PDIP: Peringatan Hari Santri Didasarkan pada Fakta Sejarah Penuh Heroisme

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, saat membuka acara rapat koordinasi khusus bidang kehormatan partai yang dilaksanakan secara virtual, Jakarta, Jumat (25/9/2020). (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa peringatan Hari Santri didasarkan pada fakta sejarah yang penuh dengan heroisme.

Hal itu disampaikan Hasto dalam rangka peringatan Hari Santri 2020 yang selalu diperingati pada 22 Oktober setiap tahunnya.

“Peringatan Hari Santri didasarkan pada fakta sejarah penuh heroisme yang dilakukan para Santri pada tanggal 22 Oktober 1945. Semangat hubbul wathan minal iman. Semangat ini terus berkobar untuk membela bangsa dan negara Indonesia menghadap ancaman musuh yang terus mengancam keselamatan bangsa dan keamanan nasional,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Menurut Hasto, PDIP tercatat sebagai partai yang ikut andil dalam memperjuangkan peringatan Hari Santri tersebut bersama dengan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai bagian dari kesadaran sejarah dan kesadaran bela negara, serta sekaligus sebagai penghormatan atas perjuangan para santri bagi kemerdekaan Indonesia”

Hasto mengatakan, apa yang dilakukan oleh para santri menunjukkan tekad kuat, semangat membara dan patriotisme yang tidak pernah padam.

“Indonesia terus tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas hingga ke Rote karena semangat kebangsaan dan persatuan bagi Indonesia yang bertanah air satu. Pancasila terbukti tidak hanya menjadi falsafah bangsa, namun sekaligus menjadi pemersatu bangsa,” katanya.

Dalam perspektif kekinian, Hasto menilai, ancaman bagi kelangsungan bangsa muncul dalam berbagai ketidakadilan baru akibat kapitalisme global, fundamentalisme pasar, ancaman ideologi transnasional seperti radikalisme, anarkisme, terorisme dan juga berbagai bentuk adu domba yang menggunakan isu Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA).

“Sekarang juga dikenal kolonialisme data, kejahatan siber dan ancaman proxy war. PDI Perjuangan meyakini bahwa Indoneaia bisa mengatasi berbagai ancaman tersebut selama persatuan nasional dikedepankan, dan berbagai persoalan ketidakadilan di bidang ekonomi dapat diselesaikan,” ujarnya.

“Dengan semangat hubbul wathan minal iman tersebut, maka siapapun yang mencoba memecah belah NKRI dengan Pancasilanya, akan berhadapan dengan seluruh rakyat Indonesia,” ungkap Hasto melanjutkan.

“Selamat Hari Santri, sikap kenegarawanan, keteladanan, kekuatan moral dan semangat untuk berbuat kebaikan bagi rakyat, bangsa dan negara terus digelorakan,” kata Hasto menambahkan.

Sekadar informasi, Peringatan Hari Santri Nasional ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 22 Oktober 2015 di Masjid Istiqlal Jakarta melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Penetapan Hari Santri Nasional dimaksudkan untuk mengingat dan meneladani semangat jihad para santri merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang digelorakan para ulama. 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

Seruan itu berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) atau dikenal dengan Resolusi Jihad melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.