NASIONAL

Soal Polemik Pernyataan Achmad Yurianto, Ini Kata Pakar Komunikasi

MONITOR, Jakarta – Penggalan pernyataan juru bicara pemerintah untuk penanganan dan penanggulangan wabah covid-19 Achmad Yurianto (AY) pada Sabtu (28/3/2020) yang menyinggung kelompok sosial masyarakat miskin terus menuai polemik di masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, pakar komunikasi politik Emrus Sihombing mengatakan apa yang terjadi dengan AY sejatinya dapat dimaklumi karena beban kerja dan tanggungjawabnya yang besar sebagai salah satu nahkoda pananganan covid-19.

“Apa jadinya ketika juru bicara (jubir) bukan seorang komunikolog? Pertanyaan setara, apa jadinya ketika menteri kesehatan dari seorang komunikolog. Jawabanya sederhana, kurang produktif melaksanakan tugasnya. Itulah yang terjadi ketika seorang ditempatkan pada posisi yang tidak lenear dengan kompetensinya,” kata Emrus melalui keterangan tertulisnya. Minggu (29/3/2020).

Menurut Emrus, dari aspek Ilmu Komunikasi, dalam menyampaikan penggalan isi pesan tersebut ke ruang publik, AY tampak belum punya cukup waktu mempertimbangkan aspek aksiologinya. Namun hal tersebut menurut direktur eksekutif EmrusCorner itu dapat dimaklumi karena AY memikul beban tugas yang sangat luar biasa dan komplek. Selain jubir, ia juga Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kemenkes.

“Oleh karena itu, dari sudut kompetensi dan jabatanya, sejatinya AY menjadi salah satu “nakoda” penanganan penyebaran dan dampak covid-19 dari aspek virologi,” kata Emrus.

Bila merujuk kepada keseluruhan narasinya, Emrus mengatakan AY ingin menyampaikan makna agar tumbuh kebersamaan, gotong-royong dan saling membatu menghalau penyebaran dan menangani dampak covid-19 di tengah masyarakat. “Tetapi bisa saja AY kurang menyadari muncul sebuah kalimat yang menyertai yaitu. “… yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya” terang Emrus.

Memang bila hanya penggalan pesan yang dimaknai, maka seolah kelompok masyarakat tertentu diposisikan sebagai yang menularkan penyakit. Ketika mengatakan itu, AY telah masuk rana interaksi sosial yang bukan bidang utamanya. Sebab, konsep interaksi sosial ada dalam kajian Sosiologi dan Ilmu Komunikasi.

“Memang bila hanya merujuk pada penggalan isi pesan yang disampaikan AY, maka kalimat terebut tampak kurang tepat dan boleh jadi juga kurang bijak. Tampak kurang tepat, karena penyebaran covid-19 bisa dari siapa kepada siapa, yang sama sekali tidak mengenal kelas sosial ekonomi. Selain itu, virus ini tidak memiliki pikiran dan perasaan sehingga tidak bisa memilih siapa yang menjadi korbannya,” ungkapnya.

“Boleh jadi kurang bijak. Pesan ini memosisikan adanya relasi sosial yang kurang setara. Yang satu berada superior, yang lain inferior. Dikotomi senacam itu tidak begitu linear dengan tatanan negara demokrasi, seperti di Indonesia,” tambahnya.

Selain itu, Emrus menegaskan dari aspek manajemen Sumber Daya Manusia, penempatan seseorang pada jabatan dan fungsi tertentu, sejatinya berdasarkan kompetensi keilmuan. Artinya, jubir merupakan profesi komunikasi dan bagian dari kajian Ilmu Komunikasi. Jadi, jubir itu sejatinya dari seorang komunikolog.

“Oleh karena itu, dalam penanganan covid-19, AY sebaiknya diposisikan sebagai salah satu “nakoda”, ahli dan rekan sekerja jubir penanganan covid-19. Ketika menyangkut teknis dan akademik terkait dengan Covid-19, misalnya, AY yang menjelaskan. Murni dari aspek keilmuan. Di luar itu, yang sifatnya makro, kebijakan, dan aspek sosial lainnya, maka jubir yang berlatarbelakang Ilmu Komunikasi menyampaikannya,” pungkasnya.

Recent Posts

Menteri UMKM Apresiasi KURDA Bunga 0 Persen untuk Pengusaha UMKM Sragen

MONITOR, Sragen — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, Maman Abdurrahman, mengapresiasi langkah Pemerintah…

31 menit yang lalu

Kemenag Buka Pendaftaran Calon Anggota Majelis Masyayikh 2026–2031, Pesantren Diminta Ajukan Tokoh Terbaik

MONITOR, Jakarta — Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) resmi membuka pendaftaran…

43 menit yang lalu

Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah

MONITOR, Makkah — Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut pengelolaan pembayaran dam…

53 menit yang lalu

Wamen Fajar: Semangat Harkitnas Jadi Ruh dalam Kebijakan Pendidikan Presiden Prabowo

MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq menegaskan bahwa semangat…

1 jam yang lalu

Rektor UIN Jakarta : Harkitnas 2026 Momentum Kebangkitan SDM, Inovasi dan Kemandirian Bangsa

MONITOR, Jakarta - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 harus dimaknai bukan sekadar seremoni historis…

3 jam yang lalu

Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna, Jemaah Diminta Disiplin Jadwal dan Hemat Tenaga

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah mematangkan skema pergerakan jemaah pada fase puncak haji…

13 jam yang lalu