BISNIS

Setnet sebagai Teknologi Masa Depan Penangkapan Ikan di Indonesia

MONITOR – Guru Besar  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  IPB University, Prof  Dr Ir Rokhmin Dahuri MS mengatakan Setnet dapat menjadi solusi kedepan atas peningkatan penangkapan ikan secara produktif dan berkelanjutan.

“Setnet merupakan jenis teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan berbasis masyarakat (community based technology) yang dipasang secara menetap dan pasif di daerah penangkapan ikan (fishing ground),” katanya saat menjadi pembicara kunci pada Webinar  “Setnet Teknologi Penangkapan Ikan Masa Depan di Indonesia”, yang digelar oleh Sustainable Fishing Community, Sabtu (27/6).

Rokhmin menjelaskan prinsip utama setnet yaitu menghadang  dan mengarahkan kelompok ikan yang berupaya ke arah pantai sehingga memasuki perangkap kantong.

Menurut ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut setnet telah lama berkembang dan sangat popular digunakan di sepanjang perairan pantai Jepang. Jenis-jenis setnet di Jepang adalah  dai ami (keddle net), oshiki ami (large set net), otoshi ami (trap net), masu ami (pot net), hari ami (fyke net), dashi ami (barrier net), dan eri ami (sero). “Di Indonesia, alat tangkap serupa setnet  antara lain  jermal, sero, ambai,  dan belat,” tuturnya.

Rokhmin menyebutkan, setnet besar (large setnet)  dipasang pada kedalaman lebih  40 meter.  Setnet sedang (medium setnet) dipadang pada kedalaman 25-40 meter. Sedangkan setnet kecil (small setnet) dipasang pada kedalaman kurang dari 25 meter.

“Hasil tangkapan setnet umumnya adalah jenis ikan atau gerombolan ikan yang sedang melakukan migrasi, seperti migrasi untuk mencari ikan (feeding migration), migrasi untuk memijah (spawning migration) atau migrasi lainnya,” ujarnya.  

Ikan yang memasuki setnet  ada yang bermigrasi secara soliter atau bermigrasi secara bergerombol (school/pood). “Hasil tangkapan seperti jenis ikan tongkol (Auxis thazard), layang (Decapterus ressulii), tenggiri (Narrow-barred spanish mackerel) selar (Carangoides malabarcus), kembung (Restriligger karugarta), kuwe (Caranx malabaricua), layur (Trichulus savala), petek (Leogratus equacus), dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine,” paparnya.

Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu mengungkapkan,  perikanan setnet di Indonesia baru dalam tahap penelitian atau uji coba dan belum dikembangkan oleh nelayan secara komersial. Uji coba alat setnet pertama kali dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Laut/Balai Penelitian Perikanan Laut di perairan Pacitan, Jawa Timur pada tahun 1981.

Pada tahun yang sama, kata Rokhmin,  dilakukan juga uji coba di perairan Bajanegara-Banten, kemudian diikuti uji coba di Prigi-Jawa Timur pada tahun 1982 dan di perairan Selat Sunda-Banten pada tahun 1990 dan 1993. Set net yang diuji coba berukuran relatif kecil dengan panjang penuju antara 100-300 m dan dipasang di perairan pantai dengan kedalaman  kurang dari 10 m.

Pada saat uji coba dilakukan penangkatan hasil tangkapan ikan dari kantong setiap hari. Rata-rata hasil tangkapan ikan berkisar antara 20-30 kg/angkat. Hasil tangkapan tertinggi pernah mencapai 100 kg/angkat pada saat dilakukan uji coba di Pacitan. “Jenis ikan yang tertangkap saat itu didominasi oleh ikan demersal yang beruaya mengikuti pergerakan pasang surut seperti ikan layur, petek, mata besar dan sebagian ikan pelagis sejenis sardine,” tuturnya.

Tahun 2009, BBPPI Semarang-KKP mulai uji coba setnet di perairan Teluk Malasoro, dekat Pulau Libukan, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. “Hingga akhir tahun 2012, terus diupayakan pembinaan peningkatan kinerja operasionalisasi setnet melalui kegiatan pendampingan,” pungkas koordinator Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2020 – 2024 itu.

Recent Posts

50 Persen Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan

MONITOR, Jakarta — Tata kelola penyelenggaraan ibadah umrah di Tanah Air mendesak untuk dibenahi secara menyeluruh…

1 jam yang lalu

Kementerian UMKM dan Barantin Permudah Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor

MONITOR, Palu – Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bekerja sama dengan Badan Karantina…

1 hari yang lalu

IPIM Banten Sambut Positif Terpilihnya Prof. Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI Petama

MONITOR, Jakarta - Ketua Umum PW IPIM Provinsi Banten, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menyambut…

1 hari yang lalu

Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah 2026 Catatkan Transaksi Rp5,7 Miliar

MONITOR, Madiun – Penyelenggaraan Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah tahun 2026 yang diselenggarakan…

1 hari yang lalu

IGIC 2026 Pilih Nasaruddin Umar sebagai Presiden IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding

MONITOR, Jakarta - International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 sepakat untuk membentuk The International Assembly…

1 hari yang lalu

Ketua PW Fatayat NU Ajak Kader Fatayat Aktif Kampanyekan Pariwisata Anyer dan Majukan Ekonomi Kreatif

MONITOR, Serang - Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Nony Menawati melantik Pengurus Pimpinan Anak Cabang…

1 hari yang lalu