PDIP: Politik Bukan Sebatas Pertarungan di Pemilu

Hal itu disampaikan PDIP berkaitan dengan Subtema HUT ke-48 ‘Cinta Ciliwung Bersih’

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto (dok: Tribunnews)

MONITOR, Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa politik bukan hanya sekadar menyoal pertarungan dalam sebuah kontestasi pemilu saja.

“PDI Perjuangan menyadari sepenuhnya bahwa politik bukan sebatas pertarungan politik di pemilu maupun pilkada. Namun bagaimana mengelola kekuasaan yang membumi demi kesejahteraan rakyat dan Indonesia Raya,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (8/1/2021).

Hasto menyampaikan, politik harus bisa mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera, santun dan penuh tanggung jawab, termasuk lingkungan hidupnya. Untuk mewujudkannya, menurut Hasto, partai politik tak bisa bergerak sendiri. Tapi sebaliknya, justru harus melibatkan peran serta rakyat itu sendiri.

“Maka peran partai politik adalah juga mengorganisasi serta menggerakkan rakyat. Agar rakyat bergerak, maka harus dimulai dengan sebuah kesadaran bersama. Pada konteks inilah maka PDI Perjuangan takkan berhenti dan akan terus menerus menyuarakan lewat Gerakan Merawat Bumi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Hasto mengatakan, pada peringatan HUT PDIP ke-48 yang jatuh pada 10 Januari 2021 mendatang, salah satu subtema yang akan diberi penekanan khusus adalah soal sungai, yakni melalui kegiatan ‘Cinta Ciliwung Bersih’.

“Ini sebagai kelanjutan program Merawat Bumi, dengan melakukan gerakan penghijauan secara serentak dan sekaligus gerakan membersihkan sungai. Tahun ini dipusatkan di sepanjang Sungai Ciliwung. Namun, kegiatan sejenis juga dilaksanakan oleh kader partai di seluruh Indonesia, di sungai apapun yang terdekat ke kehidupannya masing-masing,” katanya.

Hasto pun menjelaskan alasan kenapa sungai dipilih dalam peringatan HUT PDIP kali ini. Menurut Hasto, bicara soal sungai, maka sebenarnya berbicara soal peradaban manusia, sebab sungai membawa air dan nutrisi ke area di seluruh bumi. 

“Jangan hanya membayangkan sebagai saluran drainase. Tapi sebagai sebuah habitat, yang menyediakan habitat dan makanan yang sangat baik bagi banyak organisme di bumi. Banyak tumbuhan, bebek, ikan, yang akhirnya dikonsumsi oleh manusia yang akhirnya mampu membangun peradaban,” ungkapnya.

Maka ketika sungai tercemar, Hasto menuturkan, semua makhluk hidup yang terkaitnya, juga kehidupan sekitarnya, akan tercemar. Misalnya saja, beras yang dimakan di kota, bisa jadi berasal dari padi yang ditanam di wilayah yang air sungainya sudah tercemar merkuri. Sehingga, membiarkan sungai tercemar, sama saja mengancam peradaban manusianya.  

“Laporan dari berbagai lembaga resmi pemerintahan dan swadaya masyarakat, setiap tahun ratusan ribu anak Indonesia menjadi korban pencemaran sungai di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada tahun lalu saja menyebut 98 persen sungai yang ada di Indonesia telah tercemar,” ujarnya.

Hasto mengatakan, kondisi parah terjadi di sungai-sungai yang ada di Pulau Jawa. Yang paling parah adalah Sungai Citarum. Namun sungai-sungai lainnya juga tercemar. Seperti Sungai Kapuas, Sungai Brantas, Sungai Bengawan Solo, Sungai Ciliwung, Cisadane dan Sungai Siak. 

“Kalau kita membiarkan ini, maka sama saja pembunuhan masa depan generasi kita. Sama saja kita membiarkan peradaban Indonesia segera mati justru karena kita tak memelihara sungai dengan baik dan benar,” katanya.

Hasto mengungkapkan, Gerakan Merawat Bumi lewat ‘Cinta Ciliwung Bersih’ yang akan dilaksanakan pada peringatan HUT PDIP ke-48 itu juga tidak akan melupakan betapa pentingnya menjaga kedisiplinan protokol kesehatan pandemi Covid-19.

“Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo selalu mengingatkan seluruh rakyat Indonesia disiplin menjalankannya. Maka seluruh kegiatan ‘Cinta Ciliwung Bersih’ diwajibkan memenuhi seluruh ketentuan protokol kesehatan. Pencegahan Covid-19 menjadi tanggung jawab kita bersama. Begitu pesan Ibu Megawati,” ungkapnya.