Kembangkan Kawasan Minapolitan, KKP Beberkan Potensi Ekonomi Maritim Dumai

MONITOR, Dumai – Koordinator Penasehat Menteri Perikanan dan Kelautan periode 2019-2024 bidang Riset dan Daya Saing , Prof Rokhmin Dahuri beserta rombongan mengunjungi Kota Dumai, Riau pada Senin (26/10/2020).

Wali Kota Dumai H Zulkifli Adnan yang menyambut langsung mengatakan bahwa kehadiran Rokhmin Dahuri yang juga mantan menteri kelautan dan perikanan itu dalam rangka mendukung perkembangan dan pembangunan kawasan Minapolitan (Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu Kota Dumai), tepatnya di wilayah Kecamatan Sungai Sembilan.

“Karena sesungguhnya kita sangat butuh bantuan dan sentuhan teknologi dari berbagai pihak termasuk Pemerintah Pusat,” ujarnya di Gedung Media Center.

Zulkifli menerangkan bahwa konsepsi minapolitan Dumai sendiri adalah pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan yang pembangunannya akan dilaksanakan berbagai pihak.

Untuk itu Zulkifli berharap dukungan dari berbagai pihak termasuk swasta. “Tidak hanya dari Pemko Dumai saja, tetapi akan melibatkan kerjasama beberapa pihak lain dari luar daerah. Begitu juga dengan para pengusaha di Kota Dumai dan masyarakat setempat,” terangnya.

Sementara itu, pada kesempatan tersebut Rokhmin Dahuri membeberkan sejumlah langkah dan strategi dalam mewujudkan pembangunan minapolitan Dumai. Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB ini melihat ada peluang yang bisa mendukung pembangunan di Dumai lebih baik ke depannya yakni  pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan permintaan barang dan jasa.

Adapun peluang tersebut antara lain di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis Industri 4.0. Selain itu, semakin terbukanya konektivitas dengan wilayah lain yakni  adanya pembangunan jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai).

Meski begitu, Kota Dumai juga masih dihadapkan pada sejumlah kendala lantaran, sektor pertaniandan perikanan masih dilakukan secara tradisional, pengangguran dan kemiskinan, maslah abrasi pantai dan kerusakan lingkungan.

“Selain itu, daya tarik kota relatif rendah, kesiapan ekosistem Industri 4.0 rendah, keterbatasan APBD dan akses permodalan, iklim investasi & kemudahan berbisnis kurang kondusif serta tantangan kualitas SDM,” sebut Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia ini.

Rokhmin menjelaskan, wilayah Kota Dumai sangat strategis karena berada pada jalur pelayaran internasional Selat Malaka, yang merupakan wilayah hinterland kawasan segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT). Laut Kota Dumai berada di WPP 571, dengan potensi SDI 425.443 ton/tahun.

“Pada 2019, produksi perikanan tangkap laut Dumai sebesar 650,88 ton atau 0,15?ri potensi WPP 571,” ungkapnya.

“Untuk produksi perikanan budidaya di Dumai pada 2019 mencapai 302,08 ton. Kontribusi terbesar berasal dari kolam (80,8%), KJT 9,9%, tambak 6,0%, dan KJA 3,2%,” pungkasnya.