BISNIS

Penyediaan pakan berkualitas masih jadi kendala industri akuakultur di Indonesia

MONITOR, Jakarta – Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa selama beberapa dekade, perikanan budidaya atau akuakultur telah menjadi sektor yang tumbuh paling cepat dalam ekonomi pangan dunia, meningkat lebih dari 10% setiap tahun sejak tahun 1970-an. Saat ini, perikanan budidaya menghasilkan 52% (82,1 juta ton) produksi ikan global yang kita konsumsi.

“Mengutip data Organisasi Pangan Dunia (FAO)terbaru, produksi akuakultur dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 114,5 juta ton bobot hidup pada tahun 2018, dengan total nilai penjualan di pertanian mencapai 263,6 miliar dollar AS,” katanya saat memberikan sambutan acara Indonesian Aquafeed Conference (IAC) 2020 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (13/10/2020).

“Produksi perikanan budidaya global terdiri dari 82,1 juta ton hewan air (ikan sirip, krustasea, dan moluska) dengan nilai jual US $ 250,1 miliar; 32,4 juta ton alga air (kebanyakan rumput laut) dengan nilai jual US $ 13,3 miliar; dan 26.000 ton kerang hias dan mutiara dengan nilai jual US $ 179.000,” tambahnya.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu juga mengungkapkan perikanan budidaya juga memberikan kesempatan kerja yang besar, menciptakan efek pengganda yang besar, dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama di daerah pesisir dan pedesaan.

Menurut Rokhmin Dahuri sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai sekitar 99.000 km, 75% dari total luasnya berupa perairan laut, dan sekitar 28% luas daratannya berupa ekosistem air tawar (danau, sungai, dan waduk), Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya terbesar sekitar 100 juta ton per tahun.

“Pada tahun 2019 total produksi perikanan budidaya Indonesia sekitar 16,8 juta ton (17% dari total potensi), dimana 11 juta ton adalah rumput laut, dan 5,8 juta ton adalah ikan bersirip, krustasea, dan moluska. Sejak 2009 Indonesia telah menjadi produsen komoditas akuakultur terbesar kedua di dunia, setelah China,” terangnya.

Menyadari potensi yang begitu besar tersebut, pada masa jabatan kedua Pemerintahan Presiden Jokowi (2020 – 2024), jelas Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu Pemerintah Indonesia telah menempatkan budidaya perikanan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan ekonomi negara.

“Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan ekspansi besar-besaran dalam industri akuakulturnya, yang sebagian besar akan didasarkan pada spesies yang diberi makan seperti udang dan ikan tropis (bass laut, kerapu, kakap, bawal perak),” ujarnya.

Berdasarkan data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Rokhmin Dahuri yang saat ini menjabat sebagai Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2019-2024 Bidang Riset dan Daya Saing itu membeberkan total produksi perikanan budidaya (udang, kerapu, nila, lele, patin, barramundi, gurame, gurami dan ikan lainnya) mencapai 10.182.865 ton.

Menurut Rokhmin, Pemerintah sendiri melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah membentuk Komite Pengarah (SC) Penyediaan Pakan Ikan untuk Pengembangan Produksi Akuakultur melalui Surat Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya No 72 / KEP- DJPB / 2020 yang ditandatangani pada tanggal 18 Februari 2020 lalu.

“Salah satu tugas Komite Pengarah adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang penggunaan bahan pakan saat ini dan yang potensial untuk memastikan bahwa perluasan produksi yang dapat dicapai dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Rokhmin menjelaskan berdasarkan proyeksi produksi perikanan budidaya dari RPJMN dimana ada dua skenario untuk menganalisis kebutuhan bahan baku pakan ikan berdasarkan persentase tepung ikan (FM), yaitu: skenario 1: Persentase FM Pakan Udang 20%, Pakan Ikan 10-30% dan skenario 2 : Persentase FM Pakan Udang 30%, Pakan Ikan 15-40%, diketahui kebutuhan tepung ikan untuk mencapai target produksi budidaya dalam lima tahun ke depan (tahun 2024) mencapai 763.768 ton sesuai Skenario 1 dan 1.218.202 ton di bawah Skenario 2.

“Untuk memproduksi tepung ikan dalam jumlah ini, kami membutuhkan paling sedikit 4.646.835 ton ikan utuh di bawah Skenario 1 dan 6.919.005 ton ikan utuh di bawah Skenario 2,” katanya.

Rokhmin mengatakan masih ada beberapa celah besar dalam hal data produksi dimana belum ada data pasti seberapa besar produksi tepung ikan lokal maupun sumbernya. “Kita tidak tahu berapa banyak yang dihasilkan dari industri pengolahan (tuna, surimi, pelagis kecil, dll). Kita memiliki perkiraan permintaan, pengetahuan tentang impor dan daftar pabrik (dan kapasitasnya) tetapi tidak mengetahui tingkat produksi,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Rokhmin meminta Komite Pengarah untuk mengembangkan strategi dan rencana kerja lima tahun untuk memastikan bahwa perluasan produksi akuakultur yang diusulkan dapat dicapai, dan berkelanjutan.

Selain itu, penguatan data dan informasi juga harus menjadi skala prioritas. “Memiliki basis informasi yang kuat sangat penting untuk mendukung strategi yang akan disiapkan sebagai bagian dari proyek ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi, IAC 2020 merupakan forum pakan akuakultur tingkat nasional pertama di Indonesia. Forum ini bertujuan mempertemukan para stakeholders untuk menghadirkan solusi dalam penyediaan pakan yang berkualitas dan kompetitif dalam mendukung kemajuan industri akuakultur di Indonesia.

Tema yang akan diusung pada IAC 2020 ini adalah Quality, Efficiency & Credibility. Dan ada 5 topik utama yang akan dibahas terkait dengan : Industry Overview, Ingredient, Nutrition, Manufacturing & Sustainability.

Recent Posts

Pesta Rakyat HUT Ke-81 RI di Monas Jadi Panggung Perkuatan Ekonomi UMKM

MONITOR, Jakarta — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dimeriahkan salah satunya…

6 jam yang lalu

Respon Pidato Prabowo, Prof Rokhmin: Pertumbuhan Ekonomi Harus Berujung pada Lapangan Kerja dan Kesejahteraan

MONITOR, Jakarta – Pertumbuhan ekonomi dan berbagai capaian pembangunan yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam…

18 jam yang lalu

Kementerian UMKM Perkuat Standar Layanan Publik bagi Pengusaha UMKM

MONITOR, Jakarta – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memperkuat standar pelayanan publik untuk…

19 jam yang lalu

Naskah Doa Menag dalam Sidang Tahunan-Sidang Bersama 2026

MONITOR, Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin doa dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang…

1 hari yang lalu

Kemenhaj Turun Tangan Lindungi 33 Jemaah Umrah Gagal Berangkat di Bandara Soetta

MONITOR, Tangerang - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bergerak cepat memastikan hak dan pelindungan 33…

1 hari yang lalu

Kemnaker Siapkan Talenta Muda untuk Bangun Startup dan Ciptakan Lapangan Kerja

MONITOR, Bekasi — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan talenta muda agar mampu mengembangkan gagasan dan inovasi…

1 hari yang lalu