Kamis, 20 Januari, 2022

Pakai Baju Sakera, Menko Polhukam: Orang Madura Bangga Indonesia Merdeka

MONITOR, Jakarta – Menko Polhukam, Mahfud MD, mengikuti upacara virtual HUT RI ke-75 melalui video conference dari Kantor Kemenko Polhukam bersama jajarannya yang terbatas dan menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19, Jakarta, Senin (17/8/2020).

Menko didampingi oleh Sekretaris Menko, Para Deputi, Para Staf Ahli dan Staf Khusus. Jika para staf militer menggunakan pakaian dinas upacara, maka pada upacara dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, Menko Polhukam tampil menggunakan pakaian khas Madura yakni Baju Sakera. 

“Indonesia kan bersatu dalam keberagaman, beragam kedaerahan dan keagamaan. Yang bisa ditunjukkan secara fisik salah satunya dengan busana tradisional, alhamdulilah sekarang saya bisa ikut. Ya saya kan orang Madura, jadi dalam kesempatan baju tradisional ini, saya menggunakan baju khas Madura ini,” ungkap Mahfud dalam keterangan resmi, Jakarta, Senin (17/8/2020). 

Baju Sakera, menurut Mahfud, memiliki makna khusus. Baju tersebut terdiri dari baju hitam longgar atau Pesa’an dan celana hitam longgar atau Gomboran. 

- Advertisement -

Mahfud menjelaskan, warna hitam melambangkan sikap gagah dan pantang menyerah. Menurut Mahfud, hal itu merupakan sifat kerja khas dari rakyat Madura.

Sedangkan bajunya yang serba longgar, lanjut Mahfud, melambangkan kebebasan dan keterbukaan orang Madura. Selain itu, bentuk baju yang sederhana melambangkan kesederhanaan.

Kemudian kaosnya yang unik dengan motif garis merah putih, Mahfud mengatakan, memperlihatkan sikap tegas dan semangat juang tinggi orang Madura dalam menghadapi segala hal.

“Ini baju khas tukang sate Madura ini, orang Madura semua bangga Indonesia merdeka. Sekarang semua anak, anak tukang sate, anak petani bawang, kini karena Indonesia merdeka bisa jadi jenderal, bisa jadi dokter, profesor, bisa jadi apa saja. Karena itu kita harus terus mensyukuri nikmat kemerdekaan,” katanya.

Mahfud MD juga menggunakan ikat kepala kain atau Odheng. Ujung simpul berbentuk huruf alif, penanda keesaan tuhan, menunjukkan ketaatan masyarakat Madura sebagai pemeluk agama Islam.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER