Putri Zulhas Desak Nadiem Makarim Mundur dari Kemendikbud

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Zita Anjani (dok: Netralnews)

MONITOR, Jakarta – Kritikan tajam dilontarkan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Zita Anjani, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Putri dari Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) ini mengatakan, Nadiem sebagai Mendikbud tidak punya inovasi atau gagasan untuk dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19.

“Sudah hampir lima bulan dunia pendidikan mati suri. Jika Mas Menteri bilang pertaruhkan kehormatan, sekarang waktunya tepati ucapan anda. Mundurlah jika Pendidikan bukan bidang anda,” ujar Zita dalam keterangan tertulisnya kepada MONITOR, Sabtu, (8/8).

Diakui Zita, sikap kritisnya kepada Nadiem muncul setelah mendengarkan penjelasan mantan pendiri startup Gojek tersebut terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam program TV Mata Najwa.

“Saya melihat Mas Menteri belum punya gagasan dan inovasi yang jelas. Ini sudah empat bulan, kita menunggu langkah kongkretnya, malah kita makin bingung. Kalau ada rasa malu, lebih baik lepas jabatan,” tegas Zita.

Menurut politisi PAN yang gencar menyuarakan dunia pendidikan ini, solusi yang disampaikan oleh Menteri Nadiem untuk menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saat PJJ tidak akan efektif. Sebab kebijakan tersebut tidak memberikan keharusan bagi sekolah untuk memberikan subsidi internet kepada siswa.

“Penjelasan Mas Nadiem di Mata Najwa, soal penggunaan dana BOS. Saya miris dengarnya. Sekelas menteri jago sekali muter-muter bicaranya. Perihal BOS, bayangkan, contoh SMP, Per siswa 1.1 juta/tahun, kalau di sebuah sekolah swasta ada 161 orang, maka ada 177 juta. Kalau per anak butuh 100 ribu per bulan untuk internet, sisanya cuma 32 juta buat bayar gaji honorer, biaya listrik, renovasi, dan lainnya. Ini kan tidak masuk akal. Mereka tidak ada keharusan juga kok buat beliin paket data,” terangnya.

“Mas Nadiem, saya paham dana Bos tahun ini meningkat 6,03% di banding tahun 2019. Besaran biaya tiap jenjangnya naik Rp. 100.000 per siswa, meningkat dari tahun sebelumnya. Tapi tidak bisa di simpulkan dana BOS cukup membantu untuk kebutuhan internet siswa,” sambungnya.

Dibeberkannya, data Kemendikbud di tahun 2018, ada 41.458 sekolah negeri yang tertinggal dan sangat tertinggal, itu baru sekolah negeri, dan terhitung 2 tahun yang lalu. Cukup menggambarkan kondisi sekolah kita di Indonesia.

“Yang ingin saya tekankan, ada puluhan ribu sekolah yang harus mengandalkan dana BOS untuk keberlangsungan pendidikan di sekolahnya, bisa juga menjadi kebutuhan untuk mengupgrade sekolahnya jadi lebih baik. Dengan dialokasikan dana BOS untuk biaya internet bagi siswa saja, itu sudah sangat menguras anggaran yang harusnya di peruntukkan untuk sekolahnya,” jelasnya.

Lanjutnya, sesederhana itu saja Nadiem, tidak bisa pikirkan. Itu baru contoh di Ibu Kota, bagaimana di daerah tertinggal lainnya? Apalagi kebijakan pemberian Internet di limpahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah, sehingga akan banyak tuntutan dari orang tua kepada kepala sekolah. Menurutnya, sama saja Nadiem sebagai Mendikbud, lempar batu sembunyi tangan. Ditegaskan Zita, Dia akan bersuara lantang, jika dunia pendidikan masih bermasalah.

“Saya akan lantang bersuara untuk mengingatkan Mendikbud. Begitulah tugas kami sebagai warga negara yang peduli dengan pendidikan anak bangsa,” pungkasnya.