Pakar: Kejayaan Jalur Rempah Masa Silam Bisa Dicapai dengan Visi Poros Maritim Dunia

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Prof Ir Rokhmin Dahuri (ist)

MONITOR, Jakarta – Pakar Kemaritiman Prof Rokhmin Dahuri mengatakan bahwa rempah Indonesia telah diperdagangkan sekitar 4.500 tahun silam, menempuh Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa. Jalur rempah inilah yang menjadi simpul peradaban bahari Nusantara dan warisan budaya kebanggaan Indonesia.

“Sebab itu, Indonesia tengah mengusulkan jalur rempah ke UNESCO sebagai world heritage, yang diharapkan disahkan pada 2024 atau 2025, katanya saat menjadi narasumber dalam webinar International Forum on Spice Route (IFSR) 2020 yang diselenggarakan Yayasan Negeri Rempah dan Maritim Muda Nusantara dalam rangka peringatan Hari Maritim Nasional di Jakarta, Rabu (23/9/2020).

“Indonesia bisa menggunakan jalur rempah ini untuk menjalin kejasama secara win-win dan terhormat dengan China’s OBOR Program dan negara-negara lain.  Tujuannya, untuk memperkuat dan mengembangkan industri dan ekonomi kelautan nasional melalui investasi, bisnis, transfer teknologi dan etos kerja bagi kepentingan nasional Indonesia,” tegas Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB tersebut.

Menurut Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2002-2004 itu Indonesia bisa menggunakan Jalur Rempah untuk memperkuat kapasitas dan power diplomasi di tingkat global dimana kejayaan jalur rempah di masa silam ini ingin kembali dicapai dengan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

“Presiden Jokowi dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, telah mendeklarasikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Namun, untuk jalur rempah sebagai platform untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim tidak akan tewujud jika negara kita masih tertinggal dari negara lain,” terangnya.

“Pertumbuhan ekonomi yang rendah karena masih banyak penduduk miskin, angka pengangguran tinggi, dan penguasaan teknologi yang rendah. Padahal, potensi ekonomi kelautan bisa memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional jika diserahkan kepada ahlinya,” tandas Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut. 

Rokhmin Dahuri yang saat ini menjabat Koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2019-2024 Bidang Riset dan Daya Saing itu menekankan strategi yang harus dijalankan untuk mengembangkan ekonomi maritim agar cita cita sebagai poros maritim dunia adalah dengan revitalisasi seluruh sektor dan bisnis ekonomi kelautan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutannya.

Selanjutnya, pengembangan sektor-sektor dan bisnis ekonomi kelautan di sepanjang ALKI, wilayah pesisir dan pulau kecil di luar Jawa, dan wilayah terdepan (beranda) NKRI berbasis Kawasan Industri Maritim Terpadu untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dan pemerataan pembangunan serta kesejahteraan di seluruh wilayah NKRI.

“Secara potensi, sektor ekonomi kelautan bisa menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sekali lagi, kalau diserahkan pada ahlinya, bukan yang hanya obral janji,” jelasnya.