Jelang Nataru, Harga Komoditi Pangan di Jakarta Relatif Stabil

“Tapi untuk tingkat permintaan di masyarakat malah mengalami peningkatan”

Dirut PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin. (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Menjelang Hari Raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru), harga komoditi pangan di DKI Jakarta relatif stabil. Namun demikian, secara umum, kebutuhan pangan di masyarakat mengalami peningkatan.

“Kalau harga pangan saat Nataru memang relatif stabil. Tapi untuk tingkat permintaan di masyarakat malah mengalami peningkatan,” ungkap Dirut PD Pasar Jaya, Arief Nasrudin, dalam keterangan tertulisnya yang diterima MONITOR, Jakarta, Minggu (27/12/2020).

Menurut Arief, setiap menjelang hari besar keagamaan dan akhir tahun, secara umum, kebutuhan pangan di masyarakat mengalami peningkatan. Sehingga perlu dilakukan antisipasi penyediaan. 

Arief pun mengakui, sejumlah komoditi yang dinilai rentan mengalami kenaikan harga. Oleh karenanya, Perumda Pasar Jaya seperti tahun-tahun sebelumnya sudah menyiapkan antisipasi sehingga tidak ada gejolak harga, khususnya di pasar tradisional. 

“Tak hanya itu, penyiapan kebutuhan juga dilakukan di seluruh gerai pangan yang dikelola oleh Pasar Jaya,” ujarnya.

Sebagai contoh, untuk mengantisipasi kenaikan harga daging, Pasar Jaya telah membangun sejumlah mesin CAS di pasar-pasar yang ada di Jakarta. Sehingga sejumlah kebutuhan pokok sudah bisa disimpan sejak jauh hari.

“Pasar Jaya saat ini sudah memiliki empat Jakgrosir sebagai induk pusat distribusi pangan di Jakarta. Jakgrosir tersebut ada di Pasar Induk Kramat Jati, Kedoya, Walang Baru dan satu di Pulau Seribu. Keberadaan Jakgrosir didukung oleh gerai retail di bawahnya sebagai tempat penyaluran komoditi pangan tersebut. Rencananya menyusul pembangunan Jakgrosir di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan,” kata Arief.

Khusus untuk cold storage sendiri, menurt Arief, juga sudah disiapkan di sejumlah pasar. Sehingga kebutuhan pangan daging beku juga bisa distok dari awal. 

“Perlu diketahui komoditi daging adalah salah satu komoditi yang cenderung mengalami lonjakan harga setiap hari besar keagamaan dan tahun baru,” ungkapnya. 

Arief memaparkan, waktu pelaksanaan penjualan produk pangan ini sendiri berlangsung sejak 8 Desember 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. Harga promo juga sudah disiapkan untuk para pelaku usaha yang tergabung dalam Jakpreuneur.

Lokasi pelaksanaan adalah Jakgrosir Induk Kramat Jati, Jakgrosir Tidung Kecil, Jakgrosir Walang Baru, Jakgrosir Kedoya, Jakmart Asam Reges, Jakmart Fish Angke, Gerai Cupang, Jakmart Glodok, Gerai Kamal, Gerai Semanan dan Jakmart Marhamas.

Kemudian Gerai Rawa Lele, Gerai Siduck, Jakmart Pramuka, Jakmart Rawa Bening, Jakmart Sunan Giri, Jakmart Duren Sawit, Gerai KGN, Gerai SPSI Cakung, Gerai FSPMI Cakung, Gerai Sri Gunting Wali Kota Jakarta Pusat, Jakmart Cikini, Jakmart Pasar Baru dan Jakmart Balaikota.

Lokasi berikutnya Jakmart Tanah Abang, Jakmart Jakarta Pusat, Jakmart Thamrin 10, Jakmart Alaydrus, Jakmart Inpari, Pasar Grogol, Pasar Pelita, Kelurahan Marunda, Pasar Tomang dan Pasar Rawa Badak.

Lalu di Pasar Kramat Jati, Pasar Perumnas Klender, Pasar Cempaka Putih, Pasar Johar Baru, Pasar Mayestik, Kecamatan Jagakarsa, Kecamatan Pancoran, Pasar PSPT dan Kecamatan Pasar Minggu.

Adapun beberapa komoditi yang disiapkan stoknya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 hingga Desember ini adalah:

1. Beras (529.710 Kg)

2. Gula (13.500 Kg)

3. Tepung (169.125 Kg)

4. Minyak (2 liter 169.125 item dan 1 liter 2.500 item)

5. Ayam (3.500 Kg)

6. Sapi (2.500Kg)

7. Kerbau (1.255 Kg)

8. Bawang merah (26.000 Kg).

Untuk harga yang akan diterima masyarakat komoditi sebagai berikut:

1. minyak goreng seharga 24.000 per dua liter

2. Tepung seharga 8.000 per kg

3. Bawang Merah seharga 35.000 per kg

4. Beras seharga 60.000 perlima kg

5. Daging cl85 seharga 80.000 per kg

6. Daging Kerbau 65.000 per kg

7. Daging ayam seharga 27.000 perekor

8. Gula 12.500 per kg.

“Setiap tahunnya Pasar Jaya bekerjasama dengan BUMD pangan lainnya dan juga Bank Indonesia sebagai ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan skema penangganan pangan agar harga tidak melambung tinggi. Karena itulah sinergi secara keseluruhan diperlukan agar kondisi pangan Jakarta tetap terjaga harganya dan ketersediaan produknya cukup,” ujar Arief.

Seperti diketahui, mengutip data dari BPS DKI Jakarta Selama Januari-Desember 2019, inflasi di DKI Jakarta mencapai 3,23 persen, lebih rendah dari inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,27 persen.

Selain itu dari pendataan yang dilakukan oleh Bappeda DKI sepanjang 2020 adalah laju inflasi DKI Jakarta dari Januari-September 2020 mencapai 1,05 persen dan pada September 2020 terjadi inflasi sebesar 0,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) semula 105,37 menjadi 105,39. 

Kondisi ini dikarenakan adanya kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan harga terbesar dan memberikan dampak inflasi di DKI Jakarta yaitu kelompok pendidikan dengan nilai inflasi sebesar 1,88 persen.