Dilema Berdiri di Tengah-tengah, untuk Relasi Imbang (?)

Kolumnis, ASN Kemenag RI dan Pegiat Ilmu Sosial Keagamaan, Mahrus eL-Mawa/ dok: net

Oleh: Mahrus eL-Mawa*

Tak ada satupun manusia yang baik akan berbuat kekerasan atau dholim pada sesama manusia lainnya. Sebagai sesama manusia, baik perempuan ataupun lelaki, apapun posisi status sosial, asal usul suku bangsa, negara, dan tingkat keberagamaan seseorang biasanya mempunyai kehendak baik. Akan tetapi, apakah semua kehendak baik itu dapat dipahami bersama-sama oleh lelaki dan perempuan yang tidak terlibat langsung dalam konteks menjaga dan menegakkan relasi imbang atau adil terhadap perempuan khususnya? Pertanyaan demikian, sekurangnya, sedikit untuk ikut sumbangsih terhadap sebagian orang yang merasa “keberatan” atas “gerakan” saling mengingatkan terhadap all male panel (MANEL) tentang isu apapun, terutama di tengah maraknya Webinar atau semacamnya pada era COVID-19 ini. 

Dalam kesempatan ini, penulis ingin berbagi pengalaman, baik sebagai penyelenggara ataupun saat menjadi pembicara pada suatu acara. Mungkin ini subyektif, tetapi penting untuk diutarakan dalam perbincangan bersama-sama dalam upaya menegakkan relasi seimbang (tawazun, tawasuth) posisi perempuan dan lelaki dalam suatu seminar atau apapun yang kemudian berakhir menjadi MANEL. Tentu saja, tulisan ini jauh dari niat apologetik, ataupun hal negatif lainnya. Harapannya, sesama manusia, khususnya aktifis gerakan untuk dapat berbuat adil, sekurangnya kita bersama-sama untuk lebih arif dan bijaksana memandangnya. Alih-alih bergerak bersama, su’udhon dan kurang harmonis yang terjadi untuk gerakan perempuan, khususnya.

Bersikap seimbang memang bukan tindakan instan atau sekadar proses yang sederhana. Ikhtiar lahir dan batin harus dijalankan bersama-sama. Seperti kita rasakan, budaya patriarkhi sudah cukup lama bertengger dalam otak dan perilaku kita. Untuk mengubahnya agar dapat equity (adil) dan equality (setara) dalam pikiran dan tindakan perlu proses panjang, terus menerus, dan bernada dialektis. Dalam doa setiap hari kitapun sering menengadah kedua tangan, rabbana atina fi ad-dunia hasanah wa fi al-akhirah hasanah wa qina azab an-nar (Duhai Tuhan kami, anugerahkanlah kami segenap kebaikan di dunia dan di akhirat, serta jauhkanlah kami dari segala siksa api neraka). Doa tersebut jelas berisi keseimbangan baik di dunia maupun di akhirat, bahkan meminta supaya dijauhkan dari siksa api neraka. Siapapun, lelaki dan perempuan pun berdoa yang sama. Dengan doa yang dipanjatkan setiap hari demikian dapat melekat dalam pikiran dan tindakan kita. Kiranya, doa sapujagat tersebut semestinya menjadi guide kita dalam menapaki kehidupan.

Hindari MANEL belakangan disuarakan oleh kalangan aktifis perempuan penting ditempatkan secara seimbang. Penulis juga pernah diingatkan gegara namanya ikut dalam deretan pada salah satu webinar yang panelisnya lelaki semua, termasuk moderatornya. Seperti pada lazimnya narasumber undangan, jalurnya berbeda-beda, ada yang karena posisi jabatannya, sebab kenal akrab, tema yang cocok, sedang tenar atau naik daun, ataupun kebetulan waktunya pas, bahkan kadang karena tugas pimpinan, dst. Penulis sendiri tidak tahu, saat itu pada posisi yang mana persisnya. Sekadar informasi, diingatkannya itu di media publik walaupun pada dinding orang lain. Pada laman itu, terjadilah “debat” mirip “kusir” juga debatnya, tidak tanggung tanggung ada, sekitar 28 kali saling respon dari beberapa orang yang merasa terpanggil. Posisi penulis tentu saja, saat itu bukan subyek, tapi obyek, orang yang diajak berpartisipasi.

Memang dalam “gerakan” hindari MANEL itu sebagai pembicara-pun berkewajiban untuk “protes”, bertanya dst jika semuanya lelaki. Tidak ada yang salah dengan maksud tersebut. Ada yang menggelitik, bagaimana jika diundangnya itu melalui pihak kedua, ketiga atau yang lainnya? Betapa panjangnya komunikasi dengan penyelenggara. Hal itupun belum melihat sisi-sisi lainnya, seperti kesibukan kedua belah pihak dan seterusnya. Sebutlah kita husnudhon saja, bahwa penyelenggara memang mengagendakan narasumber perempuan untuk tema lainnya, karena sifat kegiatannya serial, lalu bagaimana menyikapi hal itu? Hal serupa, pernah terjadi ketika penulis menjadi penyelenggara kegiatan. Dari deretan narasumber, kesepakatannya diserahkan kepada lembaga yang diajak kerja sama dalam tema tersebut, ternyata semua lembaga mengirimkannya lelaki, konon perempuannya tidak disetujui atau alasan lainnya. Sebagai penyelenggara, model seperti itupun dilematis. Perlu ditegaskan, penulis sepakat bahwa mari kita hindari all male panel (MANEL), tetapi mari kita sikapi dengan bijak, sebab di antara relasi dalam kegiatan itu terkandung maksud kehendak baik semua pihak.

Perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan lelaki dan perempuan memang masih berlika liku hingga saat ini, sekalipun sudah massif dilakukan. Setiap zaman selalu ada pembicaraan relasi lelaki dan perempuan sesuai generasinya. Karena itu perjuanganpun tiada henti. Tahun 1990-an, ketika wacana keadilan gender dalam Islam mulai bergeliat di Indonesia, saat ini para aktifisnya sudah menjadi dosen, pemikir, pembicara, dan aktifis kondang untuk keadilan hakiki (perempuan), lalu tahun 2000-an para aktifis perempuan di Rahima, misalnya, mereka bergerak untuk isu-isu hak-hak perempuan dalam Islam, mulai menampakkan lebih mendalam ke lingkungan pesantren, perguruan tinggi, hingga terlibat dalam penyusunan legislasi, dst. Saat ini, sebagian aktifisnya berjuang ke arena yang lebih luas lagi, seperti di lembaga Alimat, KUPI, dst. Kasus hindari MANEL-pun kini menjadi isu bersama supaya afirmasi terhadap perempuan lebih nyata lagi di ruang online. Karenanya, wajar bila para aktifis yang sudah tersebar tersebut hingga generasi millenial secara spontan merespon dan bergeliat mengingatkannya, bila tetap MANEL, maka dengan nada yang sama diungkapkan, “alasan semacam itu selalu berulang dan akan terus berulang”.

Dengan keyakinan bahwa semua pihak mempunyai kehendak baik, penulis teringat serpihan gagasan dari Immanuel Kant (1724-1804) tentang pengetahuan dan imperatif kategoris. Menurut Kant, pengetahuan mempunyai dua sumber, yaitu akal dan pengalaman. Pengalaman tidak dapat dilepaskan dari perintah akal budi praktis, yakni imperatif kategoris, demi kewajiban, dan bukan karena kewajiban. Kehendak baik (seringkali) tidak bergantung dari hasil yang akan dicapai, tetapi bertindak baik karena baik dan demi kewajiban. Disebutkan dalam imperatif kategoris, betindaklah hanya sesuai dengan maksim yang dapat kamu harapkan, maksim itu sekaligus juga menjadi maksim umum. Maksim adalah prinsip yang mendasari tindakan (Asdi, 1995). Atas dasar kehendak baik itu, bila masih ada juga praktik MANEL, sebaiknya kita tetap mengingatkannya dengan dialog yang baik, tetap saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.Sehingga, kita tetap dapat bertindak dan berpikir, serta berdiri di tengah-tengah dengan seimbang untuk kesetaraan dan adil terhadap potensi yang ada. Semoga praktik MANEL di era pandemi ini segera diakhiri dengan cara seimbang, lelaki dan perempuan sesuai dengan potensinya. Bertanyalah jika kepada para kolega, apabila masih juga belum menemukan kaum perempuan dalam Webinar, saat ini, dimanapun, dan kapanpun.

Mencermati hal seperti itu, tentu saja kita tetap berharap dapat ikut menegakkan equity dan equality terhadap perempuan, atau dalam istilah lebih soft-nya mubadalah (kesalingan) dalam segala sendi kehidupan, termasuk dalam Webinar. Kiranya, masih ada sumur di ladang, bolehlah ikut menumpang mandi, apabila masih ada umur yang panjang, mari kita hindari MANEL dan tetap bersikap arif dan bijak, jika melihat masih ada MANEL, sebab hal itu demi tetap terwujudnya kerja sama semua pihak. Wallahu a’lam

*Penulis merupakan Kolumnis, ASN Kemenag RI dan Pegiat Ilmu Sosial Keagamaan