POLITIK

Pilkada Tetap Dilanjutkan, PKS: Harus Disiapkan Skenario Terburuk

MONITOR, Jakarta – Pemerintah memutuskan tetap akan melanjutkan proses Pilkada ditengah pandemi, dengan catatan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Meskipun, banyak kalangan sudah mendesak agar penyelenggaraan Pilkada ditunda.

Legislator dari Fraksi PKS Mardani Ali Sera menyebut DPR, Pemerintah, dan KPU merupakan elemen yang paling bertanggungjawab atas apapun implikasi dari pelaksanaan pilkada ditengah pandemi saat ini. Untuk itu, ia meminta harus ada skenario terburuk yang disiapkan.

“Pilkada sudah masuk tahapan ke-10 dari 15 tahapan. Oleh karenanya, harus ada orkestrasi yang jelas untuk mengurus negara, khususnya menyelenggarakan pilkada. dan juga harus ada aturan yang jelas, sebab aturan sekarang masih memperbolehkan calon melakukan kampanye secata umum,” ujar Mardani, dalam webinar dengan tema Pandemi vs Pilkada, Selasa (29/9).

Sementara itu, koalisi kawal Covid-19 Asfinawati menyebut pelaksanaan pilkada ditengah kasus yang terus meningkat memperlihatkan perhatian pemerintah bukan pada keselamatan warganya. Semakin memperkuat asumsi publik bahwa Indonesia gagal menangani covid 19.

“Tanpa pandemi 2019 banyak korban jiwa karena kelelahan dan komorbid lainnya. Bayangkan disaat pandemi dan penangulanngnya yang buruk akan sangat membahayakan. Seharusnya pesta politik 5 tahunan di daerah, bisa menjadi tragedi kemanusiaan,” jelasnya.

Pengamat politik Hendri Satrio menyebut sulit untuk begitu saja menunda pilkada, oleh karenanya dalam beberapa minggu kedepan pemerintah dan KPU harusnya membuat beragam skenario Pilkada ditengah pandemi yang merupakan masukan dari para dokter atau epidimologi.

“Opsinya ada, seperti ditunda ke 2021 yang bagi aktor-aktor yang terlibat sulit menerimanya. Atau untuk daerah-daerah yang riskan dan tingkat penyebarannya tinggi ditunda, dan untuk daerah yang sudah masuk zona hijau tetap dilanjutkan,” jelasnya.

Pada dasarnya pelaksanaan pesta demokrasi lima tahun didaerah merupakan hak dasar yang harus didapatkan oleh masyarakat, akan tetapi hak hidup dan merasakan aman dari ancaman pandemi harus lebih didahulukan selangkah. Kini semuanya tergantung pemerintah untuk mengambil kebijakan yang maslahat dengan tidak melanggar hak-hak tersebut.

Recent Posts

Rokhmin Dahuri: Ekonomi Biru Jadi Game Changer Indonesia Menuju 2045

MONITOR, Tanjungpinang - Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam ekonomi…

4 jam yang lalu

Tinjau Peserta TIH, Menaker Minta Buktikan Keunggulan Produk

MONITOR, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta peserta Talent and Innovation Hub (TIH) memastikan…

11 jam yang lalu

Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana

MONITOR, Jakarta - Di tengah bentang Samudra Hindia, Pulau Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra…

23 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Subkultur Pesantren Menjadi Identitas dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag., menegaskan bahwa…

1 hari yang lalu

Analis: Listyo Sigit di KSP Perkuat Perspektif Keamanan dalam Pengawalan Pembangunan

MONITOR, Jakarta - Perpindahan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari posisi Kapolri ke Kepala Staf…

1 hari yang lalu

Panen Padi Temanggung Tembus 10,2 Ton/Ha, Komisi IV DPR dorong Pemupukan Berimbang

MONITOR, Temanggung - Produktivitas padi di demplot seluas 5 hektare di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto,…

1 hari yang lalu