Kementan Minta Pemda Siapkan Diri Hadapi Bencana La Nina

Dok. Istimewa

MONITOR, Nganjuk – Kementerian Pertanian (Kementan) minta Pemerintah Daerah (Pemda) menyiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana La Nina. Seperti yang dilakukan Pemda Nganjuk, Jawa Timur yang meyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi petani alami gagal panen.

Di antaranya melakukan normalisasi saluran premier, sekunder dan tersier untuk mengantisipasi. Hal tersebut dilakukan agar tidak ada sumbatan yang mengakibatkan banjir.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan, La Nina merupakan anomali iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem dengan peningkatan curah hujan yang tinggi. BMKG mencatat La Nina sudah terjadi sejak dua bulan terakhir di Indonesia dan diperkirakan berlangsung hingga Februari 2021.

Kondisi tingginya curah hujan akibat La Nina tentu akan sangat berdampak pada proses produksi pertanian, terlebih fenomena ini dapat membuat terjadinya bencana hidro-meteorologis seperti banjir dan tanah longsor.

“Ada ancaman kegagalan panen pada daerah tertentu karena jumlah air yang banyak, dan ada gejala-gejala hama yang mungkin muncul karena banjir,” ungkap Mentan SYL, Minggu (1/11).

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy menambahkan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian siap mendukung langkah antisipasi untuk menghadapi fenomena La Nina. Baik alat mesin pertanian (Alsintan), asuransi, Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), maupun pompa disiapkan dan akan dimaksimalkan untuk menghadapi La Nina.

“Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan alsintan, asuransi, RJIT, dan juga pompa sudah kita lakukan di berbagai daerah. Ada juga Brigade Alsintan yang siap mendukung petani. Saya rasa semua bisa digerakkan untuk mendukung pertanian saat musim tanam nanti. Dan juga bisa dimanfaatkan untuk menghadapi La Nina,” terang Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy mengatakan, asuransi juga menjadi pilihan terbaik jika terjadi gagal panen. Dijelaskannya, asuransi sifatnya antisipasi, menjaga jika ada ancaman yang membuat gagal panen.

“Oleh karena itu, saat memasuki musim tanam, ada baiknya petani juga mengasuransikan lahan. Apalagi BMKG sudah mengeluarkan pernyataan tentang anomali iklim La Nina yang bisa mengganggu pertanian,” terang Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menambahkan, asuransi pertanian adalah bagian dari mitigasi bencana yang bisa dimanfaatkan petani. Asuransi akan meng-cover kerugian pada lahan-lahan yang gagal panen. Baik akibat serangan hama dan penyakit, bencana alam, perubahan iklim maupun cuaca ekstrim seperti La Nina.

“Dengan asuransi, petani tidak perlu khawatir lagi jika gagal panen. Bahkan mereka akan memiliki modal untuk tanam lagi,” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Yudi Ernanto mengaku, pihaknya sudah memetakan tiga lokasi rawan bencana banjir, yaitu Kecamatan Sukomoro, Gondang dan Patianrowo. Melihat tahun sebelumnya tiga lokasi tersebut rawan banjir, sehingga beberapa petani mengalami gagal panen.

“Saat ini sejumlah petani di Kabupaten Nganjuk sedang persiapan menanam padi, sedangkan sebagian ada yang menanam bawang merah,” terangnya.

Yudi Ernanto menambahkan, Dinas Pertanian sudah menyampaikan imbauan ke petani bawang merah terkait tingginya curah hujan. Sesuai dengan data BMKG dan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Nganjuk, puncak hujan ada di bulan November-Desember sehingga tim penyuluh sudah melakukan pengecekan dibeberapa daerah yang biasanya rawan banjir.

“Sebagai bentuk perlindungan bagi petani padi, pemerintah juga telah menyiapkan program asuransi usaha tani padi. Asuransi ini sangat penting, karena saat terjadi bencana yang berakibat gagal panen petani padi, maka kerugian tersebut ditanggung oleh asuransi,” tuturnya.

Di Kabupaten Nganjuk targetnya sekitar 20 ribu petani terlindungi asuransi. Tapi saat ini kuota yang ada justru melebihi target yang telah ditentukan.