Gagasan dan Warisan Intelektual Soekarno masih Relevan dalam Konteks Kekinian

MONITOR, Jakarta – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Rokhmin Dahuri mengatakan bangsa Indonesia harus bersyukur telah memiliki seorang bernama Soekarno atau Bung Karno yang tidak hanya besar di Indonesia tapi juga diakui dunia.

Demikian dikatakan Rokhmin Dahuri saat menjadi narasumber webinar bertajuk “Dari Rawamangun Untuk Indonesia: Menapaki Jejak Pikiran Soekarno tentang City of Intellect”, Rabu (4/11) yang digelar oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Acara itu untuk menggagas kembali sejarah UNJ yang saat diresmikan oleh Bung Karno pada 1953 sebagai “Kota Mahasiswa”.

Menurut ketua DPP PDI Perjuangan bidang Kelautan dan Perikanan itu Bung Karno juga tidak hanya memiliki gagasan besar tapi juga legacy atau warisan intelektual yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga menjadi akselerasi untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat.

“Bung Karno juga tidak hanya memiliki gagasan besar tapi juga legacy atau warisan intelektual yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, juga menjadi akselerasi untuk mewujudkan Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat,” katanya.

Salah satu legasi besar dari Bung Karno, ungkap Rokhmin adalah ilmu perencanaan pembangunan dimana Bung Karno telah meletakan dasar dasar perencanaan pembangunan yang pertama di tanah air, yang tercermin dalam Rencana Pembangunan Jangka Semesta Berencana.

“Banyak yang tak menyadari bahwa Presiden Soekarno yang pertama kali meletakkan dasar perencanan pembangunan. Bahwa Bung Karno ternyata itu meletakkan dasar-dasar perencanaan pembangunan,” katanya.

“Sebagai bukti kecerdasan dan visionernya Sukarno, di mana telah menggagas Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PNSB), sekitar 1950-an akhir. Konsep ini punya arah dan tujuan yang jelas yang bercita-cita mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Ini masih sangat relevan diterapkan sampai sekarang,” terangnya.

“Pada tahun 1957, Bung Karno telah menggagas yang namanya Pembangunanan Nasional Jangka Semesta Berencana. Kalau saya bedah, ada sejumlah sektor unggulan yang sepanjang masa dibutuhkan yakni pangan, energi, farmasi, kemaritiman, industri manufaktur, dan humaniora,” tambahnya.

Yang paling luar biasa, menurut mantan menteri kelautan dan perikanan itu, Bung Karno berbicara tentang kedaulatan pangan dalam pidato peletakan batu pertama pembangunan gedung Fakultas Pertanian-Universitas Indonesia sebelum menjadi IPB, pada 27 April 1957. Di sisi lain, presiden pertama Indonesia ini juga telah membangun konsep yang hebat dalam membagi core competent di perguruan tinggi.

“Misalnya untuk UI difokuskan untuk kajian ekonomi dan kedokteran, IPB lebih ke pangan dan sumber hayati, ITB pada engineering, sedangkan UGM lebih ke geografi, ekonomi, dan humaniora. Selanjutnta, Unair di kedokteran humaniora, ITS di perkapalan dan Unpati digadang-gandang untuk kemaritiman,” tegasnya.

Ditempat yang sama, Sekjen PDI Perjuangan yang juga Dewan Pembina Megawati Institute Hasto Kristiyanto mengatakan pencanangan kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sebagai city of intellect (Kota Mahasiswa) oleh Proklamator RI Soekarno adalah perwujudan spirit bahwa kampus adalah pusat mencerdaskan kehidupan bangsa. 

“Kampus, juga adalah pusat peradaban Indonesia dimana nalar dan budi dikedepankan sebagai elemen penting nation and character building,” kata Hasto.

Menurut Hasto, Bung Karno menegaskan supremasi sains dan teknologi, untuk amal dan kemanusiaan, diletakkan sebagai pilar kemajuan bagi perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan seluruh umat manusia dari berbagai belenggu penjajahan.

“Karena itulah pencanangan Rawamangun sebagai city of intellect pada tahun 1953, oleh UNJ digelorakan kembali spiritnya. Bahwa kampus adalah pusat mencerdaskan kehidupan bangsa, pusat peradaban Indonesia, dimana nalar dan budi dikedepankan sebagai elemen penting nation and character building. Supremasi sains dan teknologi untuk Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkebudayaan,” beber Hasto.

Hasto mengatakan bahwa Bung Karno sangat mendukung pendidikan dan sains dalam membangun Indonesia. Bahkan, pendidikan menurut Bung Karno adalah cermin kehidupan sebuah bangsa, dan melalui pendidikan lewat sekolah merupakan salah satu lokus untuk memulai revolusi mental.

Di era kepemimpinan Bung Karno, usaha untuk menumbuhkan etos warga negara melalui pendidikan di sekolah pernah diupayakan melalui penerapan sistem pendidikan Pancawardhana. Sistem pendidikan yang menekankan pada pembangunan bangsa dan wataknya. 

Pada 14 Maret 1948, Presiden Soekarno mencanangkan Pemberantasan Buta Huruf. Lebih lanjut, Hasto mengatakan bahwa setelah urusan buta huruf selesai, Bung Karno menginginkan Indonesia berdikari dengan mengirimkan putra-putri terbaik ke Belanda untuk belajar tentang industri perkapalan dan dirgantara. Dilanjutkan pada 1960-an, ribuan mahasiswa ikatan dinas dikirim keluar negeri untuk mempersiapkan pembangunan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.