Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan Kecam Pembubaran Paksa Acara Midodareni

Ilustrasi penyerangan acara/ dok: CNN

MONITOR, Solo – Sebanyak 30 organisasi dan individu yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan menyesalkan peristiwa menjadi peristiwa kekerasan yang terjadi di Solo, belum lama ini. Kejadian tersebut menjadi peristiwa buruk bagi perempuan di wilayah Solo Raya.

Nyai Hafidah selaku Koordinator Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan mengatakan, peristiwa ini mengingatkan pada kejadian kejadian kekerasan yang terjadi sebelumnya, termasuk memori kolektif tahun 1998. Perlindungan terhadap kelompok minoritas dan terutama perempuan dan anak, hampir selalu tak dihitung dan dilihat sebagai korban.

”Untuk itu, kami dapat merasakan betul trauma para perempuan dan anak yang berada di dalam rumah ketika peristiwa intimidasi dan pembubaran paksa acara Midodareni tersebut terjadi. Bagi kami, Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan, peristiwa ini menunjukkan secara nyata bahwa perempuan jarang diperhitungkan sebagai korban, dalam peristiwa kekerasan,” katanya, Jumat (14/8/2020).

Menurutnya, korban dalam definisi media dan umum, selalu dilihat sebagai orang yang terluka secara fisik dan dalam kasus ini, utamanya adalah korban lelaki dewasa. Padahal dalam peristiwa semalam, lebih banyak perempuan dan anak anak didalam rumah yang melihat peristiwa kekerasan tersebut terjadi. Tentu saja, dapat mengapresiasi upaya perlindungan yang telah dilakukan oleh aparat, tetapi ini belum maksimal.

Para korban terutama perempuan dan anak, baru bisa keluar dari rumah (TKP) setelah lepas malam. Tentu ini memberi perasaan traumatic dan ketakukan yang lebih dan tak mudah dihilangkan dalam memori mereka.

”Kami, Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan, juga melihat bahwa acara midodareni adalah upacara yang penting bagi seorang perempuan untuk memulai kehidupan mandirinya,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Percik Institute Haryani Saptaningtyas yang juga anggota Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan mengungkapkan, dalam konteks anthropologis, upacara midodareni adalah peristiwa ritual sebelum pernikahan. Di mana perempuan akan menjadi mandiri untuk membangun keluarga baru sebagai unit sosial terkecil.

”Apa yang akan terjadi jika pembentukan keluarga sebagai unit sosial dimulai dari trauma dan kecemasan. Kami melihat peristiwa semalam, telah mengubah tradisi perayaan penuh doa menjadi kesedihan dan traumatik bagi perempuan,” ucapnya.

Ia mengatakan ada tiga hal yang akan dilakukan oleh Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan. Hal pertama adalah akan memberikan dukungan moral dan solidaritas, bagi para korban, utamanya perempuan dan anak yang berada didalam rumah. Sangat disayangkan hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait jumlahnya. Tetapi berredar informasi bahwa semasa kejadian, setidaknya ada 3 anak balita dan 3 anak remaja yang salah satunya menjadi korban pemukulan serta 16 perempuan. Bagi kami memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak, berarti memberi perlindungan pada kehidupan itu sendiri.

”Hal kedua adalah menuntut agar pemerintah, melalui pihak terkait, memberi dampingan pemulihan trauma (trauma healing) bagi para korban. Hal terakhir, menuntut kepada pihak berwajib, untuk menemukan otak pelaku dan memberi hukuman yang sesuai karena tindakan mereka telah menyebarkan ketakutan tak hanya bagi keluarga korban, tetapi menimbulkan keresahan berlebih bagi perempuan dan anak di komunitas komunitas minoritas yang lainnya,” tegasnya.

”Sehingga, kami dari Aliansi Perempuan Solo Anti kekerasan, secara tegas dan lantang, menolak apapun bentuk kekerasan baik atas nama agama, ras dan suku dan terlebih atas nama kebencian kepada kelompok kelompok tertentu,” pungkasnya.