Saksi Jatuhnya Sriwijaya Air: Seperti Kilat Disusul Dentuman Keras

"Saat itu hujan cukup besar, dan kami bertiga di tengah laut“

Ilustrasi: Sriwijaya Air

MONITOR, Jakarta – Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, tepatnya di daerah Pulau Lancang dan Pulau Laki, sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu (9/1/2021).

Seorang nelayan rajungan di sekitar perairan Pulau Lancang-Pulau Laki, Hendrik Mulyadi, menjadi saksi mata kejadian nahas tersebut.

Saat kejadian, Hendrik berada di lokasi yang diduga kuat menjadi lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Saat itu, Hendrik bersama dua rekannya.

“Saat itu hujan cukup besar, dan kami bertiga di tengah laut sedang konsentrasi mengambil bubu (alat penangkap rajungan), tiba-tiba ada seperti kilat ke arah air disusul dentuman keras, puing berterbangan sama air (berombak) tinggi sekali, untung kapal saya enggak apa-apa,” ungkapnya seperti dikutip dari Antara, Jakarta, Senin (11/1/2021).

Setelah rangkaian kejadian yang berlangsung kurang dari dua menit tersebut, Hendrik mengaku dirinya dan dua rekannya tidak bisa melakukan apa-apa selain bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi.

Hendrik menyampaikan, ia dan kawannya sempat mengira bahwa itu adalah bom yang jatuh dan meledak. Saat itu tidak terlintas di pikirannya bahwa itu adalah pesawat yang jatuh.

Sebab, menurut Hendrik, sesaat sebelum terjadi dentuman keras, tidak terdengar suara mesin pesawat dan tidak terlihat juga kobaran api yang membubung sesaat setelah dentuman keras itu.

“Suara mesin enggak ada. Terus saat kejadian enggak kelihatan ada api, hanya asap putih, puing-puing yang berterbangan, air yang berombak besar dan ada aroma seperti bahan bakar,” ujarnya.

Meski tidak mengalami cedera dan kapalnya tidak mengalami kerusakan, Hendrik mengaku masih terguncang.

Bahkan hingga saat ini Hendrik mengaku tidak enak makan dan tidur sampai tak sanggup bekerja mencari rajungan seperti sedia kala.

Sementara itu, warga di daratan Pulau Lancang bernama Junaenah, mengaku mendengar suara gelegar bagaikan petir besar terdengar di tengah hujan lebat yang menggetarkan kaca-kaca di jendela rumah pada saat kejadian.

“Hari itu hujan campur angin kencang, tiba-tiba ada suara ‘duar’ terdengar keras sekali sampai rumah (kaca rumah) bergetar,” katanya.

Menurut Junaenah, kala itu ada masyarakat yang melaut mencari rajungan dan ada yang berada di dalam rumahnya berlindung dari hujan.

“Pas dengar saya kaget, ‘Ya Allah, suara apa itu’, karena besar sekali seperti bom. Tapi saya dan anak-anak tidak keluar karena saya kira hanya petir di tengah hujan,” ungkapnya.

Pukul 16.00 WIB, Junaenah baru mengetahui bahwa satu pesawat maskapai Sriwijaya Air hilang kontak di sekitar perairan Kepulauan Seribu.

Dari kabar yang dibawa nelayan yang melaut, warga Pulau Lancang mengetahui ledakan tersebut adalah berasal dari sebuah pesawat yang mengalami kejadian nahas jatuh di antara tempat mereka dengan Pulau Laki yang tak berpenghuni.

“Nelayan yang baru pulang mengabari bahwa di sana (perairan Pulau Lancang-Pulau Laki) ada pesawat yang jatuh. Saya langsung ingat, oh mungkin itu yang siang tadi (saat hujan) saya kira petir sangat besar,” ujar Marsu, Ketua RT 001/RW 001 Pulau Lancang.

Seketika mendapatkan kabar tersebut, Marsu mengatakan, banyak warga Pulau Lancang yang dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi jatuhnya pesawat yang akhirnya diketahui merupakan milik Sriwijaya Air SJ-182 rute Jakarta-Pontianak dengan nomor register PK-CLC.

“Akhirnya pihak berwenang di sini berinisiatif untuk mengumpulkan warga dan melakukan pencarian sebisanya sampai dihentikan sekitar pukul 21.00 WIB,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, Pesawat Sriwijaya Air nomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021) sekitar pukul 14.40 WIB dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya yakni pukul 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan disebabkan faktor cuaca.

Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi 1994 itu membawa 62 orang, terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru.

Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak dan tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.

Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik Kepolisian, TNI maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Dua hari sudah Tim SAR Gabungan mencari penumpang dan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 tersebut yang mengalami kecelakaan di perairan Pulau Laki dan Lancang Kepulauan Seribu, dengan berbagai temuan baik itu serpihan yang diduga bagian pesawat, juga ada bagian tubuh manusia.