HGN 2020, Wamenag: Pendiri Bangsa Ajarkan Ilmu, Amal dan Mengajar

Sikap moral itu tumbuh dari perjalanan hidup mereka dalam perjuangan memerdekakan dan membangun bangsa

Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa'adi, membuka Rakornas Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam (KPSBI) MUI secara daring

MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI, Zainut Tauhid Sa’adi, mengungkapkan bahwa peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2020 mengingatkan pada sikap moral yang diajarkan dan diteladankan para pendiri bangsa.

Menurut Zainut, ada tiga sikap moral yang diwariskan, yaitu berilmu, beramal dan mengajar.

“Pendiri bangsa mengajarkan kita tentang berilmu, beramal dan mengajar,” ungkapnya saat berbicara pada Webinar tentang ‘Guru Madrasah Pewaris Founding Father Bangsa’, Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Acara itu digelar dalam rangka memperingati HGN 2020 yang mengusung tema ‘Bakti Guru Lindungi Negeri’. Webinar diselenggarakan oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag RI. Hadir juga dalam webinar itu Sekum Muhammadiyah Abdul Mu’thi dan Ketua Umum LP Ma’arif NU Arifin Junaedi. 

Menurut Zainut, sikap moral itu tumbuh dari perjalanan hidup mereka dalam perjuangan memerdekakan dan membangun bangsa. Mereka terjun langsung ke masyarakat, mendidik rakyat dan banyak di antara mereka mengabdi sebagai guru.

Bung Karno misalnya, pernah menjadi guru agama Islam di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah selama pengasingan di Bengkulu. Bung Hatta dan Bung Syahrir selama masa pembuangan di Banda Neira, Maluku, aktif mengajar dan berbagi ilmu pada anak-anak kecil dan remaja lokal di sana. 

Tan Malaka, lanjut Zainut, sekembalinya dari Eropa, juga aktif menjadi guru bahasa untuk anak-anak buruh perkebunan di Sanembah, Deli, Sumatera Utara. Begitu juga putra pendiri NU Hasyim Asy’ari yang juga ayah dari Presiden RI ke-3 Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Abdul Wahid Hasyim, yang sepulang dari naik haji, terjun langsung mengajar di Pesantren Tebu Ireng. 

“Banyak bapak bangsa lainnya, termasuk pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang mengawali karir sebagai guru, pengajar, kyai, di lembaga pendidikan masing-masing,” ujarnya. 

“Masih banyak bapak bangsa kita yang lainnya yang istiqomah dalam berilmu, mengajar dan beramal. Mereka adalah guru bangsa yang juga penggerak, pejuang dan akhirnya menjadi pembebas anak-anak bangsa dari belenggu ketidaktahuan, kebodohan dan sikap mental negatif lainnya menuju kemerdekaan agar bangsa kita mampu duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa lain,” kata Zainut melanjutkan. 

Zainut menjelaskan, sikap para pendiri bangsa itu tidak terlepas dari pemahaman pesan agama tentang hifdzun nasl, melindungi keturunan.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah bentuk amaliyah untuk melindungi keturunan, juga melindungi martabat kita sebagai suatu bangsa,” ungkapnya. 

Zainut melihat bahwa guru adalah profesi mulia. Sebab, guru adalah sosok yang menggandeng tangan peserta didik, membuka pikiran, menyentuh hati dan membentuk masa depan mereka, bahkan meski mereka bukan anak kandungnya.

Guru berperan penting untuk menghantarkan peserta didik agar memiliki kecerdasan dan daya hidup, agar siap mengarungi masa depan yang semakin kompetitif. Guru juga berperan penting dalam menanamkan nilai dan tradisi agama Islam, membentuk akhlak dan kepribadian generasi muda muslim, sebagai benteng moralitas bangsa. 

“Selamat Hari Guru Nasional tahun 2020. Bangkitkan semangat wujudkan merdeka belajar, tetap dan selalu mendidik putra-putri Indonesia guna mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.