Hadapi Tantangan Digitalisasi, Telkom Dirikan Instititute Belajar dan Riset

Gedung Telkom

MONITOR, Jakarta  – PT Telkom bersama tiga BUMN lain mendirikan BUMN Center of Excellence. Terdiri dari learning institute dan research institute melalui pembangunan Telecommunication & Media Institute (TMI). Sarana ini diharapkan menjadi media menghadapi tantangan digitalisasi yang kian ketat.

TMI merupakan gabungan dari PT Telkom Indonesia (Persero), Perum Produksi Film Negara (PFN), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), dan PT Danareksa. Selain TMI, secara keseluruhan ada 12 kluster yang di dirikan Kementerian BUMN.

Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah mengatakan, TMI akan melakukan riset, inovasi, dan pembelajaran secara terpadu.

“Ini merupakan pekerjaan kita bersama yang kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki visi yang sama untuk TMI, seperti akademisi/universitas, bisnis (BUMN), komunitas, pemerintah, dan penyedia teknologi,” katanya.

Melalui TMI, Ririek menyebut bahwa negara dapat memperoleh manfaat dari pengembangan inovasi yang dihasilkan, meningkatkan daya saing dan mendorong kinerja perusahaan serta meletakkan fondasi kuat dan menjadi penggerak kemandirian teknologi. Selain sebagai pusat inovasi bangsa dalam menjawab tantangan ekonomi digital.

Sementara itu, Deputi Bidang SDM & Teknologi dan Informasi Kementerian BUMN Alex Denni mengatakan, TMI menjadi solusi bagi beberapa BUMN. Diantaranya Telkom kini berkembang dari telekomunikasi menjadi digital telco terbesar di tanah air, PFN dari produksi konten (film) menjadi pendukung (enabler) produksi konten kreatif dan film melalui IPR Repository, inkubasi bisnis dan sertifikasi profesi di tingkat nasional dan internasional.

Danareksa kini tak hanya transaksi di pasar modal tapi juga sudah menerapkan interkoneksi switching perbankan yang merupakan transformasi baru yang harus dikelola untuk memajukan ekonomi. Demikian pula PPA yang tidak lagi terbatas mengelola asset ex BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), tetapi juga asset BUMN serta berkewajiban mengkaji restrukturisasi atau revitalisasi BUMN serta melakukan kegiatan investasi.

“Akselerasi transformasi di BUMN saat menjadi sangat penting disebabkan adanya perubahan yang demikian tinggi dan kompetisi bisnis. Karena itu, dalam Rapim yang dipimpin Pak Menteri BUMN dan seluruh pimpinan, memutuskan BUMN harus punya learning institute dan riset institute yg dedicated,” katanya.

Secara umum ada tiga misi dari TMI, yaitu mempercepat transformasi operasional dan ekosistem bisnis melalui kolaborasi bisnis yang memadai, mempercepat penggunaan teknologi digital secara efektif ke dalam bisnis dengan tepat waktu guna menghasilkan nilai tambah signifikan, serta meningkatkan talenta digital yang bekerja dan terlibat di BUMN.

Dari sinergi keempat BUMN tersebut, diproyeksikan akan tercipta IT B2B Solution Schools & Labs, Content Creation School & Lab, Business Restructuring School & Lab, Stock Market School & Lab, Digital School & Lab, dan Communication School & Lab.

Alex melanjutkan, kehadiran BUMN Center of Excellence seperti TMI diprioritaskan untuk melahirkan world class leader dan talenta unggul. Selain itu, akan ada percepatan praktek manajemen standar global, perluasan kapabilitas digital, serta membangun teknologi spesifik yang dibutuhkan sebuah BUMN agar tetap relevan seiring perkembangan zaman.