Kemana Uang Donasi Peduli Covid-19 Mengalir?

Oleh: Fifit Umul Nayla

Belum ada satu menit, saya berdiskusi dengan teman yang menyampaikan keluhannya terkait tetangga dan mertuanya yang terkena dampak dari wabah Coronavirus (Covid-19) di Indonesia, khususnya yang menyangkut sektor ekonomi keluarganya. Dampak ekonomi memang lebih parah dirasakan ketimbang dampak kesehatan yang dialami oleh para korban.

Di Jakarta misalnya, dampak ekonomi tidak hanya harus ditanggung oleh orang-orang yang berada di kelas menengah bawah. Bahkan para pengusaha Tanah Air pun cukup pusing menghadapi wabah Covid-19. Omset mereka menurun drastis antara 70 hingga 95 persen. Mereka juga pusing memikirkan bagaimana menggaji karyawan, belum lagi bulan depan Tunjangan Hari Raya (THR) juga harus dibayarkan.

Memang, kenaifan kita selalu ingin bilang, lebih baik dampak ekonomi yang melanda ketimbang dampak kesehatan. Tapi mungkinkah kita sempat berfikir, bahwa bukan virus yang akan membunuh masyarakat, tetapi karena lapar dan dihantui rasa ketakutan itu yang lebih membahayakan?

Sebagaimana yang dikatakan orang India, mereka takut lapar akan membunuhnya lebih dulu ketimbang Corona. Hal inilah yang dikhawatirkan oleh orang-orang Indonesia, khususnya masyarakat kelas ekonomi menengah bawah. Bukan, ini bukan karena mereka tidak takut penyakit, bukan juga karena mereka kebal dengan virus, tapi begitulah kondisi yang ada.

Rasanya memang tidak adil dan sangat menyakitkan, ketika sebut saja orang miskin “tertuduh” oleh jubir Presiden dalam penanganan virus Corona, bahwa mereka dilarang menularkan penyakit ke si Kaya. Padahal semestinya, kata-kata ini tidak layak untuk diucapkan seorang jubir Presiden, karena sejatinya mereka pun takut dengan Corona. Penyakit ini juga tidak tumbuh dan berkembang oleh si Miskin. Justru penyakit ini terbawa oleh mereka orang-orang Kaya yang sehari bisa makan di 3 negara, lalu kemudian kembali ke Indonesia untuk istirahat.

Alih-alih karena takut lapar akan lebih dulu membunuhnya ketimbang corona, maka mereka juga terpaksa tetap harus bekerja dan meninggalkan rumah. Mungkin seperti harus memakan buah simalakama, bingung, tak tahu harus bagaiamana. Itulah yang difikirkan oleh para pekerja harian lepas seperti tukang ojek online, kuli, tukang penjual sayur keliling, sopir angkot dan para pejuang nafkah lainnya. Jika mereka tidak bekerja ke luar rumah, bagaimana keluarganya bisa makan dan bayar sekolah? Namun jika mengikuti imbauan pemerintah, mungkinkah mereka terjamin tidak akan kelaparan dan bisa hidup seperti hari-hari biasanya?

Kebijakan pemerintah memang selalu mengundang kritik. Bagaimana mungkin orang yang menggantungkan harapan hidup dengan gaji hariannya itu kemudian dilarang bekerja tanpa solusi? Janji pemerintah memberikan subsidi dan bantuan khusus nyatanya hanya menjadi cerita fiktif belaka. Tidak bisa diharapkan dan tidak akan lagi mereka mengharapkan. Akhirnya, para pejuang nafkah ini memilih untuk tidak #dirumahaja demi keluarganya tetap bisa hidup seperti biasanya.

Dana milyaran yang digelontorkan pemerintah kepada mereka yang bekerja sebagai driver ojek online, pekerja harian lepas dan lainnya, nyatanya sampai sekarang belum sampai ke tangan mereka yang berhak. Mereka masih harus bekerja keras. Belum lagi para keluarga korban yang meninggal. Mereka yang dirundung duka, mereka yang hidup ala kadarnya, mereka juga yang harus menerima sanksi sosial dijauhi tetangga, tapi mereka masih tetap saja tidak diberi bantuan juga. Sebenarnya, kemanakah dana bantuan itu dialihkan?

Belum lagi adanya banyak lembaga sosial yang membuka program donasi habis-habisan dengan menggaet beberapa artis dan juga beberapa orang yang berpengaruh di negeri ini. Dengan tagline #bersamalawancorona, seolah mereka saling bahu-membahu untuk membantu yang tak mampu. Namun nyatanya, uang yang terkumpul puluhan milliar, bahkan bisa jadi sampai ratusan milliar itu, lagi-lagi tidak terdeteksi kemana mengalirnya? Berapa sih harga APD yang dibutuhkan para tim medis? Berapa kilogram beras sih yang dibutuhkan setiap orang di Jakarta ini? Mana dan kemana uang itu mengalir?

Apakah Covid-19 ini hanya menjadi trend saja di kalangan artis dan mereka yang ingin memanipulasi kebaikan atas nama kemanusiaaan? Atau memang ada uang donasinya, namun hanya saja belum mau menyalurkan? Jangan sampai kita mendengar celetukan “sumbangan banyak tapi tidak sampai ke bawah”. Sebab itu artinya yang diatas sedang mempermainkan yang dibawah. Lalu siapakah yang diatas itu?

Akhir kata, semoga niat baik saudara, baik pemerintah maupun artis-artis ternama, baik Lembaga zakat maupun Lembaga kemanusiaaan lainnya, bisa disalurkan dengan baik dan tidak malah disalahgunakan. Bisa dialirkan kepada mereka yang membutuhkan dan tepat sasaran.

*Penulis merupakan aktivis dan Mahasiswa Pascasarjana Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta