Minggu, 2 Oktober, 2022

COVID-19 dan Bayang-bayang Resesi Ekonomi

Oleh: Dimas Dwi Pratikno

Virus corona atau lebih dikenal dengan nama ilmiah covid-19 merupakan virus yang menarik perhatian dunia saat ini. Penyebaran virus ini sangat cepat hingga menimbulkan banyak korban jiwa.

Berawal ditemukan kasus pertama kali di Tiongkok tak sampai satu bulan virus ini sampai ke Indonesia. Pertanggal 13 maret 2020 jumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona di Indonesia mencapai 69 kasus, lima di antaranya dinyatakan sembuh dan empat dinyatakan meninggal dunia.

Begitu hebohnya virus ini, sehingga diperlukan penanganan yang cukup serius. Setidaknya terdapat dua cara dalam mengantisipasi penyebaran virus corona. Pertama, social distancing yaitu menjaga jarak dari aktivitas sosial dengan mengerjakan semua pekerjaan dirumah. Kedua, lockdown dengan menutup seluruh akses lalu lintas barang dan jasa di suatu daerah.

Kedua cara tersebut dianggap mampu mengantisipasi laju penyebaran virus corona, namun dampaknya sangat dilematis bagi perekonomian. Lalu lintas barang dan jasa yang terhambat akan turut menyebabkan perlambatan ekonomi dan sejalan dengan itu perlambatan produktivitas juga akan menurun.

Jika dilihat lebih dalam, sektor riil akan mendapat “pukulan” paling nyata. Pariwisata misalnya, potensi pendapatan devisa dari kunjungan wisatawan pasti akan menyusut, sekaligus berdampak pada industri turunannya seperti jasa perhotelan dan penginapan, jasa transportasi baik udara, laut maupun darat, industri makanan dan minuman, kerajinan, hingga UMKM.

- Advertisement -

Selain itu, terhambatnya aktivitas sosial turut menyumbang sentimen negatif terhadap konsumsi di dalam negeri. Hal ini membuat masyarakat menahan uangnya untuk dibelanjakan dan merupakan “sinyal kuning” bagi akselerasi perusahaan ke pasar. Kemungkinan lain kredit perbankan juga akan melambat pertumbuhannya.

Sentiment negatif ini sangat berbahaya, oleh karena itu mitigasinya perlu disiapkan agar tidak berlarut-larut dan meluas.

Jika tidak? Volume perdagangan akan mengecil, impor setidaknya akan tertahan begitu juga dengan ekspor. Begitu ekspor tertahan, mayoritas petani akan menurun pendapatannya karena sebagian besar ekspor Indonesia merupakan komoditas pertanian dan perkebunan.

Dengan resiko tersebut memberikan tanda bahwa perlambatan ekonomi akan terjadi. Lembaga internasional maupun dalam negeri banyak yang memprediksi hal itu. Moody’s Investor Service memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 4,8 persen.

INDEF juga turut memprediksi di angka 4,5 persen atau berbeda hanya 0,2 persen. Prediksi yang telah dilakukan lembaga-lembaga tersebut lebih kecil dari pertumbuhan yang dicatatkan tahun kemarin sebesar 5,02 persen.

Faktor dalam negeri cukup membuat ekonomi Indonesia kesulitan untuk tumbuh. Faktor global juga turut memperparah keadaan ini, mengingat perdagangan Indonesia yang sebagian besar berkaitan dengan Amerika dan Tiongkok.

Kedua Negara tersebut tak luput dari prediksi bahwa akan menghadapi perlambatan ekonomi pula. Resiko-resiko ekonomi ini perlu diantisipasi dengan matang agar perlambatan ekonomi yang diprediksi tersebut tidak lebih buruk menjadi resesi.

Lain sisi, dengan mengecilnya volume perdagangan dunia memberikan celah Indonesia untuk membangun kemandirian ekonominya. Maka ini bisa jadi ajang tampilnya produk-produk lokal yang kalah bersaing dengan produk impor Tiongkok yang lebih murah harganya.

Pemerintah harus mendorong pemakaian produk-produk lokal ini dengan memberikan insentif fiskal yang tepat.

Bonus demografi, kemiskinan, ketimpangan masih menjadi indikator keberhasilan pemerintah membangunan ekonomi. Jangan sampai bayang-bayang resesi yang tengah dihadapi ini justru memperparah keadaan tersebut.

Virus corona memang membawa berbagai dampak permasalahan yang harus ditanggapi dengan serius, namun tidak boleh juga menatapnya dengan penuh pesimisme. Ibarat peribahasa “lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan”, sama artinya dengan mulai memperbaiki dan menatap ekonomi kedepan dibanding menyalahkan keadaan ini.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Lampung, saat ini aktif dan sedang menjabat Badan Pengawas dan Konsultasi Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia.


- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER