Soroti Politik Dinasti, Pengamat Ini Beri Jempol SBY Ketimbang Jokowi

Direktur Eksekutif Voxpol Center Reaserch and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago (dok: net)

MONITOR, Jakarta – Politik dinasti, atau praktik melanggengkan kekuasaan di jalur politik adalah hal yang lumrah dilakukan setiap individu. Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, fenomena tersebut tidak bisa disalahkan.

“Kecenderungan politisi untuk terus berkuasa adalah hal alamiah, kita tidak bisa menyalahkan seseorang yang ingin melanggengkan hasrat kekuasaannya di jalur politik,” ungkap Pangi dalam diskusi online menyoal politik dinasti, belum lama ini.

Di tahun 2020 ini, pilkada serentak juga diwarnai adanya politik dinasti. Misalnya, gambaran pilkada di Solo dimana putra sulung Presiden Joko Widodo mencalonkan diri sebagai calon wali kota. Begitupun sang menantu Presiden ikut maju dalam kontestasi Pilwalkot Medan, dan masih banyak lagi anak pejabat lainnya yang mencalonkan diri di pilkada.

Melihat fenomena ini, Pangi membandingkan saat AHY maju di Pilgub DKI tahun 2017 lalu. Saat itu, sang ayah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah tak lagi menjabat sebagai kepala negara. SBY bahkan sudah vakum di lingkaran kekuasaan selama lima tahun.

“Apresiasi kepada SBY, yang memberikan kesempatan putranya AHY maju nyalon setelah lima tahun dirinya putus dari birokrasi pemerintahan. Di saat SBY tidak lagi menjadi Presiden,” kata Pangi.

“Ini merupakan tradisi politik yang lebih baik ketimbang anaknya mencalonkan diri ketika bapaknya masih aktif sebagai pejabat negara,” sambungnya.