Syarat Mudah, KUR Pertanian Makin Diminati

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian RI, Sarwo Edhy (Foto: Nurhandi/ Monitor.co.id)

MONITOR, Jakarta – Syarat-syarat pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk sektor pertanian dan proses pengembalian dana semakin mudah. Hal ini membuat KUR Pertanian makin diminati petani untuk modal usaha tani.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kehadiran KUR adalah salah satu upaya negara untuk memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

“Kami mendorong petani agar berani memanfaatkan layanan program KUR yang disediakan negara, sebagai upaya negara meningkatkan kesejahteraan para petani di seluruh Indonesia,” kata Mentan SYL, Senin (2/11).

Mentan SYL melanjutkan, KUR ini dapat dimanfaatkan para petani dan penangkar. Dengan bunga yang hanya 6 persen per tahun ditambah kemudahan dalam mengakses pinjaman, skema KUR dinilai ramah bagi petani.

“Turunnya suku bunga KUR menjadi angin segar bagi petani. Dimana KUR untuk petani skemanya berbeda dengan KUR pada umumnya,” tambahnya.

Sementara, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy mengatakan, KUR dianggap lebih mudah diakses karena tidak memerlukan agunan. Padahal, KUR dengan plafon besar pun sebenarnya akan mudah diakses jika digunakan untuk pembelian alat.

“Plafon Rp 500 juta ke atas pun bisa diakses. Soalnya, ada agunannya berupa alat pertanian yang dibeli,” kata Sarwo Edhy.

Syarat mendapat KUR pertanian cukup mudah. Petani hanya diharuskan memiliki lahan garapan produktif, rancangan pembiayaan anggaran, dan sejumlah syarat untuk kepentingan BI Checking.

“Penyaluran KUR bekerja sama dengan bank milik BUMN. Kami juga mengharapkan bank milik Pemerintah Daerah juga bisa melayani KUR. Karena bank milik daerah sangat mengetahui betul potensi yang dimiliki daerah tersebut. Sehingga ini akan sangat membantu kemajuan pertanian daerah itu,” pungkasnya.

Memasuki musim tanam, Uju Juandi dan anggota Kelompok Tani Sinar Fauzan, Desa Sukaratu, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut selalu bingung mencari modal, sebab hasil pertanamannya tidak selalu bagus.

“Uang hasil panen selalu habis untuk bayar hutang ke renternir karena bunganya mencekik sekali. Jadi seringkali kehabisan modal untuk tanam berikutnya,” bebernya.

Namun semenjak dirinya dikenalkan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh penyuluh yang selama ini mendampinginya, kerumitan mencari modal awal untuk usaha taninya bisa terpecahkan.

“Sekarang banyak anggota kelompok tani yang ikut mengambil KUR karena sudah melihat mudahnya saya dapat modal dan lancar dalam pengembaliannya,” tuturnya.

Kini, Uju menjadi Collector Agent (CA) dari Kelompok Tani Sinar Fauzan dan bertugas mengumpulkan dan menyalurkan dana KUR yang telah disetujui bank untuk kelompoknya.

“Alhamdulilah sekarang mereka terbantu dengan adanya KUR untuk biaya pengolahan lahan dan penanaman. Kita sudah memanfaatkan dana KUR dari 2017. Saya selalu menekankan kepada anggota bahwa ini (dana KUR) adalah dana yang wajib dikembalikan,” tegasnya.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh petani jagung asal Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Sematang Borang, Sumatera Selatan yang menggunakan dana KUR untuk modal usaha pertanaman jagung, labu dan melon di 1,5 Hektar miliknya.

“Lebih untung memang tanam jagung, bisa dua kali lipat daripada buah dan sayuran. Panen juga singkat hanya 60-75 hari saja. Khusus untuk jagung kita ada 1 hektar, sedangkan sisanya buah dan sayuran,” tuturnya.

Triono sendiri tergabung dalam Gapoktan Marjasuma bersama 10 kelompok tani lainnya. Mereka dibantu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palembang melalui Balai Penyuluhan Pertanian Sekojo. Mereka juga diarahkan untuk memaksimalkan program KUR dari Bank Pembangunan Daerah Sumsel Babel selama dua tahun terakhir.

“Awal coba tahun 2016 dan diberikan bantuan modal KUR Rp 10 juta yang digunakan beli benih, pupuk dan perawatan lahan. Pihak Bank juga memperbolehkan pembayaran setelah panen, jadi kita tidak perlu pukirkan angsuran pembayaran. Kita lebih fokus bertani,” jelasnya.

Bantuan KUR tersebut digunakannya untuk modal awal di musim tanam pertama. Dalam dua kali panen, bantuan KUR tersebut bisa dilunasinya, sehingga keuntungan panen bisa sampai 4 kali dalam satu tahun. Triono pun bisa menabung dan mencukupi kebutuhan keluarganya termasuk menyekolahkan anak pertamanya hingga tamat kuliah.