Bencana Alam Terjang Petani di Ciamis, Kementan Ingatkan Asuransi

MONITOR, Jakarta – Mulai meningkatnya curah hujan, membuat Kementerian Pertanian mengingatkan petani di Ciamis, Jawa Barat, untuk mengasuransikan lahannya. Ajakan untuk mengikuti asuransi dikeluarkan setelah petani pepaya di Banjarsari, Ciamis, dipastikan gagal panen akibat bencana.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan petani harus mengambil langkah untuk mengantisipasi bencana. Apalagi, ada potensi fenomena La Nina yang bisa membuat petani merugi.

“Sektor pertanian dihadapi pada potensi bencana akibat fenomena La Nina yang akan membuat curah hujan meningkat. Dampaknya bisa pada banjir, penyakit yang dapat membuat petani gagal panen. Oleh karena itu, Kementan menyiapkan 7 strategi untuk mengatasi La Nina, salah satunya dengan asuransi,” tutur Mentan SYL, Sabtu (31/10/2020).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy, mengatakan asuransi menjadi langkah paling baik untuk mengantisipasi kerugian.

“Dampak La Nina bisa membuat petani menderita kerugian. Namun, asuransi bisa mengatasinya. Karena ada klaim yang akan mengganti kerugian pada lahan yang telah di-cover asuransi,” tuturnya.

Sarwo Edhy menjelaskan, asuransi adalah bagian dari mitigasi bencana. Asuansi akan mengcover lahan yang gagal panen akibat bencana alam, serangan hama dan penyakit, kekeringan dan kebanjiran akibat cuaca ekstrim, dan lainnya.

“Sebagai mitigasi bencana, asuransi akan memberikan klaim yang bisa digunakan petani sebagai modal untuk tanam kembali. Sehingga produksi tetap berlangsung,” katanya.

Di Ciamis, bencana alam yang menerjang wilayah Banjarsari dan sekitarnya, Selasa (27/10/20) dini hari lalu, bukan hanya mengakibatkan rumah warga terendam banjir dan tergerus longsor.

Para petani pepaya di bantaran Sungai Ciputrahaji juga terkena imbas, ribuan pohon pepaya jenis california yang ditanam roboh dan rusak. Akibatnya para petani merugi abadi.

Eded Supriadi (50) petani pepaya warga Dusun Sukamulya, Desa Sukasari Kecamatan Banjarsari, mengaku kurang lebih 700 dari total 2.000 pohon pepaya jenis california yang ditanam roboh dan gagal panen petik. Padahal sudah masuk bulan panen petik pepaya.

“Tanam pohon pepayanya tidak hanya di satu titik saja, tapi ada di tiga titik, dekat rumah ada 200 pohon, daerah Sindanglaya 300 pohon dan daerah Entrong Desa Cigayam perkiraan 200 pohon lebih,” ujar Eded Supriadi.

Menurut Eded, saat itu air sungai meluap diakibatkan curah hujan yang tinggi. Imbasnya ratusan pohon pepaya dan pohon lainnya di sepanjang Sungai Ciputrahaji terdampak luapan air sungai.

“Satu pohonnya saat dipanen bisa sekitar 6 kilogram, akibat kejadian ini sekarang harganya merosot di harga Rp 2.200 per kilonya, padahal sebelumnya harga diatas normal,” tandas Eded.