Oleh: Riswadi, M.Pd.*
Ketika saya jalan pagi, menjumpai anak-anak usia sekolah saat jam sekolah bermain bersama temannya dengan asyik. Dan saat kejar-kejaran, anak-anak tersebut saling mengolok dan mengeluarkan bahasa kotor dan jorok. Kemudian naluri pendidik saya keluar dan saya panggil, untuk menanyakan, “kenapa kamu jam segini kok main, emang nggak sekolah online ?”, kemudian anak tersebut menjawab, “nggak om sekolah hanya memberikan tugas aja setiap hari, melalui whatshapp group”. Kemudian saya bertanya balik, “terus gurumu nggak pernah mengajar melalui video dan menjelaskan isi materi termasuk mengajarkan akhlaq atau budi pekerti yang baik, kok kamu ngomong kasar dan nggak sopan ?, anak tersebut menjawab, “nggak om, nggak pernah dijelaskan melalui video atau melalui rekaman suara.”
Mendengar jawaban anak tersebut, saya menjadi bertanya-tanya, bagaimana kalau orang tua dan masyarakat tidak mendukung dalam pendidikan, sementara guru juga acuh atau abai tentang hal ini, maka seperti apa nasib karakter generasi penerus bangsa.
***
Pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh menjadi pilihan para penyelenggara pendidikan dengan asumsi bahwa transfer knowledge dapat tetap berlangsung. Namun seberapa efektifkah pembelajaran daring ? bagaimana nasib pendidikan karakter yang selama ini menjadi ciri khas kurikulum 2013 yang digaungkan oleh pemerintah ? sebenarnya pendidikan karakter di era new normal pandemi covid-19 menjadi tanggung jawab siapa ?
Kalau mencermati permasalahan dilapangan, terdapat banyak keluhan oleh guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik itu sendiri. Permasalahan itu antara lain penguasaan teknologi yang dimiliki oleh guru dan orang tua serta peserta didik, semakin membengkak biaya paket data (kuota), kondisi jaringan telekomunikasi yang belum merata, tidak semua memiliki smartphone.
Selain itu, problem ketelatenan dan kesabaran orang tua saat pendampingan anak dalam pembelajaran, tugas-tugas pembelajaran yang terlalu banyak, ketidakjujuran orang tua dalam mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepada anak.
Itu belum semua. Ketercapaian materi pembelajaran yang kurang efektif, feedback atau umpan balik dari guru dan siswa yang tidak optimal, durasi waktu pembelajaran jarak jauh yang tidak sama dengan pembelajaran langsung, muatan pendidikan karakter dalam mata pembelajaran dan ekstra kurikuler kurang optimal, serta radiasi cahaya yang ditimbulkan dari hand phone. Dan masih banyak lagi permasalahan yang muncul sebagaimana pemberitaan dimedia massa sebagai contoh kekerasan terhadap anak dalam pendampingan pembelajaran.
Dengan kondisi tersebut, seakan urusan pendidikan itu hanya semata-mata menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan. Lantas, bagaimana sudah tujuh bulan melaksanakan pembelajaran daring. Bisa jadi ada penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia akibat dampak pandemi covid-19. Terlebih tentang pendidikan karakter yang selama ini menjadi fokus kebijakan pemerintah.
NASIB DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN KARAKTER
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) yang bergerak dibidang pendidikan, pengetahuan dan budaya mencanangkan empat pilar pendidikan, dan yang terkait pembentukan karakter ditunjukkan dalam pilar ketiga dan keempat yakni learning to be (belajar agar bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi seorang yang bermanfaat) dan learning to live together (belajar agar bisa hidup bermasyarakat secara global).
Dan dalam kurikulum 2013 juga menegaskan, ada dua kompetensi yang memperkuat karakter, yaitu kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial. Rumusan kompetensi sikap spiritual yaitu “menghargai dan mengahayati ajaran agama yang dianutnya”. Adapun rumusan kompetensi sikap sosial yaitu, “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya”.
Kedua kompetensi tersebut akan membentuk karakter peserta didik yang dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Kondisi dimana saat ini pada masa pandemi covid-19 maka peserta didik harus learn from home (belajar dari rumah) maka guru tidak memungkinkan dapat secara efektif memberikan pendidikan karakter secara langsung seperti di sekolah. Sehingga peran guru dalam penguatan karakter melalui mata pelajaran sedikit banyak akan mengalami kendala. Apalagi melalui ekstra kurikuler dan program sekolah pastinya tidak dapat dilakukan. Walaupun dengan teknologi yang canggih pasti tidak dapat seoptimal pembelajaran secara luring (pembelajaran tatap muka).
Menurut hemat penulis bahwa ketika dalam Era New Normal Pandemi Covid-19 ini sejatinya mengembalikan sepenuhnya kepada orang tua dan lingkungan dalam pendidikan karakter generasi kita. Sebagaimana ungkapan dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah”.
Dari ungkapan Ki Hajar Dewantara tersebut setidaknya ada dua hal, Pertama, bahwa setiap anggota keluarga yang lebih dewasa dapat memerankan diri sebagai guru untuk mengajarkan pengetahuan, keterampilan, sikap sosial dan spiritual, keteladanan, asah, asih, dan asuh, saling menghargai, kedisplinan, tanggung jawab, dan lain-lain. Kedua, bahwa setiap rumah hendaknya menjadi tempat untuk berproses bersama anggota keluarga untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan spiritual yang akan membawa pendidikan karakter demi masa depan bangsa.
Pengetahuan, keterampilan, spiritual, sosial, karakter yang baik tidak serta merta harus mengandalkan ruang-ruang kelas melalui tenaga pendidik yang secara resmi mengajar disekolah, namun seyogyanya bisa diperoleh dan lebih dominan dari orang tua dan orang dewasa dirumah atau dilingkungan dimana bertempat tinggal (Community Based Education).
Beberapa alternatif yang dapat dilakukan dalam memperkuat pendidikan karakter dimasa pandemi covid-19 antara lain:
Pertama,Optimalisasi rumah menjadi sekolah. Peran orang tua dalam mendidik anak, sudah menjadi kewajiban, oleh karenanya rumah harus menjadi school of love atau baitii jannati. Rumah harus dijadikan tempat yang nyaman, enjoy, menyenangkan dan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya anak. Orang tua sebagai role model mereka dirumah. Menurut Megawangi (2003) beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak adalah 1) orang tua kurang menunjukkan kasih sayang mereka baik verbal maupun fisik, 2) kurang meluangkan waktu untuk anaknya, 3) bersikap kasar terhadap anak baik secara verbal maupun fisik, 4) memaksa anak untuk manjadi pintar terlalu dini, 5) tidak menanamkan karakter yang baik dan kuat terhadap anaknya.
Kedua, Kampung sadar pendidikan. Masyarakat idealnya juga menjadi sekolah bagi anak, karena mereka bermain , bersosialisasi, dan melaksanakan aktifitas kemasyarakatan semua mengandung unsur pendidikan. Dengan demikian seluruh komponen masyarakat harus turut serta dalam mendidik anak-anak yang baru berkembang agar lebih terarah. Bisa dilakukan dengan pola yang sudah kuliah memberikan bimbingan belajar kepada adik-adik SMA/MA, SMP/MTs dan bagi anak SMA/MA membimbing anak-anak SD/MI serta TK/RA dan PAUD, atau orang dewasa memberikan pendampingan bagi anak remaja, sehingga dalam kampung tersebut memiliki komitmmen yang sama untuk mendidik anak dalam rangka menguatkan pengetahuan, keterampilan dan karakter generasi yang akan datang.
Ketiga, Guru Kunjung. Berdasarkan permasalahan pembelajaran daring yang begitu banyak, maka alternatif yang perlu dilakukan oleh guru adalah mengunjungi peserta didik dan dikelompokkan 5-10 orang pada zona tertentu serta tetap memperhatikan protocol kesehatan. Agar kesulitan pembelajaran dan penguatan karakter dapat diwujudkan.
Keempat, Membuat rumah baca setiap RT, agar lingkungan menjadi bagian dari pendidikan, sarana prasarana pendukung sebaiknya juga perlu dipersiapkan. Kalau dalam rukun tetangga ada rumah baca, tentu akan mendukung kesadaran masyarakat agar lebih banyak membaca. Dan sebagai tempat untuk belajar mengajar diluar sekolah.
Pendidikan karakter di masa learn from home atau di era new normal pandemi covid-19 ini, menurut hemat penulis lebih dominan menjadi tanggung jawab orang tua dan lingkungan. Tentu tidak menafikan peran guru dalam pembelajaran daring. Orang tua dan lingkungan sangat berperan dalam membentuk karakter anak, maka selamatkanlah anak-anak kita, jangan sampai bernasib SALAH ASUH DAN SALAH GAUL. Sehinngga kita akan menyesal selama-lamanya karena memiliki anak yang tidak dapat dibanggakan baik didunia maupun diakhirat. Naudzubillahi min dzalik. Wallohu a’lamu bisshowab.
*Riswadi, M.Pd., merupakan Sekretaris Wilayah PW. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalimantan Timur dan ASN pada IAIN Samarinda.