Komitmen Kebangsaan PMII Tak Bertepi

Oleh: Ruchman Basori
Sekretaris Cabang PMII Kota Semarang 1997-1998 dan kini Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Bidang Kaderisasi

Tepat di tanggal 17 April 1960 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir. Telah menyemai jutaan kader dan memberikan berjibun kemanfaatan dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia. PMII adalah wajah Indonesia dan Indonesia tidak akan lengkap tanpa PMII.

Menjadi bagian dari PMII adalah sebuah keberkahan. Banyak sahabat yang mengatakan demikian, karena kalau sekiranya waktu kuliah dulu tidak ber-PMII, tentu tidak akan mengenal apa itu Islam yang merahmati semua (rahmatan lil ‘alamin).

Melalui Nilai Dasar Pergerakan (NDP), kita diajarkan tentang mengenal Tuhan (tauhid), hubungan manusia dengan Alloh (hablun min al-Alloh), hubungan manusia dengan sesama manusia (hablum min an-naas) dan hubungan kita dengan alam (hablum min al-alam).

Orang lain (the others) yang berbeda latar belakang suku, ras, adat istiadat pemikiran, bahkan agama dan keyakinan, bukan di pandang sebagai musuh. Demikian doktrin para idiolog pergerakan ketika mendidik para kadernya sejak Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba), Pelatihan Kader Dasar (PKD) hingga Pelatihan Kader Lanjutan (PKL).

Sepanjang masa orde baru, nasib PMII tidak seberuntung organisasi extra kampus lainnya. Senasib dengan organisasi induknya yaitu Nahdlatul Ulama. Gerak langkah PMII selalu diawasi bahkan dianggap sebagai ancaman oleh rezim yang berkuasa kurang lebih 32 tahun itu.

Para kader kerap menganggap bahwa ada tidaknya pemerintah sama saja waktu itu, tidak akan menguntungkan bagi anak-anak muda kaum sarungan, yang mencoba eksis di tengah tekanan bahkan represi orde baru. Anak-anak PMII sudah terbiasa dintai, saat menggelar pelatihan perburuan, analisis sosial (Ansos) dan pendidikan kritis lainnya.

Karenanya tema-tema keberpihakan kepada kaum yang lemah (mustadh’afin), NU vis a vis negara, PMII vis a vis negara, teori dan paradigma kritis menjadi asupan penting, agar tetap eksis di masa sulit.

Tapi kendatipun demikian, kecintaan anggota dan kader-kader PMII di semua tingkatan dari Sabang sampai Merauke kepada negeri ini tak perah surut. Bagi PMII antara agama dan negara tidak perlu dipertentangkan. Ajaran para ulama nahdliyyin bahwa Pancasila dan NKRI sudah final menjadi pedoma penting dalam berbangsa.

Usia 60 tahun bagi PMII saat yang paling tepat untuk untuk melakukan refleksi mendalam akan perannya menjadi kekuatan bangsa dan agama sekaligus. Ibarat usia manusia, 60 tahun adalah usia sangat matang bahkan mendekati kesempurnaan untuk bersikap arif atas ilmu yang dimlikinya, atas keimanan yag diyakininya dan berbagai hal makna hidup dan kehidupannya.

Memberikan Manfaat

27 tahun yang lalu tepatnya tahun 1993, penulis mulai mengenal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) yang diikuti oleh 234 orang di Rayon PMII Tarbiyah Komisariat IAIN Walisongo Semarang. Saat itu PMII memperingati hari lahir yang ke-33. Kini di tahun 2020 kembali saya dapat memperingati hari lahirnya yang ke-60.

Penulis bangga menjadi bagian dari organisasi pergerakan yang terus bergerak memberikan manfaat dan menghilangkah kerusakan (mafsadah). Tak kenal lelah berjuang dan berkorban demi bangsa ini. Khairun naas anfa’uhum li an-naas demikian kata hadits Nabi Muhammad Saw. Yang menjadi dasar pijakan para kader dan alumni.

PMII dididirkan bukan untuk tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat pragmatis, tetapi jauh ke depan, untuk membangun peradaban umat manusia. PMII telah memberikan kemanfaatan yang besar untuk bangsa ini. Utamanya telah mendidik mahasiswa dan generasi muda calon pemimpin bangsa. Di dalam benak anggota, kader dan alumninya menempatkan Indonesia sangat istimewa sebagaimana ajaran the foaunding father Nahdlatul Ulama dan bangsa ini.

Jutaan alumninya telah tersebar di belahan bumi anugerah Tuhan ini. Bak serpihan surga, kader dan alumni pergerakan ini, telah memberikan makna ke-Indonesiaan yang berdialektika dengan ke-Islaman dengan sangat apik. Islam telah tumbuh subur menyatu dengan Indonesia yang kemudian dianut sebagai paham keagamaan ala ahlussunnah wal jama’ah.

Saya meyakini bahwa ijtihad 13 orang pendiri PMII sudah sangat tepat mendirikan wadah bagi anak muda Indonesia ini. Karena telah memberikan manfaat yang tak ternilai harganya. Buktinya organisasi ini masih kokoh dan eksis walau menghadapi tantangan yang sangat akut.

Benar apa yang dikatakan Alloh swt “fa ammaz-zabadu fa yaż-habu jufā`ā, wa ammā mā yanfa’un-nāsa fa yamkuṡu fil-arḍ, każālika yaḍribullāhul-amṡāl” (Q.S Ar-Ra’d 17:). “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”

Komitmen Tak Bertepi

Yaqut Cholil Qaumas aktivis PMII yang kini menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengatakan, ada tiga masalah yang mendera bangsa Indonesia saat ini. Pertama, munculnya kelompok yang mempertanyakan ulang kesepakatan (konsensus) nasional bangsa ini, yaitu Pancasila, Bhineka Tungga Ika, NKRI dan UUD 1945. Kelompok ini ingin mengganti Pancasila dengan idiologi yang lain yaitu khilafah Islamiyah.

Dibubarkannya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah menjadi indikasi kuat akan munculnya sinyalemen ini. Tentu kelompok ini akan terus berkecambah melalui berbagai jalur utamanya pendidikan. Mereka dan kelompok yang sepaham bersifat massif dan terstruktur, tidak malu-malu menebarkan paham dan idiologinya.

Kedua, munculnya kelompok keagamaan yang merasa dirinya sebagai yang paling benar (truth claim keagamaan) dan yang lain salah. Bahkan menuduh muslim yang lain sebagai kafir, belakangan di kenal sebagai kelompok takfiri. Bisa juga sebagai generasinya Abdullah Ibnu Muljam yang dengan keyakinannya, menganggap dirinya yang paling benar kemudian tega membunuh sahabat Ali bin Abi Tholib ra.

Ketiga munculnya kelompok yang dikatagorikan sebagai mayoritas diam (sailent majority). Kelompok yang kurang peduli pada nasib agama dan Indonesia.
Maraknya orang-orang yang menentang Pancasila dan NKRI serta menanamkan berbagai kebencian dan menyebarkan berita (hoak), dianggap angin lalu saja. Sikap merasa aman dan tak peduli ini mejadi keprihatinan bersama.

PMII telah ikut bergerak menjadi bagian penting mempertahankan Pancasila dan NKRI. Melalui himmah dan khidmahnya, komitmen kebangsaan dan keislaman, PMII terus tumbuh subur dan takkan pernah berakhir, insya Alloh sampai yaumil qiyamah.

Bagi PMII, mempertahankan Pancasila dan NKRI adalah sebagai sesuatu yang final dan bagian dari mengamalkan ajaran Islam, sebagaimana diajarkan oleh para pendiri bangsa. Karenanya komitmen PMII pada nilai-nilai kebangsaan tak bertepi dan dinilai sebagai jihad kebangsaan.

Tepat di usianya yang ke-60, 17 April 1960, PMII memantapkan dirinya sebagai elemen yang berada di garda terdepan mempertahankan Indonesia dari kelompok-kelompok yang tidak ingin Indonesia berumur panjang. Bagi PMII Indonesia adalah sebuah anugerah yang diturunkan Tuhan karenanya harus dipertahankan sampai kapanpun.

Bersama komponen bangsa yang lain, PMII akan memperkuat tali kebangsaan yang akhir-akhir ini menjadi kusut, karena kepentingan politik yang mendominasi. Apalagi yang mencoba di koyak oleh para pengusung khilafah penentang NKRI. Ingat pesan almarhm Gus Dur sebagai bapak bangsa “Berapapun besar biaya dan resikonya, keutuhan NKRI harus dijaga”.

Selamat harlah PMII yang ke-60 semoga terus menebarkan manfaat, memberikan pencerahan bagi orang-orang yang lupa dan menguatkan keyakinan dalam berbangsa. Wallahu a’lam bi al-shawab.