Ini Cara KKP Dorong Percepatan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu Natuna

Temu Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan SKPT Natuna di Hotel Natuna Kota Ranai, Kamis (15/10/2020).

MONITOR, Natuna – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Temu Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Natuna Tahun 2020 untuk koordinasi pelaksanaan pembangunan SKPT Natuna di antara para pemangku kepentingan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Organisasi/Asosisasi, Akademisi, BUMN/BUMD, Pelaku Usaha, Koperasi Nelayan dan Nelayan di Kabupaten Natuna.

Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020-2024 Bidang Riset dan Daya Saing Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS bersama jajaran KKP dan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi mengatakan pemerintah pusat dalam hal ini KKP serius mendorong akselerasi atau percepatan operasional SKPT Natuna yang sudah dibangun sejak tiga tahun lalu namun hingga saat ini belum beraktivitas dengan melakukan temu koordinasi dan kunjungan ke lokasi SKPT serta beberapa daerah lain.

“Salah satu metode kami melakukan temu koordinasi untuk menjaring setiap komponen apa sih sumbatannya. Kedua kami sudah melakukan kunjungan ke lokasi kemarin (Rabu, 14 Oktober 2020) seharian ke SKPT di Selat Lampa. Kami berkunjung juga ke pusat budidaya kerapu dan napoleon di Sedanau,” katanya disela-sela Temu Koordinasi Pelaksanaan Pembangunan SKPT Natuna di Hotel Natuna Kota Ranai, Natuna, Kamis (15/10/2020).

Dari kunjungan di lapangan tersebut, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB itu menyimpulkan bahwa potensi produksi sekitar 500 ribu baru sekitar 20 persen yang termanfaatkan atau sekitar 100 ribu. “Artinya room expantion atau potensi pemanfaatanya sangat besar baik potensi produksikelautan perikanan maupun pariwisata bahari,” ungkapnya.

Dapun terkait dengan belum beroperasionalnya SKPT Natuna hingga saat ini, Rokhmin membeberkan ternyata tetelah tiga tahun saat ini SKPT tersebut baru tahap mandiri keempat belum tahap operasional.

“Setelah kami selidiki ternyata salah satu faktornya adalah pembangunan kolam dermaga pelabuhannya belum selesai baru 60 persen, itu yang menyebabkan kalau kapal mau bertambat labu di Pelabuhan SKPT ini gelombangnya terlalu besar. Susah untuk mendaratkan ikan, bahkan ikannya bisa tercecer, kapalnya bisa rusak bentur-bentur dermaga,” terangnya.

Menurut Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut, KKP sendiri telah mengalokasikan anggaran baik yang bersumber dari APBN termasuk ada dana hibah dari Jepang yang akan mulai dibangun Januari.

“InsyaAllah akhir tahun 2021 pembangunan kolam Pelabuhan itu selesai. Mulai akhir tahun depan nelayan sudah mulai mendaratkan ikan di Pelabuhan dan industri pengolahan sudah mulai jalan. Saat itulah penjualan ikan bukan hanya untuk lokal tapi untuk nasional dan ekspor berjalan,” katanya.

Selain medorong sektor perikanan tangkap melalui akselerasi SKPT, Rokhmin menyebut pihaknya juga menyasar masayarakat pembudidaya ikan. “Potensi budidaya laut di natuna ini sangat besar, bayangkan hampir 99 persen wilayah di natuna merupakan laut sementara aktivitas budidaya hanya di Sedanau yang lain kurang,” ujarnya.

Salah satu sektor budidaya yang perlu didorong karena potensinya yang besar di Natuna adalah budidaya tambak terutama untuk udang vaname. “Untuk budidaya udang vaname asal kita terapkan dengan menggunakan teknologi yang tepat mulai dari pemilihan benih benur udang yang bebas penyakit, pemilihan pakan yang tepat dan manajemn kualitas air bagus insya allah akan sukses,” tuturnya.

“Kalau saya boleh sarankan minimal 2.000 hektare tambak udang vaname bisa dibangun di pulau natuna ini. Katakanlah kalau 2000 hektare tambak udang bisa menghasilkan 80 juta kg udang pertahun dikali 5 dolar itu sama dengan 400 juta dan jika dirupiahkan bisa 6 Triliun. padahal APBD Natuna hanya sekitar 1 Triliun kata wakil bupati tadi. Artinya dari udang saja bisa menghasilkan 6 kali lipat dari APBD,” jelasnya.

Sektor lain yang menurut Rokhmin Dahuri sangat berpotensi besar untuk dikembangkan di Natuna adalah pariwisata bahari. “Potensi bagus, pantai indah, terumbu karang tidak kalah bagus dengan bunaken, tinggal bagaimana promosinya dan ditopang pembangunan infrastrukturnya,” tandasnya.

“Dengan empat sektor tadi yakni perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan ikan dan pariwisata bahari, cita-cita untuk mewujudkan natuna yang maju, mandiri dan makmur saya kira akan mudah dicapai,” pungkasnya.