China Disebut Hancurkan Ribuan Masjid Sejak 2017

Laporan tersebut disampaikan oleh Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI)

Seorang warga Xinjiang, China, dari etnis Uighur sedang adzan di atas salah satu masjid. (Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Pemerintah China disebut telah menghancurnan ribuan masjid dan menghapus sejumlah situs keagamaan etnis Uighur, Kazakh, dan anggota kelompok etnis Asia Tengah lainnya di Xinjiang.

Berdasarkan laporan yang diterbitkan oleh Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), diperkirakan sekitar 8.500 masjid di seluruh Xinjiang telah dihancurkan sejak 2017. Angka tersebut bisa dibilang lebih dari sepertiga jumlah masjid yang menurut pihak otoritas China berada di wilayah tersebut.

“Apa yang ditampilkannya adalah kampanye penghancuran dan penghapusan yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Kebudayaan,” ungkap peneliti ASPI, Nathan Ruser, seperti dilansir dari The New York Times, Jumat (25/9/2020).

Nathan menyebutkan bahwa selama kekacauan dalam kurun waktu satu dekade yang berlangsung dari 1966 di bawah kepemimpinan Mao Zedong, China banyak menghancurkan masjid dan situs keagamaan.

ASPI mengumpulkan sampel acak dari 533 situs masjid yang berada di seluruh Xinjiang, dan menganalisis gambar satelit dari setiap situs yang diambil pada waktu yang berbeda untuk menilai perubahan. Mereka mempelajari keadaan kawasan kuil, kuburan dan situs suci lainnya melalui sampel dari 382 lokasi yang diambil dari survei yang disponsori negara dan publikasi daring.

Menanggapi hal itu, Pemerintah China pun menepis laporan pembongkaran atau penghancuran secara luas situs keagamaan tersebut dan menyebutnya sebagai ‘omong kosong’ serta mengatakan bahwa mereka menghargai bahkan melindungi dan justru memperbaiki masjid.

Pejabat China menuduh ASPI berusaha memfitnah China. Mereka juga menuding ada campur tangan Amerika Serikat (AS) dalam skenario fitnah tersebut karena ASPI mendapat dana dari Pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Akan tetapi, ASPI pun membantah dan mengatakan bahwa penelitiannya itu sepenuhnya berasal dari pemberi dana independen.

Ortoritas China saat ini telah menempatkan kontrol ketat pada pergerakan di Xinjiang dan membatasi aliran informasi keluar dari wilayah tersebut. Tentu hal ini menjadi tantangan untuk menilai skala kehancuran di wilayah tersebut.

“Apa yang kami lihat di sini adalah penghancuran yang disengaja terhadap situs-situs yang dalam segala hal merupakan warisan orang Uighur dan warisan tanah ini,” ujar Rachel Harris, seorang ahli musik dan budaya Uighur di Universitas London yang meninjau laporan tersebut.

Banyak tempat suci dan pemakaman yang merupakan perwujudan tradisi Islam dari Uighur baru-baru ini ditutup atau dihancurkan oleh pihak berwenang.

Jika melihat sejarah, di Ordam, ada sebuah kuil terkenal di gurun selatan Xinjiang yang selalu dipakai berkumpul para peziarah selama lebih dari 400 tahun untuk merayakan kenangan seorang pemimpin yang membawa Islam ke wilayah tersebut dan melawan kerajaan Buddha.

Namun pada 1990-an, Pemerintah China semakin gelisah dengan perluasan masjid dan kebangkitan kembali tempat suci di Xinjiang itu. Para pejabat melihat berkumpulnya peziarah sebagai penyulut bagi pengabdian agama dan ekstremisme yang tidak terkendali, dan serentetan serangan antipemerintah oleh orang Uighur yang tidak puas membuat pihak berwenang gelisah.

Akhirnya, pihak berwenang pun melarang festival dan ziarah di Ordam pada 1997, dan tempat suci lainnya ditutup pada tahun-tahun berikutnya. Tetap saja, beberapa pengunjung dan turis terus berdatangan untuk berkunjung.

Penutupan sebelumnya dan larangan kunjungan ke kuil merupakan awal dari kampanye yang lebih agresif dari pemerintah.

Pada awal 2018, kuil Ordam, yang terisolasi di gurun dan hampir 50 mil dari kota terdekat telah diratakan untuk menghapus salah satu situs terpenting warisan Uighur.

Gambar satelit dari waktu itu menunjukkan masjid, ruang salat dan perumahan sederhana tempat para penjaganya pernah tinggal telah dihancurkan. Tidak ada berita tentang apa yang terjadi pada lokasi para peziarah yang sempat meninggalkan daging, biji-bijian dan sayuran yang dimasak oleh penjaga kuil untuk menjadi makanan suci itu.

“Anda melihat nyata dan apa yang tampaknya merupakan upaya sadar untuk menghancurkan tempat-tempat yang penting bagi orang Uighur, justru karena itu penting bagi orang Uighur,” kata Thum.

Dalam beberapa kasus, pemerintah menghancurkan masjid atas nama pembangunan. Ketika wartawan Times mengunjungi Kota Hotan di selatan Xinjiang tahun lalu, mereka menemukan sebuah taman baru di mana gambar satelit menunjukkan telah ada masjid hingga akhir 2017.

Mereka menemukan empat situs lain di kota tempat masjid pernah berdiri yang sekarang menjadi taman baru atau sebidang tanah kosong, dan satu masjid yang setengah roboh. Masjid pusat utama di Hotan tetap ada, meski hanya sedikit orang yang hadir, bahkan untuk salat Jumat.

Di Kashgar, kota besar di selatan Xinjiang, hampir semua masjid di pusat kota tampak tertutup, dengan perabotan ditumpuk di dalam, berdebu. Satu masjid telah diubah menjadi bar. “Ini seperti saya kehilangan anggota keluarga di sekitar saya karena budaya kami diambil,” kata Mamutjan Abdurehim, seorang mahasiswa pascasarjana Uighur dari Kashgar yang sekarang tinggal di Australia dan telah mencari informasi tentang istrinya di Xinjiang.

Kendati demikian, memang tidak semua situs religius dihancurkan. Beberapa di antaranya sekarang menjadi tempat wisata resmi dan tidak lagi berfungsi sebagai situs ziarah, seperti Mausoleum Afaq Khoja yang terkenal di Kashgar. Pemakaman Uighur yang luas di tepi Kashgar itu sejauh ini bertahan, namun pihak keluarga dari orang-orang yang dikubur disitu sudah berhenti untuk merapikan kuburan dan memberi penghormatan.

Orang Uighur mencatat bahwa tempat suci telah dihancurkan dalam beberapa dekade sebelumnya, kemudian dibangun kembali, dan mereka dapat bangkit kembali. Tapi mereka gentar dengan skala pemberantasan baru-baru ini.

“Intensitas tindakan keras ini cukup mengejutkan. Banyak orang Uighur yang ingin berharap cukup pesimis, termasuk saya,” ungkap Abdurehim.