Hardiknas Kembali ke Sekolah Ibu

Oleh: Ruchman Basori

(Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan dan Mahasiswa S3 Universitas Negeri Semarang)

Comenius, seorang ahli didaktik dalam bukunya “Didaktica Magna”, menekankan pentingnya pendidikan keluarga bagi anak-anak yang sedang berkembang. Ia menamakan dengan istilah scola-materna (sekolah ibu).

Melalui buku penuntun “informatorium”, Comenius juga menekankan agar orang tua harus mendidik anak-anaknya dengan bijaksana, untuk memuliakan Tuhan dan untuk keselamatan jiwa anak-anaknya.

Rumah sebagai sekolah ibu menemukan momentumnya kembali ketika kita menghadapi pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Sementara pada 2 Mei, kita kembali memperingati Hari Pendidikan Nasioal (Hardiknas). Bisa kita jadikan momentum untuk melihat kembali rumah sebagai institusi pendidikan pertama.

Protokol kesehatan telah mengharuskan kita untuk berdiam di rumah (stay at home) dengan tigak aktivitas yang mengikutinya, bekerja dari rumah, belajar di rumah dan beribadah dari rumah. Sebagai ikhtiar melawan covid yang telah menelan ribuan korban.

Tiga Tungku Pendidikan
Undang-undang No. 20/2030 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan adanya tiga jenis pendidikan, pertama, pendidikan di sekolah (formal), adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Kedua, pendidikan dalam masyarakat (nonformal) adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Seperti di pesantren, madrasah diniyah takmiliyah dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Ketiga, pendidikan dalam keluarga (informal), adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Karena dianggap sebagai sebuah keniscayaan jalur pendidikan keluarga ini kurang disadari dan mendapat perhatian dalam sistem pendidikan kita.

Dalam beberapa literatur pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Pendidikan ini menjadi dasar pembentukan kebiasaan, watak, dan perilaku seseorang di masa depan sejak lahir dan sepanjang hayat (long life education).

Menurut Coombs pendidikan informal adalah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis diluar persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik dalam mencapai tujuan belajarnya.

Melalui rumah dan lingkungan kita dapat melakukan apa yang di sebut dengan pendidikan dan bimbingan (educatif), yang kadang sulit di capai dalam dunia persekolahan, karena di sana lebih kental dengan (transfer of knowledge).

Rumah dan lingkungan akan menjadi piranti penti bagi pendidikan agama, budi pekerti, moral, etika, sopan santun dan sosialisasi dengan lingkungan.

Keberhasilan pendidikan di sekolah dan madrasah tidak bisa dilepaskan dari pendidikan di rumah. Terutama dalam menanamkan pendidikan karakter. Karena menanamkan kepribadian, karakter dan watak tidak dibatasi dengan jam tatap muka tetapi harus terus menerus melalui pembiasaan dan keteladanan (uswah hasanah).

Namun sayangnya, di rumah sering hanya digunakan oleh sekolah dan madrasah untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang juga menekankan aspek pengetahuan.

Mestinya aspek pengetahuan cukup di sekolah dan program-program pembentukan mental, watak dan karakter yag tidak bisa dijalankan di sekolah dapat diperankan di rumah.

Berbagi Peran
Melalui peringatan Hardiknas tahun ini, kita jadikan momentum untuk melihat kembali pentingnya rumah sebagai sekolah ibu atau madrasah pertama. Pandemi Covid-19 telah mengingatkan kita betapa rumah berkontribusi besar mendidik putra puteri kita.

Orang tua menjadi guru yang mengajarkan berbagai karakter seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, bekerjasama sama, kemandirian dan lain sebagainya. Dan itu agak sulit kalau hanya mengandalkan pendidikan madrasi/persekolahan.

Kurikulum pendidikan di rumah sangat fleksibel, tidak tertulis dan tidak ada evaluasi formal. Evaluasi atau penilaian tentang keberhasilan pendidikan karakter di rumah akan langsung di uji oleh masyarakat. Rumah juga tidak perlu ada akreditasi yang ribet, tetapi publik akan tahu akan hasilnya di masyarakat.

Sementara masyarakat di lingkungan sekitar harus ikut menciptakan suasana yang edukatif. Semuanya bisa berperan sebagai guru dan materi pembelajarannya adalah keutamaan-keutamaan dan nilai-nilai kehidupan yang ada termasuk berbasis keagamaan.

Menyadari akan hal itu, maka pemangku kebijakan pendidikan harus kembali menjadikan rumah dan lingkungan masyarakat menjadi mitra yang harus mendukung pendidikan di sekolah. Minimalisir PR yang akan menambah beban keluarga diganti dengan tugas-tugas pengamatan pendidikan karakter.

Hardiknas harus kita maknai untuk membuka kesadaran bahwa kita harus berbagi peran. Kurikulum di sekolah harus kita lihat kembali agar bisa bersinergi dengan sekolah ibu. Para pendidik di sekolah harus bekerja sama dengan para orang tua dan tokoh agama serta tokoh masyarakat.

Bukankah saat ini tidak ada yang paling hebat, terutama dalam masalah karakter, moral dan akhlak? Saatnya berkolaborasi dan bersinergi demi masa depan bangsa yang lebih cerah karena kita berhasil membentuk karakter dan akhlak bangsa.

Ingat kata Ibnu Maskawaih, ‘hal li an-nafsi daa’iyatun lahaa ila af’aaliha min goiri fikrin walaa ruwiyatin’ akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari anjuran belajar di rumah di masa covid-19 yang menyadarkan kita betapa rumah adalah sekolah ibu yang selama ini kurang diperhatikan dalam pendidikan kita. Wallahu a’lam bia al-shawab.