Ketua Komisi IV DPR RI: Inovasi Kementan Harus Sejahterakan Petani

Foto: Istimewa

MONITOR, Jakarta – Pesawaran-Perkebunan merupakan salah satu subsektor yang berkontribusi terhadap devisa negara. Hal itu disampaikan Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin saat memimpin rombongan Kunjungan Kerja DPR RI bersama Kementerian Pertanian di Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, Kamis (15/10).

Apa yang disampaikan Sudin tersebut sangat beralasan dan sesuai dengan data pertumbuhan ekspor produk pertanian periode September 2020 yang telah diliris Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, ada peningkatan ekspor produk pertanian sebesar 20,84 persen dibanding bulan sebelumnya Agustus 2020 (M to M). Peningkatan yang signifikan ini disumbang oleh kenaikan volume ekspor yang cukup besar diantaranya beberapa produk hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan tahunan dan juga dari subsektor perkebunan yaitu kopi dan lada.

Pada kesempatan itu, Sudin berpesan agar Kementan terus membuat inovasi terobosan.

“kami pun selalu mengingatkan Kementan dalam hal ini PSP maupun Perkebunan untuk terus melakukan inovasi dan terobosan. Apa yang bisa membuat rakyat hidup semakin sejahtera?. Karena kalau rakyat tidak sejahtera, nanti yang disalahkan pemerintahnya. Dan kalau pemerintahnya disalahkan, nanti anggota dewannya dibilang malas,“ kata Sudin.

Secara terpisah, Mentan Syahrul Yasin Limpo mengatakan, untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, pengembangan produk turunan dan meningkatkan kesejahteraan petani, korporasi petani harus ditumbuhkan.

“Ini adalah arahan Presiden Jokowi. Penumbuhan korporasi petani menjadi salah satu program prioritas yang harus diwujudkan untuk membangun proses bisnis dari hulu ke hilir yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,“ ungkap Mentan.

Pada pertemuan tersebut, secara simbolis diserahkan bantuan kepada petani berupa benih kopi dan kakao.

Kepala BUMD Pesawaran, Ahmad Muslimin yang juga hadir menyampaikan bahwa BUMD Pesawaran kini memiliki mini pabrik kakao dengan kemampuan dan kapasitas pengolahan untuk memproses kakao menjadi produk jadi sebesar 5 kg per hari.

“Penyerapan kakao kering fermentasi mencapai 200 kg per hari dengan harga beli grade A Rp. 47.000 per kg, grade B Rp 42.000, dan grade C Rp 32.000,“ kata Ahmad.

Harga tersebut, menurut Ahmad tanpa dipengaruhi musim panen raya. Karena menurutnya pada saat panen raya, harga di tingkat petani selalu anjlok.

“Nah, salah satu fungsi BUMD, sesuai amanat Bapak Bupati adalah untuk mengatasi masalah tersebut,“ ungkapnya.

Direktur Jenderal perkebunan, Kasdi Subagyo menyampaikan bahwa apa yang telah dilakukan oleh BUMD Pesawaran merupakan hal yang sangat bagus.

“Walaupun kapasitas masih kecil, saya kira jika bisa direplikasi di tempat yang lain atau opsi yang lain, skalanya diperbesar,“ kata Kasdi.

Selain kakao, komoditas perkebunan yang berpotensi untuk dikembangkan di Lampung adalah kelapa.

“Kami sedang mengupayakan dan mengangkat kalapa genjah. Tiga tahun buahnya lebat dan batangnya pendek. Jadi, kalau ibu-ibu mau mengambil tidak mesti menunggu suaminya pulang karena bisa langsung petik,“ jelas Kasdi.

Di akhir pertemuan, Sudin dan anggota Komisi IV DPR RI serta jajaran Kementerian Pertanian menegaskan komitmennya untuk terus membantu meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kami semua yang hadir di sini berkomitmen untuk membantu petani dan pekebun,“ pungkasnya.