan keandalan pasokan listrik tersebut dapat mewujudkan rasio elektrifikasi 100 persen. Apalagi, Indonesia dikenal memiliki sumber daya alam yang cukup melimpah ruah, tak terkecuali stok energi.

Sehingga, negeri ini cukup layak dikatakan mampu untuk memperluas rasio elektrifikasi di seluruh penjuru daerah hingga 100 persen pada tahun 2021 nanti. Rasanya, mimpi dan target capaian tersebut tinggal selangkah lagi. Maju terus PLN! Semoga dapat terus berkomitmen untuk memenuhi hak dasar masyarakat, yakni mendapatkan akses listrik.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER