Arah New Normal Masa Pandemi

Sejarawan dan Direktur Eksekutif Jaringan Studi Indonesi, Haris Zaky Mubarak

Oleh: Haris Zaky Mubarak*

Skenario pemerintah pusat untuk mempersiapkan lahirnya tatanan kehidupan baru (New Normal) menjadi wacana kuat minggu ini. Hadirnya kebijakan New Normal ditengah pandemi Covid-19 diharapkan memacu ekonomi Indonesia yang pertumbuhannya sempat terpuruk pada kuartal I-2020. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia mencatat laju pertumbuhan Indonesia pada kuartai I- 2020 berada pada kisaran 2,97 %.

Wacana akan diterapkannya kebijakan New Normal oleh pemerintah pusat memberi konsekuensi logis bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dampak positif kebijakan New Normal boleh jadi akan menggerakkan kembali aktivitas ekonomi Indonesia yang sempat terhenti karena berlakunya kebijakan pembatasan sosial (Social Distancing). Meski nantinya aktivitas ekonomi tersebut akan berjalan sangat lambat.

Disisi lain kebijakan New Normal ini juga dapat memberi dampak kurang baik bagi dunia usaha Indonesia. Adanya New Normal akan membuat semua pelaku usaha mengikuti semua protokoler kesehatan dan aturan New Normal. Sayangnya, tak semua pelaku dunia usaha di Indonesia memiliki kebutuhan yang sama. Kondisi ini akan memberi dampak nyata bagi persaingan usaha professional karena berpotensi melahirkan disparitas sosial antar pelaku usaha.

Mereka yang bermodal kecil seperti pedagang pasar dan penjual kaki lima akan merasa dibebankan jika harus memakai segala aturan protokol New Normal miliknya pemodal besar seperti perusahaan dan Mall.

Membaca Kontekstual
Dalam membaca arah kebutuhan ekonomi Indonesia ditengah pandemi Covid-19 kita memang harus jeli membaca kontekstual ekonomi yang sedang terjadi hari ini. Jika kebijakan New Normal dilaksanakan, perilaku baru merujuk protokol kesehatan akan menjadi tradisi baru bagi keseharian semua aktivitas ekonomi.Terlebih semua negara di
dunia yang terkena imbas pandemi covid-19 saat ini juga hendak menuju kondisi new normal.

Oleh karenanya, dalam proyeksi New Normal untuk ekonomi Indonesia kedepan kita perlu mempersiapkan segala tantangan yang kelak menjadi persoalan baru dari ekonomi kita. Termasuk soal persaingan usaha yang kemungkinan sangat keras karena sama-sama mengejar defisit yang selama ini terjadi saat masa pembatasan sosial.

Sebagai antisipasi kita perlu menyiapkan strategi pasar baru untuk mencegah terjadi sentimen persaingan usaha yang tak sehat. Seperti mengembangkan pasar baru yang lahir karena pandemi Covid-19. Ambil contoh, dalam pasar ekonomi digital melalui jejaring online dimana kini hal tersebut menjadi konsumsi primer semua masyarakat negara di belahan dunia.

Demi memenuhi kebutuhan keseharian, kini semua orang sudah sangat bergantung teknologi digital berbasis aplikasi online. Bahkan selama dua bulan terakhir masa pandemi, hampir semua dunia usaha dikerjakan secara online business.

Dimulai usaha kedai kopi yang menyediakan pemesanan kopi secara online sampai bisnis fotografi yang menggunakan seni fotografi virtual melalui layanan komunikasi online. Semua dilakukan secara professional. Dengan demikian, situasi sulit masa pandemi Covid-19 telah menciptakan mind set dan skill set baru bagi sejarah
ekonomi dunia.

Grand Design
New Normal dapat saja diasumsikan sebagai satu harapan baru dari aktivitas multi sektor dunia usaha Indonesia dan dunia.Termasuk jika kita mengaitkan penalaran ekspektasi tersebut pada sejarahnya, dimana istilah New Normal dipopulerkan oleh Roger McNamee seorang pebisnis dunia untuk ulasannya terkait kondisi keuangan global setelah masa krisis 2007-2008 dan setelah resesi global 2008 -2012.

Motivasi New Normal itu diberikan oleh McNamee terhadap pebisnis yang takut menghadapi masa depan setelah resesi ekonomi. New Normal menjadi rasional ekonomi baru bagi McNamee untuk mengajak banyak pebisnis dunia supaya dapat termotivasi memasuki cara baru dalam membangun kehidupan ekonomi setelah resesi.

Proyeksi pemerintah terhadap konsep New Normal dimasa pandemi Covid-19 boleh jadi menjadi lanjutan inspirasi dari konsep New Normal yang dipikirkan oleh McNamee saat menghadapi resesi ekonomi. Tapi satu hal penting yang perlu dicatat dalam konteks ini, konsep New Normal Mcnamee adalah murni karena krisis ekonomi sedangkan konsep New Normal yang kita hadapi sekarang ini karena krisis kesehatan yang berimbas sosial ekonomi.

Dalam konteks ini, jelas ada perbedaan mencolok diantara kedua bentuk New Normal yang tak dapat disamakan
Oleh karenanya untuk mengembangkan konsep New Normal dalam situasi krisis kesehatan seperti sekarang, kita mungkin perlu belajar banyak dari konseptual New Normal yang pernah dilakukan Hindia Belanda saat menghadapi wabah pandemi virus dan penyakit Pes pada tahun 1911.

Kondisi ekonomi Hindia Belanda yang tak stabil kala itu nyatanya masih memikirkan perencanaan skematis untuk membuat grand design dalam perbaikan kesehatan berbasis infrastruktur. Saat diserang pandemi, roda ekonomi Hindia Belanda melalui aktivitas perdagangan tetap jalan meski mereka melakukan protokol kesehatan yang ketat dengan menerapkan sanksi pidana.

Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda saat itu juga sadar membangun infrastruktur kesehatan dan melakukan riset secara intensif. (Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 227 tahun 1911).

Jika melihat perspektif sejarah tersebut maka konsep New Normal ditengah pandemi saat ini hanya akan berlaku efektif jika kita mengoptimalisasikan dua pendekatan. Pertama, ada grand design yang skematis dalam mempertemukan keseimbangan aturan kehidupan antar sektor kehidupan baik aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan dan keamanan terkait kehidupan New Normal selama pandemi, guna menyangga stabilitas kehidupan negara.

Kedua, dibutuhkan tatanan peran baru untuk tanggap mengkomunikasikan perubahan budaya masyarakat yang telah mengaktifkan kembali ruang-ruang interaksi sosial dengan kesadaran budaya untuk menjaga masyarakat Indonesia tetap sehat, maju dan produktif. Dua grand design ini kiranya relevan dalam memberi arah yang baik saat pemberlakuan New Normal masa pandemi.

*Penulis merupakan Sejarawan dan Direktur Eksekutif Jaringan Studi Indonesia