Oleh: Ruchman Basori
Bagi yang menekuni filsafat Jawa tentu akrab dengan falsafah: “Ajining diri saka lathi ajining raga saka busana”, Sebuah filsafat moral yang penting, yang selama ini menjadi pegangan para bijak bestari juga para pemimpin.
Ajining diri saka lathi, bermakna seseorang dapat dihargai itu berdasarkan ucapannya atau lidahnya. Ajining raga saka busana, mengandung arti bahwa berharganya seseorang itu dinilai dari penampilan atau busana yang ia pakai.
Antara lisan (ucapan) dan penampilan raga yang ditunjukan dengan pakaian (busana) menjadi dua hal yang sangat penting, saling melengkapi. Walau dengan kemajuan zaman seperti sekarang ini, urusan pakaian perlu kita terjemahkan ulang sesuai dengan konteksnya, dari sisi kepantasannya.
Betapa banyak pemimpin, professional, mahasiswa dan para aktivis penggerak sosial menjadi sukses karena pintar mengoptimalkan kapasitas bicara. Lisan menjadi instrumen penting mendukung karir dan pola hubungan antar sesama. Sebaliknya tidak sedikit yang gagal, karena tidak bisa mengoptimalkan daya dan kekuatan lisannya.
Kekuatan Lisan
Imam Syafi’i mengatakan “Don’t allow your tongue to utter the fault of another person, because you are covered in faults and everyone else has tongues too”. Lidahmu jangan kamu biarkan menyebut kekurangan orang lain, sebab kamu pun punya kekurangan dan orang lain pun punya lidah.
Sementara Ibnu Qayyim berpendapat A person’s tongue can give you the taste of his heart. Lidah seseorang itu dapat memberitahu tentang hatinya. Karenanya behati-hatilah terahadap ucapan kita. Carilah diksi yang tepat dan isi yang kuat, sehingga pesan-pesan yang kita harapkan tersampaikan. Apalagi jika Anda seorang pemimpin yang membawahi ratusan, ribuan bahkan jutaan anggota.
Berkata baik adalah keutamaan. Semantara berkata yang menghadirkan kesenangan dan kebahagiaan orang lain adalah tambahan sedekah. Kadang kita tidak menyadarinya, bahwa perkataan kita akan menyakiti teman kita. Sebaliknya perkataan kita akan menjadi motivasi dan inspirasi bagi anak muda yang sedang mencari jati dirinya.
Bahwa apa yang diucapkan seseorang itu adalah cermin dan pancaran hati atau jiwa. Khalil Gibran mengatakan cinta adalah sarana untuk memaami dua jiwa. Ia bukan kata yang datang dari bibir dan lidah yang membawa ati bersama-sama. Tidak ada yang lebih besar dan suci daripada apa yang diucapkan mulut. Dia memancarkan jiwa kita, bisikan ati kita dan membawa keduanya bersama-sama.
Ada ungkapan yang mengatakan mulutmu adalah harimaumu. Karena dari mulut kita akan memunculkan kekuatan yang dahsyat. Di dunia bisnis, kita kenal kata-kata Jeff Bezos yang mengatakan, jika anda menciptakan pengalaman yang luar biasa, para pelanggan akan saling menceritakannya. Kata-kata yang keluar dari mulut sangat berkuasa.
Menjaga lisan dan ucapan, dengan demikian menjadi gerbang kesuksesan. Betapa banyak orang yang gagal menampilkan kesantunan lisannya dan terperosok akan kekejaman lisannya. Mestinya relasi kemanusiaan kita harus dibangun atas kebijakan kita berucap dengan kata-kata yang baik, santun, indah lagi berkualitas. Bukan malah sebaliknya.
Memperhatikan Fashion
Ajining raga saka busana. Soal busana atau ageman juga tak boleh diremehkan. Betapa banyak orang karena menjaga penampilan fisik (busana) rela menghabiskan ratusan juta rupiah. Penampilan sangatlah penting, karena akan menentukan keberhasilan.
Madzhab ini akan mempertaruhkan apapun demi untuk meyakinkan pelanggan, kolega sekaligus relasi-relasi yang di milikinya. Sebaliknya lawan dari madzhab ini adalah madzhab yang cenderung berfikir substantif yang tidak mengedepankan fashion. Tampil apa adanya yang penting kualitas diri.
Perlu diketahui, busana yang kita pakai adalah memancarkan aura, kekuatan dan daya tarik pada lawan bicara kita dan juga publik yang melihat kita. Busana juga sekaligus menjadi identitas kita dalam melakukan pergaulan. Misalkan ada yang mendefinisikan dengan pakaian blankon, memakai slayer, kopiah dan pakaian warna terntu, jenis dan motifnya.
Di sini soal fashion menjadi penting untuk menjaga tampilan fisik kita. Namun diantara kita kadang masih cuek bahkan meremehkan. Ingat bahwa beberapa detik orang lain memperhatikan kita itu, menjadi moment yang sangat penting. Karena dari situ muncul penilaian sebelum mengerti gagasan dan pikiran kita yang tersembunyi.
Tapi jangan lupa bahwa penampilan fisik tadi harus di dukung dengan tampilan perkataan kita dengan yang indah dan berisi. Karena keduanya adalah cerminan isi hati kita. Wajah dan tubuh kita akan mengeluarkan cahaya jika hati kita dalam keadaan bahagia, tenang dan stabil.
Seorang bijak mengatakan busana atau ageman yang terbaik adalah agama. “Agama agemaning diri”, agama itu merupakan pakaian untuk diri kita. Pengetahuan, nilai-nilai yang di anut dan keyakinan agama akan memandu seseorang untuk berkata baik dan berbuat baik.
Mari kita lengkapi tata lisan dan tata busana kita dengan pengamalan agama kita sebaik-bainya. Agama manapun tentu mengajarkan kebajikan dan keutamaan. Baca dan amalkan baik yang tekstual maupun yang kontekstual. Yang tersirat maupun yang tersurat. Yang kauniyah maupun yang qauliyah.
Siapapun anda jangan remehkan lisan dan jangan terlalu cuek dengan pakaian. Bisa jadi bukan ilmu yang kita miliki, kekayaan yang kita punyai dan dari keturunan kita berasal, tapi justeru kesuksesan kita akan ditentukan oleh sejauhmana kita bisa menjaga lisan dan ucapan kita plus penampilan fisik yang kita kenakan.
Semoga kita terlindungi dari perkataan yang buruk dari lisan kita dan kita termasuk bagian dari yang bisa membawa diri dalam cara kita berbusana. Wallahu ‘alam bi al-shawab.
*Penulis Adalah Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI.