Kamis, 29 Juli, 2021

Berjuang Melawan Covid-19 dan Stigma di Masyarakat

Oleh: Riswadi

Seseorang apabila dinyatakan positif terkonfirmasi hasil swab virus covid-19, sudah dapat dipastikan akan mengalami stress atau kepikiran, apakah dapat melawan virus covid-19 atau justru mengalami kondisi yang fatal yakni kematian.

Kondisi ini secara manusiawi masih takut dengan kematian, apalagi ditambah dengan pemberitaan yang setiap hari di media massa semakin banyak kasus yang terkonfirmasi positif. Terlebih lagi yang mengalami gejala baik ringan, sedang dan berat, sudah dapat dipastikan akan merasakan kondisi badan yang tidak karuan yang diakibatkan oleh virus covid-19 dan akibat stress atau kepikiran.

Bagi yang tidak mengalami gejala, tidak terlalu mempermasalahkan, hanya saja akhir-akhir ini ada kasus yang tidak bergejala juga mengalami happy hypoxia syindrome, yakni kondisi seseorang dengan kadar oksigen rendah dalam tubuh. Namun, ini masih diperlukan penelitian yang mendalam oleh para ahli untuk memastikan bahwa seseorang yang terkonfirmasi covid-19 dengan tidak bergejala tetapi mengalami kematian akibat kadar oksigen rendah dalam tubuhnya.

- Advertisement -

Hal tersebut dijelaskan oleh Dokter spesialis paru sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Susanto dalam Kompas.com beberapa waktu lalu.

Oleh karenanya, seseorang yang dinyatakan positif covid-19 sudah pasti dengan sekuat tenaga untuk melawan virus yang menyeramkan banyak orang, yakni dengan cara menjaga imun, mengelola stress, dan istirahat yang cukup serta mengkonsumsi vitamin dan makanan yang sehat. Apabila tubuh mampu melawan virus tersebut selamatlah mereka dari ancaman covid-19 yang telah menelan korban ribuan orang. Akan tetapi apabila tidak mampu melawan maka kondisinya sudah dapat dipastikan akan mengalami gagal pernafasan yang berujung kematian.

Dalam perjuangan melawan covid-19 telah kami uraiakan dalam tulisan saya yang berjudul “Jaga Iman, Imun, Aman dan Amin di Era New Normal Pandemi Covid-19 dan Memanjakan Imin Saat Menjalani Isolasi Mandiri” disisi lain kita juga harus berjuang untuk menghadapi stigma di masyarakat atas efek samping bagi seseorang yang terkonfirmasi positif covid-19 pada saat menjalani isolasi mandiri maupun pasca isolasi. Stigma dapat menimbulkan depresi dan perasaan terkucilkan pada mereka yang berjuang melawan covid-19.

Stigma akan mengganggu upaya menghentikan wabah. Orang yang merasa khawatir akan dijauhi atau diperlakukan buruk akan menghindari tes atau pengobatan. Tapi tindakan mereka justru akan menyebarkan virus dan menghalangi usaha untuk mengontrol wabah.

Ingat, siapapun berpotensi dapat tertular virus ini, seperti yang diberitakan di media massa, pangeran, selebriti, pejabat, orang kaya atau miskin, kyai atau santri, semua bisa menularkan atau ditularkan. Kita tidak tahu siapa yang membawa virus karena ada orang yang tak bergejala namun dapat menulurkan virus ini.

Oleh karena itu, kita memerlukan pemahaman yang utuh terkait virus ini melalui edukasi publik agar masyarakat tidak men-stigmatisasi kepada orang yang terkonfirmasi positif yang akan memperparah kondisi kesehatannya yang diakibatkan virus covid-19 dan stigma tersebut.

Pentingnya Edukasi Publik Tentang Covid-19
Virus Covid-19 masih menjadi perbincangan yang hangat di masyarakat, karena belum ditemukan obat yang pasti. Vaksin kemungkinannya awal tahun 2021 baru dapat digunakan apabila dalam uji klinis berhasil, dan virus ini sangat ditakuti oleh orang-orang, baik perkotaan, perkampungan, pejabat maupun rakyat, berpendidikan ataupun yang tidak bersekolah.

Ketakutan yang berlebihan tanpa mempelajari secara komprehensif tentang covid-19 merupakan sikap yang tidak bijak dalam era teknologi saat ini.

Tentunya sebagai orang yang bijak seharusnya mencari informasi tentang covid-19 dan peran tim gugus tugas pada masing-masing tingkatan dari level nasional hingga Relawan Covid-19 di Desa juga memiliki peran yang sangat strategis terkait Edukasi Publik cara pencegahan, penularan, gejala covid-19, perilaku hidup bersih dan sehat, masa hidup virus, pedoman isolasi mandiri, kapan seseorang dinyatakan sembuh dan tidak menularkan lagi, perlakuan terhadap orang yang terkonfirmasi positif dan lain sebagainya.

Edukasi ini menjadi sangat penting karena fakta dilapangan bahwa sebagian masyarakat masih belum memahami secara utuh tentang Covid-19 ini, sehingga memperlakukan orang yang terkonfirmasi positif seperti sampah masyarakat, aib, dikucilkan, dicemooh, menjadi bahan gunjingan, disalahkan, dibully, ditolak dimasyarakat.

Bahkan jenazah yang sudah meninggal karena covid-19 ditolak untuk dikuburkan dikampung tersebut. Dampak sosial dimasyarakat begitu berlebihan sehingga ada sebagian orang yang menutup diri tidak lapor ke tim gugus tugas karena ketakutan stigma dimasyarakat. Ini yang justru lebih berbahaya terhadap orang disekitarnya yang dapat menularkan virus kemana-mana.

Edukasi publik tentang covid-19 ini dapat dilakukan oleh siapapun baik Tim Gugus Tugas Covid-19 level nasional sampai Desa, Unsur LSM, Organisasi dan kelompok masyarakat yang peduli terkait virus corona. Bentuk edukasi sangat beragam tergantung kebutuhan masyarakat yang ada, dapat dilakukan melalui himbauan, selebaran, infografis, door to door, melalui penyuluh agama dan penyuluh kesehatan, video pendek, spanduk, poster, pemberdayaan PKK, Dasawisma, Majlis Ta’lim/kelompok keagamaan, khutbah, woro-woro (menggunakan pengeras suara keliling), dan bentuk-bentuk lainnya yang sekiranya efektif berdasarkan kondisi masayarakat setempat.

Apabila edukasi ini secara massif dilakukan dan masyarakat memahami maka tidak akan terjadi kasus atau permasalahan yang berlebihan memperlakukan seseorang yang mengalami ujian dari Tuhan yakni terkonfirmasi positif covid-19.

Sehingga kita dapat memperlakukan saudara, teman, tetangga, kerabat, yang mengalami ujian tidak dengan gunjingan, didekati bukan dijauhi, perlu dukungan bukan perundungan (bully), dido’akan bukan dinistakan, perlakukan dengan ramah bukan disalahkan, dikuatkan bukan dilemahkan, diajak bukan ditolak atau diejek, dihargai bukan dicaci maki, dipeluk bukan ditanduk, diperhatikan bukan dikucilkan, dibantu bukan menggerutu.

Sikap tersebut akan menguatkan bagi seseorang yang terkonfirmasi positif semakin yakin bahwa akan sembuh dari virus covid-19. Karena mereka sadar bahwa semua itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah swt.

Dunia merupakan negeri tempat ujian. Setiap orang pasti mengalami berbagai ujian. Kesulitan dan musibah bentuknya bermacam-macam antara lain berupa kematian, kehilangan, sakit, perpisahan, kehormatan (dihina, dijatuhkan, difitnah, dimusuhi), bahkan yang menimpa harta benda kecurian, kerampokan dan ditipu, itu semua merasakan sakit yang luar biasa dan berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Dan dalam menghadapi semua itu harus dengan kesabaran. Sebab apabila tidak dengan kesabaran justru akan merasakan kesedihan yang berlebihan, keluh kesah, yang dapat menjadi penyebab penghalang ibadah kita kepada Allah swt.

Sebagaimana firman Alloh swt. Surah Ali Imran ayat 186:

۞ لَتُبْلَوُنَّ فِيْٓ اَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَذًى كَثِيْرًا ۗ وَاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Artinya: kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.

Dan sebagai penyemangat bagi kita semua yang mengalami ujian dari Alloh swt. Bahwa berdasarkan sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Manusia yang paling keras cobaannya adalah para nabi, lalu para ulama, kemudian yang sepertinya dan seterusnya. (sesuai dengan kadar keseungguhan memegang komitmen untuk tetap berada jalan yang lurus menuju akhirat).”

Tentu sebagai manusia apabila kita mampu melewati ujian dimaksud dengan kesabaran, InsyaAllah akan mendapat kemuliaan disisi Allah swt. Biarkanlah orang memiliki stigma yang jelek, karena mereka belum memahami dengan sebenarnya.

Bayangkan apabila covid-19 menimpa pada diri mereka sendiri, keluarga ataupun kerabatnya. Pasti akan menyadarkan bahwa perasaan takut, sedih, dan tertekan karena stigma itu muncul dengan sendirinya. Mudahan kita termasuk orang yang digolongkan menjadi orang yang bersabar dan bertaqwa disisi Allah swt.

Cara Melawan Stigma

Berdasarkan informasi yang dikeluarkan oleh gugus tugas covid-19 nasional bahwa cara melawan stigma masyarakat yang memperlakukan salah kepada seseorang yang terkonfirmasi positif covid-19 antara lain:

  • Jangan berbagi ketakutan dan kepanikan apalagi memojokkan mereka yang telah dites positif atau tenaga kesehatan dan pihak lain yang bekerja untuk mengatasi wabah;
  • Tunjukkan empati dan kasih sayang pada orang yang diketahui terkena virus. Anda dapat memberikan pesan atau video call bersama keluarganya;
  • Cari tahu lebih banyak tentang covid-19, pelajari apa yang perlu dilakukan untuk melindungi diri dan jangan terjebak pada hoaks atau informasi keliru. Mengetahui fakta akan mengurangi ketakutan dan kecemasan;

Bayangkan diri anda atau orang tercinta di stigma karena covid-19. Kita tidak tahu siapa dan kapan terkena virus dan karenanya, selalu tunjukkan kebaikan kepada mereka yang terdampak dan ikuti saran-saran ahli antara lain:

  • Selalu jaga jarak dengan orang lain minimal 1-2 meter;
  • Sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir minimal 20 detik;
  • Gunakan masker bila 1) harus keluar rumah, 2) saat dirumah dalam keadaan sakit atau 3) sedang merawat orang sakit;
  • Cari pertolongan medis bila anda mengalami gejala demam, batuk kering, dan sesak napas.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini dapat membantu masyarakat dalam memahami tentang cara memperlakukan seseorang yang terkonfirmasi positif covid-19 dengan bijaksana. Kita ini sama, kita ini bersaudara, kita ini memiliki potensi yang sama akan ditularkan dan menularkan, marilah saling mendoakan sesama.

*Penulis adalah pasien terkonfirmasi positif Covid-19

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER