Gus Sholah Tutup Usia, Bamsoet: Beliau Akan Dikenang sebagai Negarawan Gigih

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (dok: instagram Bamsoet)

MONITOR, Jakarta – Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyampaikan duka mendalam atas wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, Minggu (2/2) malam di rumah sakit (RS) Harapan Kita Jakarta.

Almarhum Gus Sholah, sambung dia, akan selalu dikenang sebagai negarawan yang gigih menjaga dan merawat persatuan bangsa.

“Saya dan segenap keluarga besar MPR sangat berduka atas wafatnya Gus Sholah. Almarhum tidak hanya dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang. Lebih dari itu, almarhum sudah menjadi tokoh panutan, karena Gus Sholah selalu berbicara dan bekerja demi persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Bamsoet, di Jakarta, Senin (3/2).

“Almarhum pun selalu berbicara dan bekerja demi terwujudnya persatuan umat beragama,” tambahnya.

Maka, bukan hanya segenap keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) yang merasa kehilangan karena berpulangnya Gus Sholah. Para sahabat almarhum dari berbagai kalangan dan komunitas lainnya pun merasakan kehilangan, termasuk Partai Golkar.

Nama almarhum, imbuhnya, tidak akan pernah hilang dari catatan Partai Golkar. Sebab, pada pemilihan presiden tahun 2004, Partai Golkar meminang Gus Sholah sebagai calon wakil presiden untuk disandingkan dengan calon presiden Wiranto.

Begitu juga dengan kami, para inisiator Hak Angket Kasus Bank Century DPR ketika itu yang kerap berdiskusi dengan Gus Sholah hingga kasus ini masuk ke pengadilan.

Jangan lupa, lanjut Bamsoet, selama hidupnya, Gus Sholah sering menerima dan menampung keluh kesah dari beragam kalangan. Itu sebabnya, banyak komunitas menjadikan almarhum Gus Sholah sebagai sosok pejuang martabat kemanusiaan. Dan, almarhum melakoni peran itu tanpa pamrih.

“Dia menyuarakan berbagai persoalan melalui sejumlah tulisan yang dipublikasikan, serta tak segan menyampaikan kritik yang konstruktif,” pungkasnya.