Kementan Dorong Pemda Gencar Adakan Pelatihan Alsintan

Dirjen PSP Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy

MONITOR, Madiun – Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) gencar menggelar pelatihan alat mesin pertanian (Alsintan) kepada para petani binaan di wilayahnya. Seperti yang dilakukan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Jawa Timur yang giat melakukan pelatihan guna menjawab tantangan lingkup pertanian, yang kedepan dimungkinkan serba bercorak teknologi canggih.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menilai, pelatihan pengoperasian Alsintan dianggap penting dan mendesak dilakukan agar pemanfaatan bantuan dari pemerintah itu dapat digunakan dengan maksimal. Di samping itu, petani atau kelompok tani juga dapat merawat alat tersebut.

“Pelatihan atau sosialisasi yang dilakukan kepada petani, Poktan maupun UPJA sangat positif untuk mendorong petani agar bisa memanfaatkan alat tersebut dengan optimal,” kata Mentan SYL, Selasa (3/11).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan, Sarwo Edhy menambahkan, pelatihan atau sosialisasi soal Alsintan memang penting untuk meningkatan pengetahuan petani. Petani diharapkan menjadi lebih terbiasa dengan teknologi, sehingga pemanfaatan alat tersebut menjadi maksimal.

Melalui kegiatan tersebut, lanjut Sarwo Edhy, petani bisa lebih optimal menggunakan Alsintan, mulai dari olah tanah sampai panen. Belakangan ini, UPJA di beberapa daerah rutin memberikan sosialisasi pentingnya memanfaatkan Alsintan kepada anggota Poktan maupun Gapoktan.

“Perkembangan teknologi mekanisasi pertanian sudah sangat pesat, sehingga mau tidak mau Gapoktan melalui UPJA harus dapat memenuhi kebutuhan petani melalui pelayanan Alsintan,” ujarnya.

Dalam pelatihan, petani mendapatkan pengetahuan atau pengenalan fitur dan komponen Alsintan dan dilanjutkan praktik langsung di lapangan. 

“Materi bisa meliputi perawatan dan penggunaan alat. Dengan materi dan praktik yang dilakukan bisa diaplikasikan di lapangan,” kata Sarwo Edhy.

Pelatihan yang berlangsung pekan lalu di Desa Klorogan, Kecamatan Geger, itu diikuti puluhan petani yang nampak antusias mengikutinya. Tak sedikit undangan yang tidak sabar ingin segera mendapat pengarahan, sekaligus praktek mengoperasikan Alsintan berupa Combine dan Rice Transplanter tersebut.

Dalam acara pelatihan itu Dispertan setempat menghadirkan pihak terkait, yakni Direktorat Kementan dan PT Rutan selaku penyedia Alsintan. Selain itu, penyelenggara juga mendatangkan sebanyak 20 orang dari Kecamatan Dolopo dan Kebonsari, selaku tenaga operator Alsintan yang sudah terlatih sebelumnya.

Pemaparan materi dilakukan secara kombinasi oleh Achmad Syuhada, Staf Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dispertan Madiun, Afrison Bartolomeus, Direktorat Kementan dan Dwi serta Puguh selaku penyedia Alsintan.

“Perkembangan teknologi pertanian dirasakan bergerak cepat. Karenanya harus diimbangi kompetensi para petani, agar sinergis antara teknologi dan kemampuan bercocok tanam,” ungkap Achmad Syuhada.

Ditambahkan Achmad Syuhada, bantuan Alsintan dari pemerintah merupakan terobosan percepatan, sekaligus jalan keluar para petani dalam memberdayakan bidang kerjanya. Para petani diharapkan bukan saja sanggup mengoperasionalkan Alsintan, melainkan juga menjaga dan merawat peralatan pertanian itu dengan baik.

Sementara Afrison Bartolomeus meminta agar para petani memanfaatkan peralatan itu semaksimal mungkin. Jangan sampai alat yang sudah dibeli mahal tapi tidak dimanfaatkan.

“Jangan sampai dibiarkan mangkrak ya. Nanti malah cepat rusak. Mengingat mesin bantuan dari pemerintah ini harganya mahal. Jadi harus dimanfaatkan dan dirawat betul,” pinta Afrison.

Para ketua Poktan dan operator yang hadir dalam acara itu memperoleh buku petunjuk pengoperasian dan video tutor, untuk dipelajari di rumah.

Sementara Dwi dan puguh yang mewakili PT Rutan mematangkan teori dengan praktek langsung di lapangan. Pelaksanaan praktek Alsintan berupa Rice Transplanter (mesin tanam padi) berlangsung di areal persawahan setempat.

Materi praktek menyangkut, mulai dari pengisian bahan bakar, cara penggantian oli sampai penggunaan mesin di ladang. Salah satu operator yang hadir mengaku sangat terbantu dengan pelatihan tersebut.

“Sejauh ini antara materi dan praktek dilapangan sangat mudah dipahami. Jadi kedepan nanti jika kesulitan mencari tenaga petani, dengan rice transplanter ini penanaman padi bisa lakukan hanya butuh satu atau dua orang saja,” ungkap salah satu petani peserta.