Jumat, 24 September, 2021

Warganet China Berdebat Sengit Soal ‘Tembok Besar Palsu’

Replika Tembok Besar itu ada di Taman Ekologi Xixiaguaishiling, Nanchang.

MONITOR, Jakarta – Warganet di China terlibat dalam perdebatan sengit terkait munculnya replika Tembok Besar di Taman Ekologi Xixiaguaishiling, Nanchang, yang dibangun dengan biaya sebesar 100 juta yuan atau sekitar Rp216,5 miliar.

‘Tembok Besar Palsu’, nama yang disematkan para wisatawan untuk situs tiruan di Ibu Kota Provinsi Jiangxi itu sebenarnya berupa jalan setapak yang membentang sepanjang 4 kilometer di atas perbukitan dengan dilengkapi menara pengawas persis seperti Tembok Besar asli yang ada di Beijing.

“Membuang-buang uang saja untuk benda tiruan buruk itu. Kita sudah punya Tembok Besar,” ungkap seorang warganet China yang menamakan dirinya, Niu, pada Rabu (9/9/2020) waktu setempat.

“Berapa Tembok Besar di pelosok negeri ini yang benar-benar peninggalan purbakala? Apakah kalian tahu Tembok Besar di China itulah sejarah yang sebenarnya? Apa yang ada di Nanchang memudahkan masyarakat setempat merasakan pengalaman Tembok Besar tanpa harus meninggalkan kotanya,” ujar Xiaolizi seorang warganet lainnya menimpali.

- Advertisement -

Selain menyoroti biaya pembuatannya, ada juga beberapa warganet lain yang lebih mengkhawatirkan pembangunan replika Tembok Besar itu akan merusak ekologi hutan yang ada di sekitarnya.

“Ini akan merusak ekologi dan berdampak pada satwa liar di sekitarnya,” kata warganet bernama Chaishenjie.

Penanggung jawab pemasaran ‘Tembok Besar Palsu’, Yu, mengungkapkan bahwa objek wisata tersebut sebenarnya dibangun untuk mencegah kebakaran hutan.

“Sekitar 70 persen area hutan. Untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan, kami putuskan membangun pagar pembatas kebakaran hutan itu menyerupai Tembok Besar,” ungkapnya seperti dikutip dari media resmi setempat.

Yu mengatakan bahwa pembangunan ‘Tembok Besar Palsu’ dimulai pada 2013 dan rampung pada 2018 dengan menghabiskan biaya 100 juta yuan.

“Kami tidak pernah mempromosikan bangunan ini sebagai ‘Tembok Besar’. Nama itu keluar dari mulut para wisatawan. Sebagian besar wisatawan tertarik karena mereka sangat menikmatinya tanpa harus ke Beijing,” katanya.

“Memang Tembok Besar di Beijing selalu dipadati pengunjung sehingga sebagian besar merasa kurang nyaman menyusuri peninggalan bersejarah tersebut,” ujar Yu menambahkan.

Sumber: Antara

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER