Jangan Abaikan Gangguan Skizofrenia!

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Pada umumnya, orang awam biasa mendefinisikan Skizofrenia sebagai halusinasi, delusi, dan memiliki pikiran yang kacau. Namun, hal ini tidak sepenuhnya salah. Melainkan, diagnosis yang lebih tepat harus dilakukan oleh ahlinya, karena harus mengikuti kriteria diagnostik tertentu.

Skizofrenia adalah gangguan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan baik. Penyebab pasti skizofrenia tidak diketahui, namun kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin berperan atas terjadinya gangguan.

Menurut, Psikolog RS Ciputra Hospital CitraGarden City, Meiske Yunithree Suparman, gangguan Skizofrenia memiliki 3 fase perjalanan klinis. Dimulai dari fase prodromal, yaitu fase awal terlihat gejala gangguan, seperti menarik diri dari lingkungan, konflik di tempat kerja, kesulitan berhubungan sosial, dan kurang mampu menjaga kebersihan diri.

Pada fase ini intervensi medis sudah seharusnya dilakukan untuk mencegah kondisi menjadi lebih serius dan tingkat pulihnya lebih memungkinkan karena dengan penanganan yang tepat pasien Skizofrenia bisa hidup mandiri dan aktif di tengah masyarakat.

Untuk itu, kesadaran untuk melakukan deteksi dini dari keluarga pasien ikut menentukan masa depan pasien Skizofrenia. Kemudian ada fase aktif, ditandai dengan kekacauan alam pikir, perasaan, tingkah laku. Pasien juga kesulitan membedakan kenyataan versus yang tidak nyata sehingga bicara menjadi kacau.

Selanjutnya, fase residual, yaitu fase sisa dengan gejala-gejala lanjutan, seperti halusinasi atau waham (keyakinan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan), menarik diri, afek tumpul atau datar serta gejala lainnya namun tidak menonjol. Pada sebagian besar kasus, gejala-gejala di atas seringkali terlihat tumpang tindih pada fase yang berbeda.

Gangguan Skizofrenia tidak memandang usia, gender, atau status ekonomi. Namun, gejalanya lebih banyak terdeteksi pada saat usia remaja atau dewasa awal karena pada usia tersebut adalah masa pertumbuhan transisi menuju masa yang lebih matang dan banyak permasalahan yang mungkin belum mampu terselesaikan sehingga mental cenderung mudah rapuh. Bila Skizofrenia sudah terdeteksi sejak dini, Meiske menyarankan agar segera dirujuk ke psikiater atau psikolog untuk mendapatkan penatalaksanaan penanganan lebih lanjut.

“Gangguan Skizofrenia merupakan suatu perjalanan panjang bagi mereka yang mengalaminya. Penanganan harus dilakukan sedini mungkin agar tidak terlambat, terlebih kemungkinan terjadinya kesembuhan akan lebih tinggi jika ditangani sejak dini. Untuk itu, diharapkan masyarakat mulai peduli pada permasalahan gangguan jiwa. Cara sederhana dengan mengenali gejalanya, tidak melakukan perundungan, jangan jauhi dan memberikan label buruk. Bantu mereka (pengidap Skizofrenia) mencari pertolongan ke ahlinya,” kata Meiske.

Menurutnya, keluarga juga merupakan faktor penting keberhasilan penanganan pengidap Skizofrenia. Ia menyarankan, agar keluarga dapat mencari dukungan dengan bergabung bersama komunitas-komunitas pengidap ataupun keluarga pengidap Skizofrenia.