Program Kostraling Diharapkan Jadi Solusi Petani Hadapi Panen Raya

Ilustrasi: Panen Raya Padi

MONITOR, Jakarta – Rendahnya harga menjadi momok yang menagkutkan bagi petani, terlebih itu kerap terjadi pada saat puncak musim panen tiba. Maka dari itu dalam situasi puncak panen raya perlu upaya pengendalian penyediaan beras agar tidak terjadi gejolak harga yang signifikan.

Dalam hal ini penggilingan padi sangat berperan dengan membeli gabah dari Poktan/Gapoktan sesuai HPP, untuk disimpan dan digiling serta di jual dengan kualitas standart.

Solusinya, Kementerian Pertanian (Kementan) membuat program memberdayakan penggilingan padi terutama skala kecil-menengah dalam upaya menyediakan beras pada waktu yang tepat dan kualitas standar. Program Komando Strategi Penggilingan Padi atau disebut sebagai KOSTRALING dicanangkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di Jakarta beberapa waktu lalu sebagai wujud campur tangan pemerintah melindungi petani.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan kostraling akan menggandeng lembaga pembiayaan melalui bantuan akses permodalan diantaranya dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari beberapa Bank (pemerintah) dan Lembaga Keuangan lainnya dengan suku bunga rendah dan syarat ringan tanpa agunan.

“Kita tidak bekerja sendiri, ada beberapa pihak yang berkontribusi dalam Kostraling tersebut. Ada Pemerintah, Penggilingan Padi Kecil-Sedang, Bank atau Badan Layanan Umum, serta pengusaha sebagai penjamin pasar,” ujar Suwandi.

Senada dengan apa yang disampaikan Dirjen Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati Direktur Pengolahan dan pemasaran Hasil Tanaman Pangan menyatakan Kostraling sebagai bentuk perhatian Pemerintah terhadap usaha penggilingan padi baik yang dikelola oleh kelompok tani maupun kelompok usaha bersama.

“Faktanya, sampai saat ini Pemerintah terus membantu petani pengelola penggilingan dan pengeringan padi. Kami fasilitasi alat pengering dan alat penggilingan padi. Tujuannya tentu supaya petani bisa meningkatkan kualitas produknya dan sekaligus memperoleh harga yang lebih baik,” ujar Gatut

Diakui Gatut kualitas beras memang lebih banyak dipengaruhi oleh penanganan pascapanen termasuk yang dilakukan dengan alat penggiling atau Rice Miling Unit (RMU) maupun dengan alat pengering atau Dryer.

“Penggilingan dan pengeringan inilah yang lebih banyak dikelola oleh pengusaha penggilingan. Namun begitu biasanya mereka juga merangkap atau bekerjasama dengan petani/poktan/gapoktan,” jelas Gatut.

Perlu diketahui jumlah usaha penggilingan padi di Indonesia sebanyak 182.199 unit terdiri dari Penggilingan Padi Besar sejumlah 2.075 unit, Penggilingan Padi Sedang 8.628 unit dan Penggilingan Padi Kecil 169.044 unit (BPS, 2012). Dalam hal ini, bantuan pemerintah dialokasikan secara selektif sehingga tepat sasaran. karena keterbatasan alokasi anggaran pemerintah tidak dapat menjangkau semua petani pengusaha penggilingan maka diajak serta semua pihak yang terkait dengan penyediaan pinjaman modal untuk berperan.

“Ini sebagai program pemerintah meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan kelompok tani / penggilingan padi, dengan demikian penggunaan dana APBN akan lebih efisien, di sisi lain, roda perekonomian tetap berjalan dengan baik,” pungkas Gatut.