Hasil Pilpres AS tidak akan berdampak kepada Kebijakan AS terhadap Indonesia

Ketua Bidang Hubungan Internasional DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Henwira Halim

MONITOR, Jakarta – Ketua Bidang Hubungan Internasional DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim menegaskan, pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) secara politik dan ekonomiĀ  tidak berdampak secara signifikan terhadap Indonesia, baik yang terpilih Donald Trump untuk kedua kalinya maupun Joe Biden sebagai Presiden AS.

“Dampak dan skenario terhadap politik dan ekonomi Indonesia secara langsung tampaknya tidak akan banyak perbedaan soal pol-ek AS dan RI dibanding saat ini”, kata Henwira dalam keteranganya, Kamis (5/11/2020).

Menurut dia, yang terlihat pengaruhnya adalah mengenai hubungan perang dagang antara AS-China, yang kemungkinan besar akan diakhiri apabila Biden yang terpilih. Namun, apabila Trump yang terpilih, maka perang dagang AS-China akan berlanjut, bisa jadi akan semakin tajam.

“Namun yang mungkin akan tampak pengaruhnya adalah jika Biden mengakhiri perang dagang AS-RRC sesuai janji kampanyenya,” ujar Henwira.

Sementara dari sisi pertahanannya, lanjut Henwira, kebijakan Trump yang didukung Partai Republik maupun Biden yang didukung Partai Demokrat soal China tidak akan berubah soal kebijakan pertahanan dan kekuatan militernya. Sebab dari sisi pertahanan, China merupakan ancaman serius buat AS, sehingga Trump dan Biden  akan mengimbangi kekuatan militer China.

“Sedangkan dari sisi pertahanan, baik Biden maupun Trump tidak akan banyak mengubah kebijakan dan langkah-langkah yg telah diambil saat ini demi mengimbangi meningkatnya kekuatan militer RRC,” katanya.

Berdasarkan update informasi Pilpres yang diterimanya dari AS pada Kamis (5/11/2020) pukul 05.00 WIB, diprediksi bakal dimenangkan Joe Biden, sebab Biden menyalip Trump di Michigan, dan tidak tersusul Trump di Nevada dan Wincosin sehingga akan mendapatkan suara 270 electoral. 

“Dengan asumsi mayoritas sisa suara Michigan dari mail-in ballots diperuntukan kepada Biden dan Biden tidak tersusul di Nevada dan Wisconsin, maka Biden akan berhasil mencapai 270 electoral votes untuk memenangkan Pilpres.” katanya.

Namun, demikian pengumuman resmi pemenang baru akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, angka resmi masih berpotensi memiliki selisih yang signifikan daripada angka proyeksi oleh media. 

“Biden cukup mengunci kemenangan di Nevada utk meraih 270 electoral vote dan memenangkan pilpres. Namun Biden juga masih berpeluang untuk menyalip perolehan Trump di Pennsylvania. Penghitungan suara di Nevada diperkirakan selesai pada Kamis malam waktu setempat (Jumat pagi waktu Indonesia). Sedangkan untuk Pennsylvania diperkirakan selesai pada Minggu malam waktu setempat (Senin pagi waktu Indonesia) dikarenakan keduanya memiliki aturan yang lebih ketat untuk akurasi tabulasi surat suara by mail,” katanya. 

Seperti diketahui Donald Trump meminta perhitungan ulang dilakukan di sejumlah negara bagian setelah hasil sementara pemungutan suara Pilpres AS semakin mendekatkan Joe Biden pada kemenangan. Kemenangan Joe Biden di Wiscosin dan Michigan membuatnya mengantongi 264 suara elektoral, hanya butuh enam suara lagi untuk jadi presiden.

Biden hanya butuh satu kemenangan lagi di negara bagian, termasuk Nevada yang memiliki enam suara elektoral untuk mengakhiri masa pemerintahan Donald Trump di Gedung Putih. Sebelumnya, Donald Trump telah mengklaim dini kemenangan di sejumlah negara bagian kunci. 

Manajer kampanye Donald Trump, Bill Stepien mengatakan pihaknya akan secara resmi meminta perhitungan ulang suara di Wisconsin. Dia menyebut pelanggaran hukum terjadi di sejumlah negara bagian. 

Tim Kampanye Trump juga melayangkan gugatan di Michigan dan Pennsylvania untuk menghentikan perhitungan suara karena tidak memberikan akses peningkatan yang layak. 

Tim Kampanye Donald Trump akan melakukan langkah hukum di Mahkamah Agung atas perhitungan surat suara yang dikirim lewat pos di negara bagian tersebut. 

Dalam persaingan ketat hasil sementara, Donald Trump merebut suara di Florida, negara dengan suara “mengambang” terbesar dan mempertahankan kemenangan di Texas dan Ohio. 

Sementara, Biden mempertahankan kemenangan di New Hampshire dan Minnesota. Biden berhasil membalikkan hasil suara di Arizona, negara bagian yang diandalkan Partai Republik.