Disertasi Karya Ilmiah PTKI; Periwayatan Hadist hingga Persinggungan Agama dan Budaya

Tadarus Litapdimas ke-21

MONITOR, Jakarta – Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama (Kemenag RI), Prof. Dr. Suyitno, M.Ag menekankan pentingnya publikasi riset terutama disertasi di lingkungan PTKI tidak hanya dalam rangka memenuhi syarat sebagai sebagai doktor dalam menempuh akademik Strata Tiga (S3).

“Hasil disertasi atau riset harus memiliki dua fungsi yaitu menjawab persoalan dan manfaatnya untuk masyarakat,” kata Suyitno saat menjadi pembicara kunci diskusi rutin “Tadarus Litapdimas serie 21; Menguak Teks, Tradisi, dan Otoritas Keilmuan” Direktorat PTKI Kemenag RI yang digelar secara virtual pada Selasa, 22/9/2020).

Prof Suyitno yang juga Guru Besar UIN Palembang itu menegaskan bahwa mensosialisasikan riset sangat penting baik untuk individu maupun kelembagaan. Untuk itu dirinya berharap karya-karya insan PTKI dapat dipublikasikan secara luas dan terpenting lagi menjawab persoalan yang ada di masyarakat.

“Karya ilmiah dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam seperti disertasi, selama ini jarang dikenal publik. Sebagian besar disertasi hanya bermanfaat untuk penulis dan sebagian kecil akademisi yang hadir saat promosinya saja, padahal tidak sedikit kajian keislaman di PTKI melalui disertasi dapat dimanfaatkan masyarakat juga,” tegasnya.

Suyitno juga menekankan, salah satu kemanfaatan itu melalui diseminasi hasil riset disertasi di lingkungan PTKI. “Hasil disertasi atau riset harus memiliki dua fungsi yaitu menjawab persoalan akademik yang ditelitinya dan dapat bermanfaat, memberi solusi bagi masyarakat,” kata Suyitno.

Diskusi Rutin Mingguan Tadarus Litapdimas seri ke-21 sendiri mengambil tema “Menguak Teks, Tradisi, dan Otoritas Keilmuan”. Tadarus yang berasal dari klaster bantuan penelitian afirmasi program pascasarjana di PTKI ini menghadirkan 3 pembicara, Dr. Zunly Nadia, M.A., M.Hum., Dr. Awal Muqsit, Lc., M.Phil, dan Dr. Ade Fakih Kurniawan, M.Ud.

Zunly Nadia, dosen dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAISPA) Yogyakarta mempresentasikan mengenai “Sahabat Perempuan dan Periwayatan Hadits; Kajian atas Subyektifitas Perempuan dalam meriwayatkan Hadits” .

Menurutnya, ada lima kategori yang dipilah dalam subyektifitas sahabat perempuan dalam periwayatan hadits, yakni peran dan ideologi politik, aktifitas, profesi, rumah tangga Nabi Muhammad SAW, dan hadits misoginis.

Zunly menemukan 7.761 hadits yang diriwayatkan Sahabat Perempuan dalam kitab hadits. Jumlah itu setidaknya dapat memberikan rujukan bagi masyarakat muslim bahwa keterlibatan perempuan dalam ruang publik dapat menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan yang selama ini dianggap masih tabu.

“Upaya untuk mengembalikan posisi perempuan bukan dengan membatasi peran mereka di ruang pubilik, tetapi justru memberi kesempatan, keamanan, kenyamanan di ruang publik seperti para perawi Sahabat Perempuan,” terangnya.

“Memposisikan perempuan di publik bukan sebagai objek, tetapi sebagai subyek, peran perempuan secara sosial dan intelektual yang bisa memberikan kontribusi nyata,” tegasnya dengan menyebut sumber primer dari kitab hadits-hadits Thabaqat I-VII.

Berdasarkan data tersebut, Zunly menggaris bawahi, bahwa perawi hadits perempuan itu terbanyak pada masa Nabi Muhammad SAW. Perempuan perawi hadits atau intelektual publik semakin sedikit pasca era Nabi Muhammad Saw.

Di antara nama-nama sahabat perempuan itu Aisyah bint Abu Bakar, Hindun bint Abi Umayah, Asma’ bint Abu Bakar, Hafsah bint Umar, Nusaibah nint Ka’ab, dan Fathihah bint Abi Thalib.

Dr. Ade Fakih Kurniawan, M.Ud. dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin (UIN SMH Banten) yang membawakan disertasi yang diajukan di UIN Yogyakarta: Cultural Negotiation, Authority, and Discursive Tradition: The Wawacan Seh Ritual in Banten.

Disertasi tersebut diangkat untuk menjawab adanya tradisi-tradisi yang dipertanyakan islami atau tidak islami di Banten.

“Tema diambil karena diskhusus kegamaan islam dengan tradisi. Tahun 2009 Banten terdapat beberapa polemik soal debus yang dianggap biah atau syirik. Tahun 2007 dan 2003 penurunan patung dibeberapa wilayah Banten, karena khawatir disakralkan,” ungkapnya.

“Penelitian di Anyer. Menggunakan dua cara berfikir, pronik dan simpronik, yaitu data sejarah sedangkan singkronik perbandingan anatara satu wilayah dengan wilayah yang sama,” tandasnya.

Dr. Awal Muqsith, Lc., M.Phil dari UIN Alauddin Makassar memaparkan soal “Konsep Bernegara Masyarakat Bugis dalam Lontara Latoa: Tinjauan Filsafat Politik Islam” dimana salah satu manuskrip dalam peradaban literasi Bugis tentang kumpulan ucapan dan petuah raja dan orang bijak ialah Lontara Latoa.

Menurut Awal, penelitian cukup menarik karena islam dihadirkan bukan sebagai perusak dalam seni budaya akan tetapi sebaliknya tidak merusak kultur budaya, politik islam. “Perkataan-perkataan hadist di dalam Latoa itu berhubungan dengan masalah politik,” katanya.

Yang menarik menurut Ade dari riset ini Latoa tidak hanya mengebalorasi tetapi konsep ini tidak ditemukan secara gamblang. “Didalam latoa jelas dielaborasi kapan hak rakyat tidak dipenuhi,” terangnya.

Sebagai pembahas, Direktur Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Phil. Asep Saefuddin Jahar, M.A mengapresiasi tiga karya disertasi yang dipresentasikan yang menurutnya sangat menarik baik dari segi kajian teks maupun konteksnya.

“Ketiganya, jika dibuatkan level itu sudah sejajar dg kajian disertasi di universitas Barat atau Eropa.”

Sementara itu, Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Suwendi mendorong para dosen PTKI meningkatkan kompetensinya untuk menjadi guru besar yang saat ini masih minim di PTKI.

“Pada Program Studi (Prodi) yang kita miliki didapati ada 3571 yang tidak ada guru besar-nya, sedangkan profesor 434. Artinya masih ada 3000-an prodi. Minimal harus ada satu guru besar di satu prodi,” katanya.

“Jika sebuah prodi tidak ada minimal satu guru besar-nya itu bagikan pesantren tidak ada kiai-nya,” tegas Suwendi.

Suwendi mengajak kepada semua insan PTKI untuk terus menggelorakan riset dan disiplin keilmuan sebagai budaya perguruan tinggi di kampus masing-masing.

“Riset luar biasa, displin keilmuan adalah contoh perguruan tinggi kita. Mari saling berkolaborasi dan bekerja sama, mendorong riset-riset agar memiliki kualitas disertasi yang sangat bagus dan patut ditonjolkan,” ungkapnya.

Diskusi selama kurang lebih 2 jam secara online itu dipandu oleh Kasi Penelitian dan Pengelolaan HKI, Dr. Mahrus. Ia menilai disertasi yang disajikan sangat menarik dan perlu mendapat perhatian khusus sebagai karya intelektual sekaligus menjawab persoalan-persoalan yang ada di masyarakat.

“Desertasi ini penting, dan perlu diketahui masyarakat. Masyarakat sekitar wajib tahu jika pernah diteliti dan berikan hasil penelitiannya,” ujar Mahrus.