Ramai Uang Edisi HUT RI Pecahan 75.000, Begini Filosofi Desainnya

Bank Indonesia resmi luncurkan uang 75 ribu (Foto: Istimewa)

MONITOR, Jakarta – Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-75, Bank Indonesia (BI) meluncurkan pecahan uang kertas baru dengan nominal Rp75 ribu. Uang rupiah khusus yang diterbitkan BI ini menyimpan makna mensyukuri kemerdekaan, memperteguh kebhinekaan dan menyongsong masa depan gemilang.

Antusiasme warga Indonesia untuk mendapatkan pecahan uang kertas baru ini pun sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan jadwal tukar uang yang sudah penuh sampai awal bulan depan.

Filosofi Desain Uang Rp75 ribu
Dalam uang ini tergambar wajah proklamator kemerdekaan Soekarno dan Mohammad Hatta dipilih sebagai gambar dari pecahan uang tersebut dengan latar momen bersejarah pengibaran bendera merah putih pada 1945 silam.

Selain itu, MRT, tol trans Jawa, dan jembatan Youtefa Papua juga dipilih sebagai ikon pembangunan Indonesia sejak kemerdekaan. Sementara di halaman belakang, dipilih gambar sembilan anak Indonesia yang berpakaian adat mewakili provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.

Daftar baju adat di uang Rp75 ribu baru
Uang pecahan Rp75 ribu akhir-akhir ini ramai diperbincangkan netizen di media sosial. Salah satu perbincangannya adalah soal salah satu pakaian adat di gambar uang tersebut.

Dari sembilan gambar orang berpakain adat Nusantara, gambar orang yang berada di tengah menjadi perhatian publik. Banyak netizen yang mempertanyakan itu pakaian adat dari mana, bahkan ada yang menuduh itu pakaian adat dari Cina. Namun, klaim tersebut adalah salah. Faktanya, Baju tersebut merupakan baju adat dari Suku Tidung, Kalimantan Utara.

Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Marlison Hakim menjawab pertanyaan sejumlah warganet soal pakaian adat dalam tampilan uang baru pecahan Rp 75.000 yang disebut-sebut mirip baju adat Cina. Marlison mengatakan pakaian adat yang dimaksud merupakan busana khas Suku Tidung dari Kalimantan Utara.

“Itu adalah pakaian adat Kalimantan Utara dari Suku Tidung. Untuk memilihnya kami melalui beberapa proses,” tutur Marlison dalam konferensi virtual, Selasa, 18 Agustus 2020.

Dari kiri ke kanan, terlihat anak-anak yang memakai baju adat dari sembilan provinsi di Indonesia yaitu Aceh, Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Maluku, dan Papua.

1. Baju adat Aceh

Baju adat Aceh ini dikenal dengan nama ulee Balang. Untuk busana pria seperti yang ada di pecahan uang Rp75 ribu ini disebut sebagai Linta Baro.

Mengutip berbagai sumber, baju adat ini dipakai pembesar kerajaan, namun di masa kini dipakai sebagai busana adat pernikahan Aceh.

Baju Linto Baro ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu atas yaitu meukeutop (penutup kepala) yang berbahan kain sutera lilit dan berpola bintang segi delapan. Lilitan ini disebut tengkulok. Bagian tengah disebut meukasah, baju ini berwarna hitam dan menjadi simbol kebesaran masyarakat Aceh.

Bagian ketiga adalah sileuweu, celana cekak musang yang berwarna hitam dan berjahit pola dengan benang emas.

2. Baju adat Riau

Baju adat Riau terletak di sebelah baju adat Aceh. Baju adat yang tergambar di uang kertas tersebut merupakan baju adat Riau untuk perempuan yang dikenal sebagai Kebaya Labuh.

Kebaya labuh ini terdiri dari baju kurung jangkar dan kain songket. Di bagian kepala ditutup dengan kerudung yang dililitkan ke leher. Tujuannya untuk menutupi rambut dan bagian dada.

3. Baju adat Jawa Tengah

Baju adat Jawa Tengah untuk pria seperti yang ada di uang Rp75 ribu baru adalah Jawi Jangkep. Untuk pria menggunakan beskap dan kain jarik batik. Beskap ini dilengkapi dengan bros, jam rantai, selop, keris, dan roncean melati. Baju ini dilengkapi dengan blangkon batik sebagai penutup kepala.

4. Baju adat Suku Dayak di Kalimantan Barat

Baju adat Suku Dayak dari Kalimantan Barat ini disebut sebagai baju King Bibinge. Sedangkan untuk lelakinya disebut King Baba.
Baju ini terdiri dari baju mirip rompi tanpa lengan, stagen, kain bawahan, dan manik-manik. Baju ini dibuat dari kulit tanaman ampuro atau kayu kapuo.

Baju ini juga dilengkapi dengan ikat kepala segitiga dari bulu burung enggang. Sebagai hiasannya mereka juga memakai gelang dari rangkaian akar pohon. Ini dipakai sebagai penolak bala atau kesialan. Selain akar, mereka juga kulit atau tulang hewan sebagai kalung untuk menjaga mereka dari gangguan roh halus.

5. Baju adat Suku Tidung, Kalimantan Utara

Media sosial digemparkan karena salah seorang warganet mengungkapkan bahwa ada baju adat China dalam deretan anak-anak berbaju adat di pecahan uang baru Rp75 ribu yang dikeluarkan Bank Indonesia.

Nyatanya yang diributkan sebagai baju adat China adalah baju adat dari Tidung, Kalimantan Utara. Baju ini juga kerap dipakai oleh pengantin pria Suku Tidung.

Suku Tidung adalah Suku Dayak yang sudah beragama Islam. Pakaian adat yang terdiri Pelimbangan dan Kurung Bantut (Pakaian Sehari-hari), selampoy (pakaian adat), Talulandom (pakaian resmi), dan Sina Beranti (pakaian Pengantin) telah menjadi karya budaya milik Suku Tidung Ulun Pagun melalui proses rekonstruksi berdasarkan data pakaian adat Tidung di masa lalu.

Suku Tidung merupakan suku yang tanah asalnya berada di bagian utara Pulau Kalimantan (Kalimantan Utara). Suku ini juga merupakan anak negeri di Sabah, jadi merupakan suku bangsa yang terdapat di Indonesia maupun Malaysia (negeri Sabah).

Proses rekonstruksi pakaian adat sebagai identitas etnis Suku Tidung Ulun Pagun menemukan momen yang tepat seiring dengan perubahan status Tarakan dari kota administratif menjadi kotamadya, dimana pakaian tersebut kemudian “diakui” sebagai pakaian daerah kota Tarakan. Pakaian Adat Suku Tidung sebagai identitas etnis dan sekaligus sebagai identitas daerah kota Tarakan.

6. Pakaian adat NTT

Dalam pecahan uang baru ini, NTT diwakili dengan busana wanita khas suku Rote. Mengutip situs Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, baju perempuan NTT ini terdiri dari beberapa bagian.

Di bagian kepala terdapat bula molik yang berarti bulan sabit. Selain itu ada juga selempang, sarung tenun, pendi (ikat pinggang)) yang terbuat dari perak atau emas, serta habas yang dikalungkan di leher.

7. Baju adat Gorontalo

Untuk kaum pria, baju adat Gorontalo ini terdiri dari beberapa bagian. Di bagian kepala terdapat tudung makuta atau laapia bantali sibii. Penutup kepala ini terkulai ke belakang dan juga menjulang tinggi. Penutup kepala ini melambangkan filosofi suami sebagai pemimpin keluarga yang punya jiwa kepemipinan yang tinggi, berwibawa dan tegas, tapi lembut. Selain itu ada juga bako (kalung pria), pasimeni hiasan tambahan di baju yang menggambarkan kehidupan rumah tangga.

8. Baju adat Maluku

Baju adat Maluku disebut sebagai baju cele. Ciri utama Baju Cele ini adalah motif kotak-kotak kecil. Dalam pecahan uang baru ini, baju adat cele untuk perempuan juga dilengkapi dengan beberapa bagian lain. Para wanita juga memakai konde kecil yang dilengkapi dengan haspel (tusuk konde), sisir konde, kak kuping, dan bunga ron yang dilingkarkan di konde, dan juga melengkapinya dengan kain lenso di bahu. Kain saputangan ini diletakkan di bahu memakai peniti dan berfungsi sebagai hiasan.

9. Baju adat Papua

Di bagian paling kanan pecahan uang kertas Rp75 ribu ini terdapat seorang anak yang memakai baju adat Papua, koteka. Koteka sebenarnya berarti pakaian. Selain koteka, baju adat ini dikenal sebagai pakaian holim. Koteka atau holim ini diikat di pinggang dengan menggunakan tali. Koteka digunakan untuk menutupi bagian kemaluan pria. Koteka memiliki bentuk seperti selongsong panjang.

Sedangkan di bagian bawahnya biasanya juga memakai rok rumbai. Bagian dadanya biasanya terbuka. Baju adat ini juga dilengkapi dengan topi rumbai-rumbai yang membentuk seperti mahkota yang terbuat dari bulu burung kasuari.