Komitmen Layanan Pendidikan pada Masa Pandemi

Indonesia sendiri terancam mengalami learning loss yang akan berujung kepada learning poverty

Peneliti Senior Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), Nurlia Dian Paramita. (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Krisis pembelajaran di masa pandemi menjadi tantangan di banyak negara. Kajian terbaru Bank Dunia menunjukkan bahwa secara global tingkat ketidakmampuan belajar atau kemiskinan belajar pada pendidikan di tingkat dasar di negara berpenghasilan menengah ke bawah meningkat 10 persen.

Dari 53 persen di tahun 2019 menjadi 63 persen karena masa pandemi. Di Indonesia sendiri terancam mengalami learning loss yang akan berujung kepada learning poverty (Amich Al-Humami, 30/12/20).

Anak terancam mengalami gagal belajar membaca yang mempengaruhi pemahaman mereka terhadap bahan ajar pada level selanjutnya. Untuk mengatasi kondisi krisis tersebut, metode pendidikan Indonesia mengalami perubahan signifikan. Proses ini didukung dengan metode pembelajaran yang berorientasi meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Melalui rilis nomor 002/sipres/A6/1/2021 Kemdikbud menyampaikan capaian metode pendidikan tahun 2020 yang mengalami banyak transformasi dan rencana pembelajaran di tahun 2021 yang diprediksi cukup mengalami banyak tantangan.

Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan Era Kabinet Indonesia Maju, mengatakan bahwa penyesuaian model pendidikan berbasis Merdeka Belajar menekankan transformasi proses yang menekankan siswa sebagai subjek pembelajaran. Hal ini mengalami momentum ketika masa pandemi Covid 19 mendisrupsi masyarakat Indonesia.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) meski mengalami kendala, terutama signal, koneksi dan juga adaptasi terhadap penggunaan teknologi gawai, merupakan pembelajaran yang dinilai paling aman. Kemdikbud me-redesain target pembelajaran melalui penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan mengganti Ujian Nasional (UNAS) dengan ujian di tingkat daerah yang disesuaikan dengan kondisi zona/rayon masing-masing.

Perubahan Simultan Pendidikan

Model pendidikan merdeka belajar sebagai konsep terobosan untuk memperbaiki kualitas anak didik Indonesia. Mendekatkan pada paradigma pedagogi yang senantiasa menekankan guru sebagai unsur penggerak dalam melakukan interaksi pembelajaran.

Di sisi lain, model ini juga melakukan perubahan secara menyeluruh seperti penggunaan fleksibilitas dana bantuan BOS yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah terutama diperbolehkan untuk peningkatan kesejahteraan guru honorer.

Kepala SMP Negeri 1 Banda, Maluku Tengah, Nurdin Achmad, mengatakan “kami sangat terbantu dengan kebijakan ini. proses pencairan yang dikirim langsung ke rekening sekolah menjadi tepat waktu dan sasaran berbasis kebutuhan sekolah”.

Termasuk bantuan dana BOS afirmasi dan BOS kinerja untuk mengurangi dampak keterpurukan ekonomi sekolah negeri dan swasta. Hal ini ditujukan untuk daerah yang membutuhkan dan paling terdampak.

Sebagai metode kultural belajar dengan dialektika sosial kemasyarakatan, Kemdikbud juga meluncurkan Program Organisasi Penggerak (POP). Meski kemunculan program ini ditentang oleh beberapa organisasi kemasyarakatan, namun tujuan program ini bermaksud mendalami realitas kondisi masyarakat dengan menjunjung tinggi keberagaman latar belakang budaya, suku dan agama masyarakat.

Keberlanjutan pembelajaran dari jenjang dasar menengah tentu akan sangat mempengaruhi dampak belajar pada masa ketika menempuh pendidikan sarjana maupun pascasarjana, termasuk menghadirkan para siswa Indonesia yang memahami nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.

Merdeka Belajar juga meluncurkan dana pendidikan bagi Perguruan Tinggi (PT) ini diharapkan agar muncul inovasi dan kreasi yang dilakukan mahasiswa.

Presiden Joko Widodo (6/1/21) menyampaikan bahwa “mahasiswa harus difasilitasi belajar kepada pelaku industri, wirausaha, praktisi pemerintahan dan pelaku lapangan lainnya”, senada dengan harapan Kemdikbud bahwa lulusan kampus juga harus siap menciptakan lapangan kerja.

Merdeka Belajar sebagai model untuk membuka ruang kejenuhan siswa dan guru yang selama ini terkungkung oleh sistem konvensional yang justru rumit dengan perihal administratif.

Selamatkan Pendidikan di Masa Pandemi

Kondisi persebaran Covid-19 yang masih belum sepenuhnya menemui fase puncak, tentu menjadi kekhawatiran banyak pihak untuk terus melakukan inovasi pembelajaran termasuk penekanan pelaksanaan atas protokol kesehatan yang ketat jika sekolah terpaksa melakukan aktivitas tatap muka.

Kemdikbud menghadirkan kurikulum dan modul pembelajaran kondisi khusus bagi guru, orang tua dan siswa untuk meringankan kesulitan pembelajaran di masa pandemi ini.

Selain itu juga memberikan bantuan untuk biaya perkuliahan kepada 410 ribu mahasiswa semester 3, 5 dan 7 kepada PTN dan PTS melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP). Hal yang tidak kalah penting adalah komitmen dalam menghadirkan kuota internet untuk mendukung belajar dari rumah.

Hingga saat ini 35,725 juta peserta didik dan tenaga pendidik telah menerima bantuan kuota data internet yang dikirim setiap bulannya. Dengan pelaksanaan transformasi pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan generasi emas unggul bangsa pada tahun 2021 ini Kemdikbud sudah mempersiapkan serangkaian upaya untuk pembiayaan pendidikan, layanan khusus pendidikan masyarakat dan kebencanaan dengan target 42.896 sekolah.

Hal ini nanti akan diperkuat dengan program digitalisasi sekolah dan media pembelajaran yang akan menghadirkan empat sistem penguatan platform digital, delapan layanan terpadu kemdikbud, kehumasan dan media, 345 model bahan ajar dan model media pendidikan digital, serta penyediaan prasana sekolah bagi 16.844 sekolah.

Dengan pemenuhan layanan pendidikan ini diharapkan anak-anak Indonesia mampu menerapkan konsistensi pembelajaran sehingga akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang lebih sejahtera dan bersaing unggul di kancah internasional.

Nurlia Dian Paramita

Peneliti Senior Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR)