Survei SMRC: 55 Persen Publik Menilai Korupsi Makin Banyak

“Sementara yang menilai korupsi semakin sedikit 13 persen”

Direktur Program SMRC, Sirojudin Abbas usai diskusi hasil survei nasional bertajuk 'kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional pasca peristiwa 21-22 Mei di kantor SMRC Menteng, Jakarta Pusat, Minggu

MONITOR, Jakarta – Survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan mayoritas warga menilai korupsi di 2020 ini makin banyak terjadi.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif SMRC, Sirojudin Abbas, dalam konferensi pers daring survei nasional SMRC bertajuk ‘Sentimen Publik Nasional terhadap Kondisi Ekonomi-Politik Tahun 2020 dan Prospek 2021’ di Jakarta, Selasa (29/12/2020).

“Sekitar 55 persen menilai korupsi sekarang semakin banyak dibanding tahun lalu, sementara yang menilai korupsi semakin sedikit 13 persen dan yang menilai sama saja 26 persen,” ungkapnya.

Menurut Abbas, penilaian warga ini tidak bisa dilepaskan dari kasus-kasus korupsi yang dibongkar Komisi Pemberantasan Korupsi KPK tahun ini.

“Dugaan kasus korupsi di kementerian Sosial dan Kementerian Perikanan tampaknya menyumbang bagi penilaian negatif warga tentang korupsi di Indoensia,” ujarnya.

Sekadar informasi, Survei Nasional SMRC itu dilakukan melalui wawancara telepon kepada 1.202 responden yang dipilih secara acak.

Survei dilakukan pada 23-26 Desember 2020 dengan margin of error survei diperkirakan +/-2.9 persen.