Tokoh Papua Apresiasi Penanganan Kasus Intan Jaya

“Apa yang dilakukan oleh TGPF adalah pintu masuk untuk memulihkan keadaan Papua”

TGPF kasus penembakan di Intan Jaya, Papua, sedang melakukan olah TKP di Hitadipa dan Sugata, Minggu (11/10/2020). (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Tokoh pemuda Papua, Abraham Abaidata, mengapresiasi kerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang telah menyelesaikan investigasi lapangan terkait kasus penembakan di Intan Jaya yang terjadi pada September 2020 lalu.

Seperti diketahui, TGPF kasus Intan Jaya sudah menyelesaikan investigasi lapangan kasus penembakan yang terjadi pada September 2020 lalu dengan waktu relatif singkat yang diberikan yakni hanya dua pekan. Tim yang dipimpin Benny Mamoto itu telah menemui sedikitnya 42 saksi dan narasumber.

Tim investigasi yang dibentuk pemerintah berdasarkan Kepmenko Polhukam Nomor 83 Tahun 2020 itu dijadwalkan akan menyampaikan laporan akhir kepada pemerintah pada Rabu (21/10/2020) mendatang. 

Anggota TGPF tidak hanya melibatkan unsur TNI, Polri dan BIN, tapi juga tokoh-tokoh Papua yang dikenal kredibel, serta sejumlah tokoh nasional dan tokoh kampus. Dengan berakhirnya tugas investigasi, para tokoh Papua itu mengapresiasi pemerintah yang menangani kasus penembakan Intan Jaya dengan pendekatan kemanusiaan. 

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Bapak Presiden Joko Widodo, yang memang beliau punya hati dan niat yang tulus, untuk memperbaiki situasi dan keadaan yang akhir-akhir ini terus terjadi,” ungkap Victor Abraham Abaidata dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (20/10/2020).

Victor mengatakan, penyelesaian kasus penembakan di Papua dengan hati dan semangat persaudaraan yang kuat, seperti yang tergambar dalam TGPF. Menurut Victor, penyelesaian seperti ini akan membuat persoalan di Papua bisa didekati dengan baik dan konstruktif, dimana rakyat Papua bisa hidup damai di bawah pengamanan TNI.

“Pendekatan pembangunan terhadap manusia itu jauh lebih penting. Sehingga apa yang dilakukan oleh TGPF adalah bagian dari pintu masuk untuk memulihkan keadaan Papua, untuk memulihkan kembali kepercayaan orang Papua terhadap negara, terhadap pemerintah. Karena satu hal tantangan terberat kita ke depan adalah bagaimana menghadapi generasi milenial, generasi abad ini yang jauh lebih kritis,” katanya.

Pendeta Henok Bagau, tokoh agama Intan Jaya yang dekat dengan pendeta Yeremias Zanambani, yang tertembak di Intan Jaya pada 19 September 2020 lalu, menilai bahwa upaya pengungkapan fakta seperti ini akan membuat warga Papua semakin percaya pada pemerintah pusat.

Di dalam tim investigasi, pendeta Henok mengaku bekerjasama baik dengan unsur TNI, Polri dan BIN, yang sedikitpun tidak membatasi dirinya untuk bersuara. 

“Ini merupakan satu terobosan dalam sejarah masyarakat Papua kami melihat bahwa tim yang dibentuk benar-benar independen, tidak berpihak pada siapapun dan sungguh-sungguh mengikuti hati nurani dan fakta yang ada,” ujarnya.

Tokoh Papua lainnya yang juga anggota tim adalah Taha Alhamid, Sekjen Dewan Presidium Papua yang mengaku senang dengan cara kerja dan hasil-hasil yang dicapai oleh tim. Taha yang juga adalah tokoh Muslim Papua itu mengapresiasi unsur TNI di dalam tim, dimana tokoh-tokoh Papua bisa duduk berdampingan dan saling percaya dengan TNI dan Polri.

“Suatu perkembangan yang baik, TNI mau membuka diri dan saya kira ini membuat makin tumbuhnya rasa percaya, lalu akan ada perubahan persepsi di masyarakat tentang TNI. ini bisa menjadi dasar utama, bisa menjadi modal untuk memulai membangun Papua ke depan, Papua yang damai untuk semua orang,” ungkapnya.

Diplomat senior yang pernah menjadi duta besar Indonesia di PBB, Makarim Wibisono, menilai upaya pemerintah ini dari sisi Hak Asasi Manusia (HAM). Menurut Makarim, cara penyelesaian seperti ini akan mampu memperbaiki nama Indonesia di bidang HAM, apalagi tokoh-tokoh yang terlibat di dalam tim dipercaya publik.

“Masyarakat merasa atau melihat bahwa pelanggaran HAM itu sebagai luka bangsa. Jadi adanya usaha dari pemerintah untuk membentuk TGPF ini, menunjukan itikad dari pemerintah untuk memperjelas masalahnya itu,” katanya.

Makarim menambahkan, pembentukan TGPF merupakan pendekatan yang sangat positif, hal itu menunjukkan kepada keluarga yang bersangkutan bahwa pemerintah berbuat sesuatu untuk menangani masalahnya.

“Juga kepada masyarakat internasional bahwa pemerintah itu telah berlaku sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang ada,” ujarnya.

Sekadar informasi, sebagian anggota tim saat ini sudah kembali ke Papua seperti Rektor Universitas Cenderawasih Apollo Safanpo, sebagian lagi masih berada di Jakarta untuk mendampingi ketua tim menyerahkan hasil investigasi kepada pemerintah.

Rabu (21/10/2020) besok, Benny Mamoto sebagai ketua tim dan para anggota TGPF akan diterima Menko Polhukam Mahfud MD, yang akan mengumumkan hasil investigasi tersebut.