Sewindu Berkhidmah untuk Madrasah Diniyah

Oleh: Ruchman Basori
Ketua Dewan Penguurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah
(DPP FKDT) dan Mahasiswa S3 Universitas Negeri Semarang

Forum Komunkasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) pada tanggal 14 April 2020 ini genap berusia delapan tahun atau sewindu. Berdiri sebagai wadah para pecinta dan pejuang Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dalam usianya yang masih beliau ini, FKDT dinilai oleh banyak kalangan telah mampu menjadi wadah aspirasi, dinamisasi, fasilitatis dan sekaligus advokasi bagi kepentngan para santri dan ustadz Sekolah Sore atau ada yang menyebut Sekolah Arab ini.

Bagi kalangan santri atau masyarakat muslim, Madrasah Diniyah (MD) yang sejak lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 55/2007 tetang Pendidikan Agama dan Keagamaan bertransformasi menjadi Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), bukan entitas baru sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam.

Namun bagi msyarakat yang awam agama, nama Madrasah Diniyah Takmiliyah masih terdengar asing. Kurang familier seperti madrasah-madrasah formal umumnya (MI, MTs dan MA) yang selevel dengan SD, SMP dan SMA. Maklum MDT biasanya berkemang pesat di daerah-daerah santri dan di daerah-daerah ternetu masih belum banyak.

Keberadaan MDT telah memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi pembangunan sumber daya manusia bangsa Indonesia. Terutama medidik moral, karakter dan akhlak al-karimah. Penanaman karakter selain diperankan di rumah juga telah diperankan secara baik pada lembaga pendidikan ini. Walisongo dan para ulama nusantara menjadi titik awal berdirinya pondok pesantren dan madrasah diniyah ini.

Selain itu, MDT juga berperan sangat penting membekali anak-anak usia Pendidikan Dasar dan Menengah dasar-dasar agama Islam. Di gedung yang sederhana, para santri diniyah dikenalkan ilmu-ilmu ke-Tuhanan (tauhid). Ibadah-ibadah praktis seperti berwudlu, sholat, puasa, zakat dan haji diajarkan. Terlebih dahulu dikenalkan dengan membaca dan menulis huruf Arab yang nantinya mejadi bekal mempelajari Al-Qran dan Hadits Nabi Muhammad saw.

Terpenting dari itu, MDT juga membekali para peserta didiknya dengan kecintaan kepada agama dan bangsa. Menanamkan komitmen keagamaan dan kebangsaan sekaligus sehingga kelak lulusannya menjadi orang-orang yang religius sekaligus mencitai bangsa dan negaranya. Bagi MDT antara agama dan negara tidak boleh terpisahkan dan bukan untuk dipertentangkan.

Berbeda dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang akhir-akhir ini muncul, kadang mengabaikan kecintaan kepada bangsa dan negara, dengan dalih Indonesia bukan negara Islam. Mereka ingin memutus rantai antara the founding father bangsa dengan ulama-ulama nusantara yang telah secara harmoni mendirikan negeri ini.

Khas Nusantara

Penyelenggaraan pendidikan pada MDT sangat unik, khas dan geniun nusantara. Pada awalnya dilaksanakan di masjid, mussholla dan rumah-rumah ustadz atau kyai. Sangat fleksibel dan dikelola oleh masyarakat secara mandiri, baik kelembagaan, pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, waktu pembelajaran, hingga pendanaannya.

Sejalan dengan waktu perkembangan MDT sangat pesat. Telah banyak berdiri di kota dan di desa gedung-gedung diniyah yang megah. Walau di bangun atas dasar kemandirian masyarakat, tidak enggantungkan pihak lain juga pemerintah. Kalaupun ada bantuan dari pemerintah jumlahnya masih sangat teratas jika dibaningkan dengan jumlah dan kebutuhannya.

Sampai saat ini EMIS Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, (2018/2019) mencatat ada 82.871 MDT yang tersebar di 34 provinsi, dengan jumlah santri 6.188.868 dan memiliki ustadz/guru 614.425 orang. Ini jumlah yang sangat besar yang menjadikan kebanggan masyarakat Indonesia dan tidak dimiliki oleh negara-negara muslim lainnya.

Tidak berlebihan jika dikatakan Madrasah Diniyah Takmiliyah adalah wajah Indonesia. Wajah Indonesia salah satunya ditentukan dari model dan langgam MDT sebagai tempat mendidik keagamaan anak-anak bangsa. Antara ke-Indonesiaan dan MDT telah menyatu dan menjadi spirit penting untuk memperkuat karakter (akhlak al-karimah).

Pendidikan khas nusantara ini berkembang sejalan dengan perkembangan pesantren sebagai warisan Walisongo penyebar dan pejuang Islam di nusantara. Antara Islam dan budaya lokal dapat berdamai dengan baik. MDT datang bukan membrangus budaya lokal yang ada justeru memperkuat dengan cara berasimiliasi secara apik.

Walisongo dan para ulama awal di nusantara adalah model terbaik bagaimana mereka mendidik, membina dan mengatur lembaga yang benar-benar akar dari masyarakat ini. Jauh sebelum kebijakan Sekolah Berbsis Masyarakat (SBM), MDT sudah lebih dulu mempraktekan apa yang disebut madrasah/sekolah berbasis masyarakat. Karena elemen-elemen pendidikan diniyah ditentukan sendiri oleh masyarakat, bukan oleh negara,

Menguatkan Pengabdian

Bagi saya keberadaan FKDT dari mulai Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), Dewan Pengurus Cabang (DPC) hingga Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) adalah sangat penting dan strategis. Tidak semata-mata sebagai wadah tetapi lebih penting dari itu adalah sebagai aspirasi dan advokasi bagi MDT.

Pada saat beberapa tahun yang lalu pemerintah akan memberlakukan kebijakan lima hari sekolah dengan dalih memperkuat pendidikan karakter, FKDT sangat efektif berperan menjadi penyambung lidah, katalisator bahkan advokasi atas keberatan MDT terhadap program lima hari sekolah itu. Karena dikhawatirkan akan mematikan MDT dengan kebijakan tersebut.

Hal lain yang tak kalah penting adalah bagaimana pemerintah mempunyai kemauan politik yang baik (political will) untuk memfasilitasi pendanaan bagi berkembangnya MDT. Diakui peran pemerintah masih sangat kecil memperhatikan madrasah ini. Belum sebanding dengan kontribusi MDT mencerdaskan anak-anak bangsa. FKDT harus mendorong agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk membiayai honorarium/bisyarah ustadz/ustadazh MDT dengan gaji yang layak. Pada saat yang sama para santri akan mendapatkan semacam Bantuan Operasional MDT (BOM).

Kehadiran negara untuk membangun fasililitas ruang-ruang kelas MDT yang layak juga menjadi ekspektasi para pengurus yayasan sekaligus pemberian Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) MDT. Dengan demikian FKDT sangat diperlukan dan ditunggu geliatnya menjadi katalisator antara MDT di satu sisi dan pemerintah di sisi lainnya.

Namun demikian kita patut memberikan apresiasi kepada Kementrian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Dit.Pdpontren) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, yang selama ini telah memberikan affirmasi sejumlah program untuk MDT. Walau dirasa masih belum layak, sebagai sebuah harapan yang semsetinya menjadi tanggungjawan direktorat ini.

Ada baiknya Direktorat yang menangani MDT harus konsen dan komitmen penuh pada pengembangan madrasah unik ini. Program-program lain yang kurang menyentuh pada hajat pendidikan keagamaan Islam seperti MDT bisa dikemudiankan. Jutaan santri dan ratusan ribu ustadz menunggu tangan-tangan dingin yang mempunyai komitmen yang tinggi pada nasib diniyah.

Sewindu berkhidmah harus dijadikan ikhtiar untuk berbenah bagi FKDT secara internal. Penguatan kelembagaan FKDT menjadi sangat penting. FKDT harus diperbanyak oleh sumber daya manusia (SDM) yang tidak saja mememahami seluk beluk diniyah dengan baik, tetapi juga orang yang berkomitmen tinggi pada lembaga yang masih memerlukan perjuangan dan pengorbanan.

Kesamaan paradigma, langkah dan langgam para pengurus dari DPP hingga DPAC harus sama dan padu. Loyalitas kepada pemimpin dan organisasi menjadi taruhannya, sehingga apapun kebijakan dan program yang digariskan menjadi efektif.

Terakhir mengabdi (khidmah) pada Madrasah Diniyah Takmiliyah menjadi sebuah kehormatan dan kebanggaan. Bukan menjadi beban bagi siapapun yang telah berniat berjuang mengembangkan madrasah diniyah. Kendatipun tidak mudah namun tetap harus dilakukan. Semoga catatan kecil ini bermanfaat bagi siapa saja yang merasa memiliki dan ingin mengembangkan MDT.

Selamat Hari Lahir FKDT yang ke-8 semoga makin jaya dan tambah bermanfaat untuk bangsa ini dan kemanusiaan secara global. Wallahu a’lam bi al-shawab.